Pantun Bima-Dedie di Debat Publik Pilkada Kota Bogor Pamerkan Kuliner Legendaris Kota Bogor

Pasangan calon walikota dan wakil walikota Bogor Bima Arya dan Dedie Rachim di Debat Publik Pilkada Kota Bogor, Sabtu 5/5 (dok.KM)
Pasangan calon walikota dan wakil walikota Bogor Bima Arya dan Dedie Rachim di Debat Publik Pilkada Kota Bogor, Sabtu 5/5 (dok.KM)

BOGOR (KM) – Ada yang menarik dalam debat publik Pilkada Kota Bogor 2018 yang disiarkan secara langsung oleh Metro TV, Sabtu (5/5/2018) malam.

Selain sesi tanya jawab antar pasangan calon, sesi penutupan tak kalah serunya. Masing-masing paslon menutup dengan mempromosikan diri, namun hal yang berebda ditunjukkan pasangan nomor urut 3, Bima Arya – Dedie Rachim yang dalam closing statement mereka justru mempromosikan kekayaan kuliner Kota Hujan yang dibalut dalam pantun unik.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor menyelenggarakan debat publik pertama Pilwalkot Bogor 2018 itu dengan tema “Memajukan Daerah, Menyejahterakan Rakyat”. Dalam acara yang dipandu host Metro TV, Aviani Malik, keempat paslon tampak saling menjual program andalannya masing-masing.

Debat tersebut dibagi dalam enam sesi, mulai dari pemaparan visi misi, penajaman program, saling bertanya, saling menanggapi antar kandidat hingga memberikan statement penutup. Dalam sesi penutup ini, pernyataan paslon Bima-Dedie cukup menarik perhatian public yang menyaksikan. Bahkan, tak jarang warga yang penasaran dengan aneka kuliner lezat yang diucapkan Bima-Dedie.

Dalam kesempatan yang diberikan satu menit, Bima-Dedie menyebutkan 6 aneka kuliner yang ada di Kota Bogor. Dedie memulai terlebih dahulu closing statement itu.

“Sate Rebing Empang makyus rasanya,
Sop buntut Ma’emun tiada duanya.
Berkhidmat di KPK itu luar biasa,
Membangun Bogor itu panggilan jiwa,” tutur Dedie dalam pantunnya.

“Soto Pak Salam ada di Suryakencana,
Doclang mang Odik ada di Pasir Kuda.
Agar Kota Bogor ramah untuk keluarga,
Kita menangkan nomor tiga,” lanjutnya.

Pantun itu pun disambut oleh Bima Arya yang melanjutkan dengan bait-baitnya.

“Pergi ke Empang makan Nasi Kebuli,
Jalan ke Sukadamai cari Jambu Biji.
Berpolitik jangan saling bully,
Di Pilkada pilih sesuai hati.”

Tak hanya itu, Bima juga tampak memberikan sejumlah pesan bagi para penonton.

“Anak milenial pilih pemimpin jangan asal,
Pilih pake akal dan bukan soal modal.
Calon pemimpin jangan saling jegal,
Tapi harus ada program yang dijual.
Jangan bebani milenial dengan gaya politik tua,
Apalagi bawa warisan dendam lama,
Politik harus riang gembira,
Bersama warga bangun kota ramah keluarga,” kata Bima.

Bagi yang penasaran, Sate Kambing Pak Rebing terletak tidak jauh dari Masjid Alun-alun, Empang, Bogor Selatan. Rumah makan itu berdiri kurang lebih sejak tahun 1980-an. Kelezatan sate kambing di sini cukup terkenal lantaran dagingnya yang empuk dan tidak berbau.

Advertisement

Kemudian Sop buntut Ma’emun bisa dibilang sop buntut legendaris di Kota Bogor. Ciri khas sop buntut Ma’emun adalah daging buntutnya yang empuk dan mampu terlepas dari tulangnya, tetapi masih menyisakan sedikit rasa kenyal.

Untuk menikmati sajian lezat ini, warga bisa mengunjungi rumah makan tersebut yang sudah tersebar di beberapa titik, di mulai dari kawasan Air Mancur, kemudian meluas hingga Bangbarung dan Jalan Salak.

Dan siapa sangka, Sop Buntun Ma’emun ini merupakan langganan istana, dimulai dari zaman Presiden Soekarno, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga terakhir Jokowi pun pernah menyantap sop legendaris itu.

Kuliner lain adalah doclang. Doclang merupakan salah satu kuliner khas dari Bogor yang terbuat dari potongan lontong, lalu dicampur tahu goreng, kentang dan telur rebus kemudian diguyur bumbu kacang.

Salah satu pedagang doclang yang cukup terkenal berada di Jalan Pasir Kuda, Kelurahan Cibalagung Kecamatan Bogor Barat, yakni Mang Odik. Bumbu kacang menjadi kunci keunggulan dari Doclang Mang Odik karena rasa manisnya pas.

Dedie juga menyebutkan kuliner Soto Pak Salam yang terletak di kawasan Suryakencana. Warung soto sederhana ini tak pernah sepi pembeli. Soto Pak Salam terdiri dari potongan daging dan jeroan sapi seperti babat, lidah, hati, dan paru yang disajikan bersama dengan kuah kuning berempah. Soal rasa, tak perlu diragukan lagi. Jika tak ingin kehabisan Soto Kuning Pak Salam, sebaiknya jangan datang setelah jam 7 malam.

Di Kota Hujan juga banyak komunitas Arab, yang membawa kuliner nasi kebuli ke Bogor. Tentunya di kawasan “Kampung Arab” di Empang ada salah satu rumah makan yang menawarkan Nasi Kebuli nikmat, yakni RM Balad yang letaknya dekat Alun-Alun Empang.

Reporter: Dody
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*