Pawai Obor Hari Santri Nasional di Purbalingga Diikuti Ribuan Santri

Pasi Ops Kodim 0702/Purbalingga dan seluruh Forkompimda turut serta dalam kegiatan pawai obor dalam rangka Hari Santri Nasional 21/10/2018
Pasi Ops Kodim 0702/Purbalingga dan seluruh Forkompimda turut serta dalam kegiatan pawai obor dalam rangka Hari Santri Nasional 21/10/2018

PURBALINGGA (KM) – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2018 menggema di mana-mana, tak terkecuali di wilayah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Forkompimda Kabupaten Purbalingga beserta ribuan santri di wilayah Purbalingga melaksanakan istighotsah dan pawai obor, Minggu 21/10.

Sebelumnya, rangkaian peringatan Hari Santri Nasional di Purbalingga sudah diawali dengan sholawat, dzikir, doa dan tausiyah yang dipandu 30 mubaligh pada Sabtu 20/10. Sholawat diiringi kelompok musik Arabian Aljazera Cirebon.

Di hari kedua, Pemerintah Kabupaten Purbalingga mengadakan kegiatan pawai obor yang dimulai dari alun-alun Purbalingga dan finish di GOR Goentoer Djarjono Purbalingga. Pawai diikuti oleh ribuan santri dan pengasuh pondok pesantren di seluruh wilayah Kabupaten Purbalingga serta masyarakat.

Sebelum dimulainya kegiatan tersebut Plt Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi saat menyampaikan sambutannya mengatakan, dahulu santri berangkat mengaji dengan penerangan obor. “Pawai obor ini untuk mengenang santri zaman dulu yang sekarang meneruskan ilmunya kepada santri zaman milenia,” tuturnya.

Pasi Ops Kodim 0702/Purbalingga Kapten Arm Mindoko yang turut serta hadir dalam kegiatan pawai obor bersama seluruh Forkompimda menjelaskan kegiatan ini dihelat dalam beberapa kegiatan yaitu di mulai dengan do’a bersama kemudian dilanjutkan pawai obor dan upacara hari santri.

Advertisement

“Kegiatan yang sudah menjadi program rutin pemerintah Purbalingga ini sekaligus sebagai wujud untuk mensyiarkan kepada generasi muda untuk bersama sama berjuang seperti yang dicerminkan oleh para pahlawan pejuang, bersama para santri dan ulama yang terbukti dan konsisten membina moralitas umat dan berjuang merebut kemerdekaan,” kata Mindoko.

Kapten Mindoko juga menjelaskan, kegiatan ini adalah “bentuk kecintaan” kepada santri dan ulama.

“Dahulu, wasilah resolusi jihad NU (Nahdatul Ulama) menjadi semangat juang kaum sarungan mempertahankan Negara Republik Indonesia. Resolusi digelorakan, banyak para santri meregang nyawa demi satu mimpi Indonesia bebas dari penjajah. Sudah sepantasnya, bangsa Indonesia menghargai jasa para syuhada dengan menggelorakan syiar santri dan pesantren kepada masyarakat dan umat,” ajaknya.

Reporter: Marsono
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: