Banyak “Ngeles” Saat Sidang, Anggota DPRD Pangkalpinang Dimarahi Hakim

Anggota DPRD Pangkalpinang dari PKB, H. Jumdiyanto saat sidang kasus penyalahgunaan SPPD Dewan Kota Pangkalpinang, Kamis 18/1 (dok. KM)
Anggota DPRD Pangkalpinang dari PKB, H. Jumdiyanto saat sidang kasus penyalahgunaan SPPD Dewan Kota Pangkalpinang, Kamis 18/1 (dok. KM)

PANGKALPINANG (KM) – Sidang perkara penyalahgunaan SPPD Dewan Kota Pangkalpinang kembali digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Pangkalpinang.

Persidangan dimulai Pukul 11.20 WIB, Kamis (17/01/2018). Jaksa menghadirkan dua orang saksi, yaitu Badarudin Atas dari ASN Pemkot Pangkalpinang dan Anggota Dewan Kota Pangkalpinang, H. Jumdiyanto (PKB). Sidang dipimpin oleh hakim Sri Endang A. Ningsih.

Sementara saksi pertama tidak berbelit-belit sehingga pemeriksaan pun tidak memakan waktu yang terlalu lama, saksi kedua, yaitu Jumdiyanto, membuat Hakim berang dan marah, karena dianggap oleh Hakim “berbelit-belit, berbohong, dan selalu berkata tidak tahu dan lupa.”

“Sepanjang persidangan, saksi selalu menampakkan aura emosi yang tinggi dan tidak terima kalau dia ikut disalahkan dalam perkara SPPD. Menurut dia, bahwa SPPD itu tidak fiktif dan berhak untuk diambil uangnya.

“Kalau menurut Saksi uang itu sah untuk diterima dan SPPD tidak fiktif, kenapa dibalikin uang SPPD nya?” ukar hakim Sri.

“Hati saya merasa tidak nyaman yang mulia,” jawab legislator dari PKB itu, disambut dengan tawa para pengunjung sidang.

Dicecar Hakim, “saksi tamat sekolah apa?”

Di jawab H. Jumdiyanto, “hanya tamat SMA yang mulia.”

“Pantesan kalau begitu,” spontan dikatakan Hakim dengan jengkel, diikuti riuh tawa pengunjung sidang.

Saat ditanya Hakim apa tupoksi Komisi I, anggota dewan ini malah meminta agar Majelis Hakim bertanya sendiri ke Komisi I.

Tentunya jawaban yang di lontarkan secara spontan oleh Saksi membuat Hakim berang.

“Hei Pak dewan yang terhormat, kami bukan orang partai, saat ini kita lagi lakukan proses persidangan, bukan lagi rapat di Dewan!” ujar hakim menegurnya. Menunduk malu, Jumdiyanto meminta maaf ke Hakim.

“Wahai pak Dewan yang terhormat kami belajar ilmu psikologi, kami tahu kalau saksi berbohong dan membaca bahasa tubuh saksi, jadi tidak usah sombong lah, mentang-mentang anggota dewan,” tambah Hakim.

“Kami sudah memeriksa banyak saksi, tapi baru kali ini saksi yang arogan, sombong di ruang pengadilan.”

“Ingat, pengembalian uang yang saksi lakukan tidak menghilangkan perbuatan melawan hukumnya,” ucap Hakim Sri.

Di penghujung sidang, Majelis Hakim lebih banyak menasehati politisi PKB itu agar “lebih jujur, tidak usah ngeles, berbelit-belit, santai saja, tidak usah emosi.”

Reporter: Suryadi L
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*