Bima Arya Kisahkan Pengalaman Umrohnya, dari Pelemparan Batu hingga Mencium Hajar Aswad

Calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor Bima Arya Dedie Rachim saat syukuran di Saung Badra, Selasa 27/02/2018 (dok. KM)
Calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor Bima Arya Dedie Rachim saat syukuran di Saung Badra, Selasa 27/02/2018 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Calon Walikota Bogor petahana Bima Arya Sugiarto mengaku “memetik banyak hikmah” selama perjalanan ibadah umroh ke Tanah Suci 17-26 Februari 2018.

Ia pun berbagi cerita pengalaman spiritualnya mulai dari keberangkatan hingga kepulangannya kembali ke Kota Bogor. Salah satu hikmah yang dirasakan Bima, yakni lebih menerima segala keadaan dengan rasa syukur serta berdoa agar dijaga hatinya oleh Allah agar khusyuk beribadah, karena jika Allah berkehendak semua mudah sekali terjadi.

“Allah perintahkan kepada umatnya untuk selalu bermuhasabah, mengevaluasi diri agar kita berfikir, apa yang kita perbuat selama ini. Hal tersebut dapat menjadi modal bagi kita untuk menghadapi kehidupan ke depan,” kata Bima.

“Jadi, saya coba merangkaikan dari mulai keberangkatan hingga kepulangan Umroh kemarin. Hikmah apa yang bisa didapat selama ibadah di sana. Merugi saya, keluarga, dan jamaah lain ketika pulang umroh itu biasa saja,” ungkap Bima Arya di sela syukuran di Saung Badra, Selasa (27/02/2018).

Ia menceritakan rentetan peristiwa yang muncul, mulai dari persiapan keberangkatan rombongan di Masjid Raya Bogor dan perjalanan menuju bandara sebelum bertolak menuju Tanah Suci.

“Tidak pernah terbayangkan sedikit pun di KM 27 Tol Jagorawi mendadak bus oleng. Saat itu saya berada di barisan paling depan bersama Ken, anak saya. Kemudian batu meluncur mengenai kaca di bagian bangku baris ketiga dari arah luar. Saat itu semua penumpang menjerit, bus oleng, kemudian melipir ke kiri. Yang ada dibenak semuanya sama, ini serangan politik,” sambungnya.

“Sampai ada jamaah di belakang bilang ke saya kalau ada orang mencurigakan di Masjid Raya mengikuti terus. Kita semua sudah suudzon, ada yang bilang ini pasti lawan politik dan macam-macam,” cerita Bima.

“Sopir bus pun berhenti, namun Bima Arya meminta sang sopir terus memacu busnya sambil mencari titik aman lantaran gerombolan orang tidak dikenal masih ada disekitar tempat tersebut. Sampai di rest area, Bima Arya dan rombongan kemudian melihat sekelompok supporter berbaju oranye yang belakangan diketahui Jakmania.

“Artinya apa? Di dunia tidak mungkin ada yang kebetulan. Semua pasti sudah ada yang mengatur. Saya mencoba mengambil hikmah. Sebelum berangkat kita diingatkan untuk meluruskan niat, bersihkan hati. Umroh ini bukan Umroh politik, kira-kira begitu. Umroh ini semata-mata untuk ibadah, mohon berkah dan ridho dari Allah. Kita tidak ingin ibadah kita di down grade jadi sebatas suara di Pilkada. Tidak seperti itu,” ungkapnya.

“Kedua, selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa. Kita berangkat telat, karena ada seorang Jemaah yang belum datang. Jemaah mulai kesal. Tapi kalau kita berangkat lebih cepat, mungkin kondisi kita jauh lebih parah karena kita berada tepat dengan rombongan Jakmania tadi. Mungkin ini rahasia Allah yang tidak pernah kita tahu,” tambah dia.

Bima juga bercerita mengenai berbagai kemudahan yang ia dapatkan selama menjalani proses ibadah umroh. Di sana, ia mengaku banyak bertemu dengan warga Kota Bogor. Salah satunya, ia menyebut ada seorang warga Empang, Bogor Selatan, yang mengajak ke berbagai tempat yang tidak semua orang bisa memasuki ruangan tersebut.

“Dia mengantarkan kita ke mana-mana di sana. Kita diantar ke satu bagian di Masjid Nabawi di dalam itu ada perpustakaan yang menyimpan berbagai koleksi buku dan Al Quran kuno. Orang Indonesia jarang yang bisa masuk ke situ, terakhir Anies Baswedan yang masuk ke situ. Orang Empang ini pula yang kemudian mengantarkan kita ketika di Mekkah untuk masuk ke museum yang belum dibuka untuk umum. Ini ada museum baru, museum Ka’bah isinya sejarah Ka’bah dan lain-lain. Ini orang kuncennya. Yang megang kuncinya,” kata dia.

Hajar Aswad disebut sebagai simbol kekuatan yang didatangkan dari surga. Batu itu menggambarkan bahwa mahluk ciptaan Allah sesungguhnya berasal dari kesucian. Namun dalam perjalanannya, manusia tak luput dari dosa. Maka mencium Hajar Aswad itu sesungguhnya adalah mencium dan mengakui semua dosa kita untuk menjadi kembali bersih dan suci.

Hal itu pula yang dirasakan Bima Arya dengan sang istri Yane Ardian. Menurut Bima, pengalaman spiritual dalam upaya mencium Hajar Aswad merupakan salah satu hal yang cukup berkesan. “Kata orang musim Februari ini agak lengang tapi ternyata ramai juga. Ketika hari pertama datang ke sana, saya lihat agak susah untuk mencium Hajar Aswad. Persaingannya masih keras ternyata. Tapi, hari pertama saya coba ke situ. Menerapkan apa yang saya terapkan ketika ibadah haji lalu,” terang dia.

Saat umroh kemarin, Bima mengaku tidak terlalu memikirkan strategi yang muluk-muluk untuk kembali mencium Hajar Aswad. Meski harus berhimpitan dengan jamaah lain yang posturnya lebih besar dan tinggi, akhirnya Bima Arya dan Yane Ardian berhasil mecium Hajar Aswad.

“Hikmah dari situ adalah doa dan ikhtiar. Dua hikmah inilah yag mengatarkan kita untuk berhasil mencapai titik yang kita tuju. Terlihat sepele tapi ini meggambarkan perjuangan kita di semua sendi kehidupan. Ikhtiar kita harus maksimal, doa kita juga harus maksimal,” pungkasnya.

Reporter: Dody/TM Badra
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*