KUPAS KOLOM: Devisa Negara Terkuras, Impor Dihentikan, Infrastruktur Terancam Mangkrak

Presiden Joko Widodo di Rapat Kerja Kementerian Perdagangan tahun 2018 di Istana Negara, Jakarta Rabu 31/1 (dok. KM)
Presiden Joko Widodo di Rapat Kerja Kementerian Perdagangan tahun 2018 di Istana Negara, Jakarta Rabu 31/1 (dok. KM)

Oleh Adri Zulpianto, S.H.
Koord. ALASKA (Aliansi Lembaga Analisis Kebijakan dan Anggaran)

Besar pasak daripada tiang! Begitulah situasi negara saat ini. Infrastruktur terancam mangkrak, setelah Jokowi mengevaluasi pembangunan infrastruktur yang menguras uang negara karena bahan baku yang diimpor, sehingga akan mengakibatkan terkurasnya devisa negara akibat besarnya belanja negara terhadap bahan baku infrastruktur dan beban hutang negara, sedangkan nilai ekspor tidak mampu mengantisipasi ancaman defisitnya devisa negara.

Alaska (Aliansi Lembaga Analisis Kebijakan dan Anggaran) yang terdiri dari Lembaga Kaki Publik dan Lembaga CBA (Center for Budget Analysis), menilai bahwa setelah pengerjaan infrastruktur dievaluasi Jokowi di tengah ancaman defisitnya devisa negara, yang terus mengalami tren negatif di semester pertama tahun 2018, hal tersebut mendorong Jokowi untuk menghentikan impor dalam negeri.

Selain itu, kebijakan tersebut kemudian dijalankan untuk memilah bahkan menghentikan beban impor bahan baku pembangunan infrastruktur dan impor hal lain di dalam negeri adalah kepanikan pemerintah atas ulahnya.

Pemberhentian terhadap impor bahan baku pembangunan infrastruktur jelas akan mengancam pembangunan infrastruktur itu sendiri, karena sebagian besar bahan baku masih diimport dari luar negeri.

Alaska menilai, jika import bahan baku dibatasi, maka pembangunan infrastruktur akan mangkrak, dan mundur dari target penyelesaian.

Mundurnya target penyelesaian pembangunan infrastruktur jelas akan membebani biaya pengerjaan. Untuk menanggulangi biaya pengerjaan tersebut, mau tidak mau pemerintah akan memberhentikan pembangunan infrastruktur menunggu hingga dolar kembali stabil, atau menunggu sampai devisa negara mampu kembali meroket.

Selain itu, negara tidak cukup siap untuk melakukan ekspor guna menekan trend negatif devisa negara. Karena sedikitnya pangsa pasar dalam negeri yang mampu melakukan ekspor.

Yang perlu diperhatikan sejauh ini, pengusaha sudah banyak yang gulung tikar karena ketidakstabilan ekonomi dunia. Apabila keadaan tersebut ditambah dengan pembatasan impor, maka industri yang membutuhkan bahan baku dari luar negeri pun akan menjadikan kondisi industri dalam negeri tambah nelangsa.

Melemahnya industri dalam negeri akan membuat para pembeli untuk memilih menabungkan uangnya di bank, ketimbang belanja di tengah pusaran dolar yang terus beranjak naik.

Kendati demikian, Alaska menilai bahwa kebijakan penghentian impor akan menguntungkan negara, karena dolar akan digiring masuk ke dalam negara Indonesia melalui ekspor, tapi resikonya dalam negeri adalah melemahnya industri dalam negeri.

Sehingga, infrastruktur kemudian terabaikan, dan pemerintah akan fokus untuk menarik dolar ke dalam negeri guna menutup semua kerugian yang timbul akibat pembatasan impor. PLN misalnya, kerugian akan meroket karena batubara yang mengalami perubahan harga demi menggenjot ekspor.

 

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*