Pengamat: “Angkot di Kota Bogor Sudah Terlalu Banyak, Angkot Modern Bukan Solusi”

Dosen Universitas Pakuan Bogor, Trifty Qurrota Aini (dok. KM)
Dosen Universitas Pakuan Bogor, Trifty Qurrota Aini (dok. KM)

BOGOR (KM) – Angkot modern yang diluncurkan Koperasi Duta Jasa Angkutan Mandiri (Kodjari) di Kota Bogor akhir pekan lalu diniatkan sebagai langkah pembenahan terhadap dunia usaha angkutan umum. Namun hal tersebut mendapat tanggapan pesimis dari sebagian pengamat, diantaranya dosen mata kuliah “opini publik” di Universitas Pakuan, Trifty Qurrota Aini.

Menurut Trifty, dirinya tidak menyetujui dengan peluncuran angkot modern, karena masalahnya, angkot-angkot sebelumnya sudah menyebabkan kemacetan di Kota Bogor.

“Permasalahan di Kota Bogor adalah jumlah angkot terkadang itu lebih banyak dari jumlah warganya sendiri. Jadi, itulah yang menyebabkan kemacetan, bahkan kalau kita ada kemacetan angkotnya masih pada kosong. Mungkin angkotnya terlalu banyak di Bogor,” kata Trifty saat ditemui di kampus Universitas Pakuan Bogor, Jumat (14/9/2018).

Kata Trifty, ini sudah terlalu banyak, dan ini akan ditambahkan lagi kemudian akan tambah banyak, menurutnya akan menambah kemacetan. Jadi dirinya sendiri kurang setuju dengan peluncuran angkot modern, lebih baik angkot yang sudah ada dimaksimalkan saja fungsinya dengan baik.

“Masalahnya adalah jumlah angkot terlalu banyak dibandingkan kebutuhan yang seharusnya, sehingga tidak efiesien. Untuk apa menambah sesuatu yang tidak berdampak terlalu signifikan terhadap perkembangan atau kebaikan masyarakat,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, peluncuran angkot modern menurutnya akan menimbulkan persaingan dari para pengusaha transportasi.

“Keberadaan ojek online saja itu sudah menambah persaingan di kalangan para pengemudi. Dengan penambahan lagi, saya rasa akan menambah persaingan dan menurut saya sangat tidak efektif,” pungkasnya.

Reporter: ddy, RIO
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*