KUPAS KOLOM: 57 Tahun Jokowi

Arief Luqman El Hakiem
Arief Luqman El Hakiem

Oleh Arief Luqman El Hakiem*

Hari ini, Kamis Pahing, 21 Juni 2018 adalah tepat 57 tahun usia Bapak Presiden Joko Widodo, bersamaan dengan 10 tahun usia anak kedua saya, Najwa Faiqatul Izzah, yang lahir pada hari Sabtu Pahing, 21 Juni 2008. Tentu saja saya berdoa untuk kebaikan dan keberkahan keduanya, Jokowi dan Najwa, anak saya.

Najwa kini duduk di bangku kelas 3 SD, naik kelas 4, sebagaimana Jokowi yang telah memimpin negara ini selama 3 tahun, masuk tahun ke 4. Selayaknya anak-anak, kelakuan Najwa menyenangkan, tapi tidak jarang juga menjengkelkan. Namun, bagaimanapun juga, Najwa adalah anak saya, darah daging saya, mengalir dalam dirinya benih saya. Amanah Yang Kuasa untuk saya rawat dan saya didik dengan baik.

Sama halnya dengan Jokowi, sebagai presiden, kebijakannya banyak yang baik, namun tidak jarang kurang tepat, paling tidak menurut saya. Masih banyak janji dan programnya semasa kampanye yang hingga hari ini belum direalisasikan, bahkan terkesan dilanggar sendiri ucapannya. Namun, bagaimanapun juga, Jokowi adalah presiden saya, Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia, negara tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, tempat saya dan keluarga saya hidup dan berkembang.

Sebagai kepala negara, simbol negara, tentu saja saya harus menjunjung tinggi dan menjaga kehormatan Jokowi. Sebagai kepala pemerintahan yang membuat banyak kebijakan, saya punya hak dan kewajiban untuk mengkritik dan mengingatkan ketika Jokowi kurang pas dalam membuat keputusan. Sama seperti ketika saya melihat ada kesalahan dan kenakalan pada diri Najwa, anak saya. Saya harus mengingatkan dan meluruskan, memberi hukuman jika perlu, karena ini bagian dari pendidikan.

Membiarkan dan membebaskan anak berbuat apa saja tentu bukan sikap orang tua yang bijak. Sama seperti membiarkan seorang penguasa berbuat apa saja, juga bukan merupakan sikap rakyat yang tepat. Anak harus dididik dan dikontrol agar tumbuh menjadi generasi hebat. Pemimpin juga harus dikawal dan selalu diingatkan agar tidak jatuh pada penyimpangan.

Seringkali pujian dan sanjungan yang berlebihan akan membuat anak lupa diri dan tidak berkembang. Memanjakan dan memberikan apa saja yang diminta, juga kurang baik buat anak. Sama seperti kepada pemimpin, menyanjung dan memuja secara kelewatan tentu buruk dan menyesatkan. Apalagi sampai mengkultuskan, ini sangat membahayakan bagi dirinya dan negara.

Sejarah mencatat, dua presiden terlama di Indonesia, Ir. Soekarno dan HM. Soeharto, justru hancur dan tumbang karena pujian dan sanjungan belebihan dari para pendukungnya. Bung Karno terkesan dimanja dan dibiarkan saja oleh orang-orang seklilingnya ketika jelas-jelas salah dan menyimpang, misalnya pada saat mengangkat diri sebagai Presiden Seumur Hidup. Pak Harto juga dilenakan oleh para kroni dan penjilatnya, yang tetap memaksakan untuk mengusungnya menjadi presiden kembali.

Memang benar, sesuatu yang manis akan dikerubungi rombongan semut. Sama seperti Jokowi, akan banyak “semut” yang mendekat dan mengerubunginya. Semut-semut itu tentu ada mau dan motifnya. Tidak semua baik dan tulus. Ada yang hanya sekedar mau menghisap manisnya, seperti kumbang yang menghisap madu bunga. Mereka inilah yang harus diwaspadai oleh Jokowi.

Kebanyakan pemimpin akan jatuh dan tumbang karena dibuai oleh pujian dan sanjungan. Dan seorang pemimpin akan terkontrol dan selalu melakukan perbaikan karena nasihat dan kritikan. Karena dia jadi tahu kekurangan dan kekeliruannya.

Jadi, yang mesti diwaspadai seorang Jokowi adalah para pemujanya bukan para pengkritiknya. Semoga, di hari jadinya yang ke-57, Presiden Joko Widodo lebih bijak dan terbuka mata batinnya, sehingga akan tahu mana yang tulus, mana yang modus, mana pemberi nasihat, mana kelompok penjilat.

LEBIH BAIK DIBANGUN DENGAN KRITIKAN DARIPADA DIHANCURKAN DENGAN SANJUNGAN!

JOKOWI adalah Presiden bukan Calon Presiden, tugasnya adalah BEKERJA BUKAN BERKAMPANYE!

Dan Jokowi masih punya waktu 16 bulan untuk mewujudkan janji dan programnya, hingga dilantiknya presiden terpilih pada Oktober 2019 mendatang.

Siapa Presiden Terpilih itu, Kita Tunggu di tahun 2019!

Yogyakarta, 21 Juni 2018

*Penulis adalah Pegiat Media dan Pemerhati Kebijakan Publik

Leave a comment

Your email address will not be published.


*