KUPAS KOLOM: Konsep Penghijauan di Puncak Harus Memetik, Bukan Menebang

Oleh Sunyoto*

Penanaman pohon dalam rangka penghijauan di wilayah Puncak- Bogor sudah puluhan tahun dilakukan. Namun sepertinya belum banyak membawa dampak bagi kelestarian alam dan berkurangnya bencana. Terbukti belum lama ini longsor dan banjir terjadi di wilayah Puncak dengan jumlah yang sangat besar dibandingkan kejadian serupa sebelumnya.

Lalu apa yang salah? Alamnyakah? Gagalnya penghijauannya kah? Masifnya pembangunan villa dan perumahankah atau hal lain lagi?

Kita lupakan saja itu semua. Pada prinsip sekarang bagaimana melestarikan alam dan bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat sekitar. Lalu bagaiamana?

Mari kita rubah pola penghijauannya. Yang sebelumnya berpikir menebang sudah saatnya kita jadikan memetik. Bagaimana caranya?

Penanaman pohon kayu selama ini sudah banyak dilakukan. Warga hanya dijadikan partisipan. Dan tidak mendapatkan faedah apa-apa. Karena yang mendapat hasil hanya pemilik kayu. Setelah usianya cukup dan besar kayunya sudah layak jual, maka pohon tersebut ditebang dan dijual. Warga hanya menjadi penonton. Dampak ke alam kembali gundul. Padahal Puncak bukanlah hutan produksi.

Hal sederhana yang perlu dirubah adalah merubah pohon yang ditanam. Dari jenis kayu menjadi jenis buah yang berkualitas. Sehingga masyarakat secara otomatis mau menanam dan merawat. Hasilnya dalam waktu 2-3 tahun masyarakat sudah bisa menikmati hasilnya. Dan secara otomatis, kemampuan ekonomi masyarakat meningkat dan kelestarian alam terjaga.

Pohon apa yang cocok ditanam di dataran tinggi seperti di Puncak Bogor? Banyak. Ada berbagai macam jenis jeruk (Siem, Mandarin, Lemon dan lain-lain), kelengkeng (berbagai macam varietas), Jambu Kristal, alpukat dengan varietas unggul dan lain-lainya.

Jika berbagai jenis pohon tersebut ditanam warga, baik yang mempunyai lahan sempit dan luas dan juga himbauan bagi villa, Hotel, Resort untuk menanam, maka dalam 2 tahun kedepan Puncak akan panen raya. Maka secara otomatis puncak akan mempunyai produk unggulan yang tentu akan sangat menarik bagi wisatawan. Karena wisatawan juga bisa menikmati panen langsung di tengah-tengah masyarakat.

Supaya bisa terbagi wilayah produksinya maka 3 kecamatan (Ciawi, Megamendung dan Cisarua) bisa dibagi sesuai dengan jenis buah yang cocok.

Untuk wilayah Ciawi akan cocok dengan buah jenis Durian, Mangga dan Rambutan. Varietas unggulanya sangat banyak tinggal dipilih.

Kemudian untuk wilayah Kecamatan Megamendung dan Cisarua bisa dikembangkan jenis buah Jeruk, Jambu, Sawo, Alpukat. Varietasnya juga banyak.

Yang pasti jangan sampai dibagikan jenis buah yang biasa. Harus jenis unggul. Sehingga dalam jangka 2 tahun masyarakat sudah bisa menikmati hasilnya.

Jika hal tersebut bisa dilakukan , maka tidak akan ada lahan yang kosong. Semua akan penuh dengan buah. Ekonomi masyarakat terangkat, penghijauanya berjalan, konsep village tourismnya juga akan berjalan.

Selain penghijauan dan ekonomi masyarakat terangkat, kedepan juga akan banyak memunculkan kelompok tani dan kreatifitas warga dalam industri olahan dan kemasan. Sebagai kota pariwisata, dampak pariwisata secara otomatis juga dinikmati masyarakat. Tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang yang bermodal kuat.

Karena dengan pola tersebut, masyarakat yang mempunyai lahan sempit bisa menanam antara 5-10 pohon di sekitar rumah mereka.

Jika masing-masing desa membutuhkan 1000 pohon untuk warga, maka dibutuhkan kurang lebih 30 ribu bibit untuk tiga kecamatan. Harga satu pohon dengan ukuran 70-100 cm berkisar 30 ribu rupiah. Maka anggaran yang dibutuhkan adalah sekitar 900 juta.

Namun feedback yang akan dihasilkan warga dari penanaman komodity ini dalam 2 tahun sudah akan lebih dari 1 milyar.

Biaya tidak melulu harus menggunakan APBD, bisa dikombinasikan dengan dana CSR perusahaan-perusahaan besar yang ada di Bogor ataupun perusahaan Nasional. Tinggal kemauan dan kreatifitas Pemkab Bogor dalam menjalankanya.

Sekali lagi Konsep penghijauan di Puncak bukan lagi dengan menanam pohon yang dipanen kayunya namun pohon yang di panen buahnya. Mari Memetik, Jangan Menebang.

*Direktur Rumpun Hijau Institut Puncak

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*