Ribuan Masyarakat Adat Kasepuhan Cisungsang Gelar Ritual Tahunan “Seren Taun 2018”

Upacara adat
Upacara adat "Seren Taun" Kasepuhan Cisungsang di Lebak, Banten, Minggu 5/8/2018 (dok. KM)

LEBAK, BANTEN (KM) – Kasepuhan Cisungsang memperingati Seren Taun 2018 di Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, dengan tema “tak tak ulah ngaluluhuran sirah, sing inget kana purwaraksi“.

Acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat pemerintahan dan ribuan warga dari beberapa wilayah, serta Dirjen Kehutanan dan Perlindungan Pariwisata Bambang Supriatna, perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Banten, Wakapolres Lebak Kompol Asep Saipudin Juhri, Kapolsek Lebak Tatang Warsita dan pelawak ternama Miing, Minggu (5/8).

Seren Taun adalah ritual tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang sebagai penanda berakhirnya proses Ngamumule Pare atau merawat dan memanen padi, dan Makaya, yaitu aktivitas satu tahun. Acara tersebut juga sebagai kesempatan bersilaturahim semua anggota masyarakat adat dengan Abah Usep (Ketua Adat) dan pemerintah.

Secara umum ada dua kegiatan budaya yang melibatkan ribuan masyarakat adat dan pemerintah. Pertama, Seba Baduy. Dalam ritual ini, semua masyarakat adat Baduy, yang laki-laki mendatangi dan menghadap Bapa Gede atau pihak Pemerintah. Melalui interaksi budaya ini, dapat dilihat bahwa komunikasi yang dilakukan adalah masyarakat adat yang mendatangi pemerintah untuk menyampaikan semua permasalahan dan harapanya. Jadi masyarakat adat bertamu, menghadap pemerintah dan ritual Seba Baduy dilaksanakan di luar wilayah adat Baduy.

Kedua, yaitu ritual yang dilaksanakan di dalam wilayah adat masyarakat Kasepuhan, artinya, pemerintah yang bertamu ke masyarakat adat. Kebalikannya dari Seba Baduy, dimana masyarakat adat Kasepuhan yang mengundang pemerintah untuk menghadiri Seren Taun, dan dalam acara tersebut masyarakat menyampaikan semua permasalahan dan harapanya.

Seren Taun Cisungsang 2018, mengambil tema Tak Tak Ulah Ngaluluhuran Sirah, Sing Inget Kana Purwadaksi, yang artinya “pundak jangan melebihi kepala, harus ingat dengan ketentuan.”

Purwadaksi berasal dari bahasa Sansekerta, dimaknai sebagai tempat asal, yakni sebagai kelompok masyarakat yang menghormati tradisi leluhur. Makna “Tak tak ulah ngaluhuran sirah, sing inget kana purwadaksi” diartikan sebagai manusia makhluk ciptaan Allah SWT diharuskan mengingat asal muasal kehidupan.

“Jangan sampai terjadi Poho mana wetan, poho mana kidul makna lainnya sebagai manusia ada yang dilahirkan duluan dan ada yang belakangan, hal ini melahirkan sifat menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda,” ujar Abah Usep.

Reporter : Budi/oman
Editor : HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*