Gerilya di Bogor Selatan, Bima Arya Terima Nasehat Dari Nenek Berusia 145 Tahun

BOGOR (KM) – Calon walikota Bogor nomor urut 3, Bima Arya Sugiarto melakukan “gerilya” nya di Kelurahan Muarasari dan Bojongkerta, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor Senin (5/3/2018). Dalam kunjungannya di Muarasari, ia menemui seorang nenek yang dikatakan berusia 145 tahun dan di Bojongkerta sempat berbincang dengan seorang kakek yang diklaim berusia 130 tahun.

Gerilya Bima Arya diawali dengan meninjau sejumlah infrastruktur di Muarasari, seperti jembatan roboh di RW 1 dan RW 6, longsor dan pengecoran serta pelebaran mushola.

Di sela gerilya itu, ada seorang nenek yang menghampiri petahana Walikota Bogor itu. Nenek yang belakangan diketahui bernama Hj. Neni itu mengaku berusia 145 tahun. Bima Arya pun dibuat kaget dengan pengakuan sang nenek, bahkan sempat tidak percaya lantaran masih terlihat segar, mampu berjalan dan lancar berkomunikasi.

Tak lama, para cucunya yang datang sembari menggendong cicitnya pun meyakinkan Bima Arya. Obrolan hangat pun tercipta. Hj. Neni pun sempat mendoakan Bima Arya dan Dedie Rachim yang sedang bertarung di Pilwalkot Bogor 2018. “Pemimpin itu yang penting amanah,” salah satu doa Hj. Neni.

Gerilya pun dilanjutkan dengan menyapa warga serta menyerap aspirasi mereka. Selain infrastruktur, warga meminta ada peningkatan kualiatas kesehatan.

Usai di Muarasari, gerilya Bima diteruskan menuju kawasan paling selatan Kota Bogor, yakni Bojongkerta.

Di sana, Bima mengunjungi sebuah majelis taklim yang sedang dibangun oleh seorang tokoh masyarakat. Majlis itu nantinya akan dijadikan sarana pengajian dan dakwah. Bima menilai majlis taklim ini memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan akhlak generasi muda di Kota Bogor. Menurut Bima, dengan mengaji, anak-anak akan memiliki akhlak dan perilaku yang baik.

Ia juga sempat menengok sejumlah warga yang sakit. Bahkan, seperti halnya di Muarasari, Bima juga menemui seorang kakek berusia 130 tahun di Bojongkerta.

Melihat fenomena itu, Bima Arya menyatakan bahwa harapan hidup warga Kota Bogor cukup baik. Melihat data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata harapan hidup masyarakat Kota Bogor sudah cukup baik yakni 72,95 tahun (data 2016).

Tren peningkatan usia harapan hidup di Kota Bogor terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2013 hanya mencapai 72,57. “Angka harapan hidup itu diharapkan beriringan dengan peningkatan kualitas kesehatan. Sehingga peningkatan jumlah penduduk usia tua tidak menjadi beban ekonomi penduduk usia produktif. Melalui pembinaan yang baik, penduduk usia tua bisa memiliki kualitas hidup yang baik dan tetap produktif secara ekonomi dan sosialnya,” katanya.

Untuk itu, lanjut Bima Arya, Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) akan digencarkan lagi. “Usia harapan hidup terus membaik, namun sejumlah penyakit termasuk penyakit jantung, stroke dan diabetes, masih menjadi penyebab tingginya angka kematian dini di Indonesia. Germas harus lebih gencar. Saya lihat rokok juga berpengaruh ya. Soal gaya hidup juga mempengaruhi,” tandasnya.

Menurut Bima, peningkatan rata-rata angka harapan hidup warga Kota Bogor salah satunya karena semakin membaiknya program-program kesehatan yang dicanangkan oleh Pemkot Bogor di masa kepemimpinannya, seperti peningkatan kualitas RSUD dan penambahan puskesmas. “Kedepan kami juga memiliki program dokter keluarga,” katanya.

Program dokter keluarga akan dicanangkan untuk memperkuat layanan puskesmas hingga RSUD yang sudah ada. Tugas dari dokter keluarga nantinya bersifat pencegahan, deteksi dini hingga pengendalian penyakit kronis.

“Dokter keluarga juga bertugas mempromosikan pola hidup sehat. Melalui program ini, angka orang sakit diharapkan dapat dikendalikan sehingga jumlah kunjungan ke rumah sakit jadi berkurang. Dokter keluarga lebih banyak bertugas mencegah orang agar tidak sakit atau yang sudah sakit diharapkan penyakitnya tidak lebih parah,” beber pria kelahiran Bogor, 17 Desember 1972 itu.

Reporter: Dody
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*