Nasabah Bank Mandiri Keluhkan Intimidasi dan Pengancaman oleh Oknum Staf

Penyegelan terhadap rumah Elis, warga Kelurahan Karang Asem Timur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor (dok. KM)
Penyegelan terhadap rumah Elis, warga Kelurahan Karang Asem Timur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor (dok. KM)

BOGOR (KM) – Kasus penyitaan aset nasabah bank secara sepihak kembali terjadi di Bogor. Kali ini dialami oleh seorang nasabah Bank Mandiri yang tidak terima rumah tempat tinggalnya dipasangi stiker lelang oleh oknum staf Srikandi Cluster Mandiri.

Peristiwa itu terjadi kepada nasabah Bank Mandiri, Elis Sufriani Yusuf, yang beralamat di Gg. Nangka RT 004/001 Kel. Karang Asem Timur Kec. Citeureup, yang diduga dilakukan oleh seorang oknum staf Srikandi Cluster Mandiri Cabang Kota Bogor yang bernama Reza.

Reza diduga telah mengancam dan mengintimidasi Elis akibat tunggakan tagihan yang belum dipenuhi Elis. Menurut informasi dari Elis, sejak bulan Oktober 2018 rumahnya ditempeli stiker lelang dari Bank Mandiri tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“SP1, SP2, SP3 sama sekali belum pernah terima, bahkan pemanggilanpun belum pernah terdengar, saya tidak terima rumah saya dinyatakan dilelang tanpa konfirmasi sebelumnya kepada saya,” keluh Elis.

“Prosedur teguran dan panggilan dari bank belum pernah saya terima, masa iya dengan tunggakan pokok pinjaman Rp. 21.900.000 rumah saya disita? Saya malu sama tetangga, padahal sebelum plang sita terpampang dirumah saya, saya sudah bayar Rp15 juta, dasar gak punya hati dan prikemanusiaan,” ketus Elis.

“Apakah bank sekejam itu kepada nasabahnya, belum lagi teror lewat telepon dari bu Reza dengan kata-kata kasar. ‘Keluar kalian dari rumah milik aset Bank Mandiri, kosongkan segera, kalian enak ya makan, tidur, berak di aset Bank Mandiri. Samanya dengan suaminya tuh tukang ngibul,’ itu dari mulut Reza langsung,” terang Elis dengan geram kepada KM.

Sebelumnya, Elis sempat ditawarkan top up dari pinjaman KUM sebesar Rp100 juta, lalu ditawarkan lagi Rp100 juta dengan jaminan AJB dan peningkatan ke Sertipikat akan diurus oleh pihak bank dengan biaya Rp 13 juta. “Namun sampai detik ini sertifikat tidak diperlihatkan keasliannya, akad kredit notarispun tidak dilakukan,” papar Elis.

Elis juga mengatakan jika Top Up yang diajukannya tidak di ACC dengan alasan selalu telat setor, padahal menurut Elis dirinya selalu tepat waktu membayar tiap tanggal 3 di awal bulan namun oknum MKS Edi telat menyetorkannya ke bank di tanggal 31 akhir bulan sehingga data Elis berada di garis merah.

Dari hasil konfirmasi dengan pimpinan Cluster Mandiri, Ahmad menyatakan bahwa pihaknya menangani semua nasabah Bank Mandiri yang bermasalah hasil data lemparan dari cabang.

“Terlepas berapapun tunggakannya, walaupun hanya Rp1 juta, Kami harus eksekusi sita aset nasabah,” tegas Ahmad. Mendengar pengakuan Ahmad yang tanpa didasari pemanggilan dan proses sidang, Elis langsung mengadukan hal tersebut kepada pihak Polres Kabupaten Bogor.

Elis berharap kepada pihak Bank Mandiri agar lebih memberikan pelayanan dan kenyamanan kepada nasabahnya. “Tentunya didasari dengan pendidikan, pelatihan juga arahan baik kepada karyawan banknya itu sendiri agar tidak merusak citra Bank,” pungkasnya.

Reporter: Eva
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*