Angka Perceraian Semakin Tinggi, Populasi Janda Muda di Depok Meningkat

DEPOK (KM) – Kurangnya kesiapan mental menjadi pemicu utama terjadinya perselisihan dalam rumah tangga. Ketidakharmonisan pasangan suami istri mulai muncul akibat dari banyaknya persoalan yang dihadapi, mulai dari persoalan ekonomi, perselingkuhan, hingga ketidakcocokan pandangan atau prinsip hidup berumahtangga yang berujung pada perceraian dan berimbas terhadap proses tumbuh kembang anak mereka. 

Melihat fenomena tersebut, tim kupasmerdeka.com menemui ketua panitera Pengadilan Agama Depok guna mengkonfirmasi angka perceraian yang terjadi akibat persoalan dalam rumah tangga.

Dari data yang diperoleh, pada tahun 2017 lalu ada sekitar 4.144 pengajuan perceraian dan masih ada sekitar 698 yang belum diputus pengadilan.

(dok. Pengadilan Agama Depok/KM)

(dok. Pengadilan Agama Depok/KM)

“Tiap tahun Depok itu tambah terus angkanya, peringkat 10 besar di Jawa Barat, utamanya disebabkan karena perselisihan termasuk perselingkuhan,” ujar Entoh Abd. Fatah, Ketua Panitera Pengadilan Agama Depok.

Lebih lanjut ia mengungkapkan jika perceraian didominasi usia muda. “Dominan masih usia 25 hingga 30 tahun,” jelasnya.

“Yang perlu diperhatikan kepada masyarakat adalah bahwa putusan pengadilan belum bisa dijadikan dasar putusan hingga diterbitkannya akta perceraian. Ini yang perlu dipahami supaya setelah diketuk putusan pengadilan bisa langsung diurus Aktanya,” jelasnya lagi.

Mengenai biaya perceraian ada yang ditanggung negara ada juga yang murni biaya sendiri apabila alokasi anggaran dana DIPA nya sudah habis.

“Istilahnya ada prodeo dari negara dan prodeo murni dari para pihak, dari negara sekitar 40 juta pertahun sehingga sekitar maret atau april sudah habis,” ungkapnya.

“Kalau yang prodeo murni biaya resmi 91 ribu ditambah dua kali panggilan. Kalau ring 1 sekitar 60-75 ribu per panggilan,” pungkasnya.

Dari data tambahan yang diperoleh, jumlah anak saat terjadi perceraian sepanjang tahun 2017 sebanyak 9096 anak, usia perkawinan saat perceraian dominan baru memasuki tahun ke-2 hingga tahun ke-6, dan usia pada saat menikah kebanyakan pada usia 21-30 tahun.

Reporter: Sudrajat, Indra Falmigo
Editor: HJA 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*