Banyak Proyek Konstruksi yang Roboh, Komisi V DPR: “Infrastruktur Harusnya Untuk Rakyat, Bukan Kejar Tayang atau Pencitraan!”

Ketua komisi 5 DPR RI Fary DJ. Francis (F-Partai Gerindra)
Ketua komisi 5 DPR RI Fary DJ. Francis (F-Partai Gerindra)

JAKARTA (KM) Rubuhnya jembatan di Tuban, Jawa Timur, dan rubuhnya jalan di lokasi pembangunan tol di Manado, Sulawesi Utara, menjadi “perhatian khusus” bagi Komisi V DPR RI. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Komisi V Fary Djemy Francis saat ditemui wartawan siang ini 18/4, Gedung Kura-kura, Kompleks Parlemen, Jakarta.

“Sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi dan besok tim kami akan turun dan melihat langsung jembatan yang rubuh di Tuban dan saya sendiri memimpin ke Manado, Sulawesi Utara, terkait konstruksi yang rubuh di sana,” ucap Fary.

“Dari persoalan-persoalan konstruksi yang rubuh, sebelumnya kami sudah melakukan fungsi-fungsi pengawasan dengan melakukan pemanggilan kepada menteri-menteri PUPR, BUMN, dan yang terkait lainnya untuk kita menyikapi banyaknya konstruksi bangunan yang rubuh, lalu kemudian pak menteri mengambil keputusan untuk melakukan moratorium, dan sudah dilakukan evaluasi selama 19 hari. Lalu kemudian dicabut moratoriumnya, setelah dicabut terjadi lagi bencana di [Proyek Tol] Becakayu, artinya jatuh di lubang yang sama,” ujar Fary.

“Untuk itu kami Komisi V akan melakukan kunjungan untuk mengecek, menginvestigasi secara langsung apa yang dijelaskan pak menteri saat rapat kerja dengan kami berkaitan dengan SOP nya yang sudah diperbaiki… dalam rangka terjadi banyaknya kecelakaan konstruksi.”

“Adapun sebelumnya kita sudah mengingatkan kepada pak menteri, terkait persoalan SOP, tapi pak menteri sudah memperbaiki, nah kalau ini terjadi, apa lagi persoalannya? Jadi kepada teman-teman media saya katakan hari ini, kita ini bukan keledai, kita tidak ingin jatuh di lubang yang sama,” lanjutnya.

Advertisement

“Dan yang kedua kita juga sudah ingatkan, infrastruktur ini dibangun untuk siapa? Infrastruktur ini dibangun untuk rakyat, bukan pencitraan, bukan dalam rangka kejar tayang. Kalau betul untuk rakyat saya kira yang lebih penting rancangannya itu harus berkualitas, implementasinya juga berkualitas, dan juga hasil kerjanya juga harus berkualitas, kita tidak perlu kerjanya hanya untuk kejar tayang dalam rangka pencitraan, apalagi semuanya mau diselesaikan di tahun 2018-2019,” kata politisi Partai Gerindra itu.

Menurut Fary, infrastruktur seharusnya dibangun untuk rakyat dan bukan untuk pencitraan. “Kalau untuk pencitraan dan pencapaian, ya kecelakaan terjadi di mana-mana,” tegasnya.

Terkait jembatan yang roboh di Tuban, Fary menjelaskan bahwa pihaknya sudah mendapatkan informasi bahwa dari tahun 2015 sudah dideteksi adanya kelemahan pada jembatan tersebut, dan sudah ada pemeliharaan di tahun 2017. Namun ambruknya jembatan tersebut pekan ini menimbulkan pertanyaan.

“Yang kedua kita juga minta supaya jangan kita terlalu fokus kepada yang baru termasuk bangun-bangun jembatan dan sebagainya tanpa mengindahkan, tanpa melakukan audit kepada jembatan-jembatan yang sudah ada selama ini,” tambahnya.

Reporter: Indra Falmigo
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*