Hadirkan Para Calon Walikota Bogor dalam Dialog Tentang Terminal Baranangsiang, KPTB Kritisi Kebijakan Pemkot Bogor

Para Calon Walikota Bogor saat menghadiri diskusi publik tentang Terminal Baranangsiang, Minggu 4/3/2018 (dok. KM)
Para Calon Walikota Bogor saat menghadiri diskusi publik tentang Terminal Baranangsiang, Minggu 4/3/2018 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Di tahun 2018 ini seluruh masyarakat Kota Bogor akan memilih Walikota dan Wakil Walikota. Komunitas Pengurus Terminal Barangnangsiang (KPTB) berinisiatif menyelenggarakan Dialog Publik Bersama Calon Walikota Bogor, di Sekertariat KPTB, pada Minggu 04/03/2018.

Diskusi tersebut bertema “Mencari Pemimpin Bernyali Versi Baranangsiang”, menghadirkan semua Calon Walikota yang sedang berkompetisi dalam Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Bogor 2018.

Nampak hadir Calon Walikota Ahmad Ru’yat, Edgar Suratman, Bima Arya, dan Dadang Iskandar Danubrata. Keempat calon ini memaparkan dan memberikan pencerahan tentang apa yang akan dilakukannya secara kongkrit jika terpilih nantinya, khususnya mengenai nasib Terminal Baranangsiang.

“Kita ketahui tahun 2011 lalu Pemerintah Kota Bogor tanpa melibatkan masyarakat Baranangsiang melakukan kerjasama dengan pihak ketiga untuk membangun mal, hotel atau apartemen di atas tanah Terminal Baranangsiang dengan dalih sebagai fasilitas penunjang terminal. Ini jelas terindikasi melawan hukum,” jelas Ketua KPTB Teddy Irawan kepada awak media (04/03).

“Tanpa perlu analisa yang tajam dan pengetahuan yang dalam tentu kita semua masyarakat Kota Bogor bisa menilai bahwa kebijakan itu tidak benar dan sangat tidak rasional.”

Teddy menuturkan, sejak diketahui adanya kerjasama itu sontak masyarakat Baranangsiang dengan tegas menolak kebijakan yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor, “sebab kebijakan tersebut sangat merugikan dan tidak memiliki keberpihakan kepada masyarakat.”

“Bukan saja dampak sosial tetapi menjadi luas terhadap dampak-dampak lain seperti dampak lalu lintas Kota Bogor,” tuturnya.

“Jika Pemerintah Kota Bogor beralasan kerjasama dengan pihak ketiga tersebut sebagai upaya revitalisasi Terminal Baranangsiang yang kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak layak hingga hari ini, mengapa dari tahun 2011 anggaran renovasi tidak pernah ada? Alasan yang sangat kontradiksi dengan kenyataan yang ada,” ujarnya.

“Selama tujuh tahun Terminal Baranangsiang tak pernah mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kota Bogor dalam hal perbaikan infrastruktur dan fasilitasnya serta selama itu pula tak pernah ada kejelasan nasib terminal ini.”

Teddy pun berharap dengan adanya dialog dari para calon Walikota Bogor ini dapat menjadi dasar pegangan, “jika nantinya salah satu yang terpilih, kami akan menuntut janji mereka. Yang hari ini memberikan angin segar untuk penyelesaian masalah-masalah Terminal Baranangsiang,” pungkasnya.

Reporter: Dody
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*