KPAI Gandeng Young Lex dan Surya Film, Kampanyekan “Stop Bullying”

 Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menyampaikan pemaparan tentang
 Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menyampaikan pemaparan tentang "bullying" di depan para siswa-siswi di Jakarta (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Di era digital seperti saat ini, media sosial dan gadget merupakan keseharian anak muda, bahkan banyak anak-anak yang masih berusia Sekolah Dasar (SD) sudah aktif di media sosial dan berselancar dengan gadget nya. Sayangnya di dunia maya, banyak orang dewasa yang menunjukkan perilaku menebar kebencian dan melakukan bullying perundungan di dunia maya secara masif, sehingga dengan cepat ditiru oleh anak-anak yang memiliki akun di media sosial dan menjadi pengguna aktif. Menurut penelitian KPAI, 70% perilaku anak adalah meniru.

Jumlah kasus terkait dunia pendidikan di KPAI per tanggal 30 Mei 2018 berjumlah 161 kasus, dan dari jumlah tersebut terungkap data anak korban kasus kekerasan dan bullying mencapai 22,4% dan anak pelaku kekerasan dan bullying mencapai 25,5%. Menurut pengakuan korban, perundungan itu dilakukan secara langsung saat di sekolah dan kerap dilanjutkan di dunia maya yang kerap dikenal dengan istilah cyber bully.

“Tingginya angka kekerasan dan bullying di sekolah menjadi pesan bagi semua orang tua dan guru bahwa para siswa kita rentan menjadi korban dan bahkan pelaku bully, baik di dunia nyata maupun di dunia maya,” jelas Komisioner KPAI bidang pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan pers yang diterima KM Minggu 22/7/2018.

Ia mengatakan bahwa data tersebut diperkuat dalam “Ikhtisar Eksekutif Strategi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak 2016-2020″ oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Menurut laporan tersebut, 84% siswa pernah mengalami kekerasan di sekolah; 45% siswa laki-laki menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan; 40% siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebaya; 75% siswa mengakui pernah melakukan
kekerasan di sekolah; 22% siswa perempuan menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan; dan 50% anak melaporkan mengalami perundungan di sekolah.

“Sebagai lembaga negara yang konsen pada perlindungan anak, maka KPAI memandang perlu menggandeng banyak pihak, terutama para artis muda yang aktif di media sosial dan memiliki banyak fans untuk mengkampanyekan stop bullying

Advertisement
,” kata Retno.

Untuk itu, dalam rangkaian menyemarakkan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2018, KPAI bekerjasama dengan Young Lex dan Surya Film melakukan road show ke sejumlah sekolah di 13 kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, Tangerang, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Medan, Palembang, dan Makassar. Roadshow berlangsung mulai 17 hingga 31 Juli 2018.

“Young Lex adalah sosok yang memiliki banyak pengikut di media sosial dan juga banyak haters yang kerap membully-nya di dunia maya. Namun, Lex begitu tangguh menghadapi cyber bully yang hampir setiap hari diterimanya. Lex melawan pembully-nya dengan karya dan kerja keras. Sedangkan Surya Film adalah rumah produksi yang mengangkat dampak buruk cyber bully bagi siapapun, apalagi terhadap anak-anak. Para artis film Aib Cyber Bully juga ikut dalam roadshow ke sekolah-sekolah dan berdialog langsung dengan ratusan siswa di sekolah-sekolah tersebut,” papar Retno.

Di sekolah-sekolah tersebut KPAI mensosialisasikan dampak buruk bully bagi tumbuh kembang anak, Young Lex menyampaikan tips menghadapi cyber bully dan para artis Surya Film menyampaikan pengalaman mereka di-bully saat menjadi siswa di SMP dan SMA dan bagaimana harus berjuang mengatasinya.

“Bahkan di sejumlah sekolah ada beberapa siswa yang menyampaikan kisah bully yang dialaminya dan membuat mentalnya down sementara orang dewasa di sekitarnya tidak mau membantunya mengatasi masalahnya. Momen ini biasanya saat yang mengharukan dan banyak yang terdiam dan meneteskan airmata,” sambungnya.

Rangkaian acara kampanye bullying ke sekolah ditutup dengan memilih 5 siswa yang akan menjadi “Duta Stop Bullying” di sekolah. Kemudian KPAI, Kepala Sekolah, Duta Stop Bullying dan seluruh siswa peserta melakukan pembacaan petisi secara bersama-sama dengan ditandai cap telapak tangan yang menyimbolkan penolakan terhadap bullying dan kekerasan.

Reporter: Deva
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: