Ketua Baru IKABOGA Ingin Bentuk Kemitraan dengan Beragam Instansi untuk Pemberdayaan Masyarakat

Ketua IKABOGA Indonesia Dr. Ayat Taufik Arevin (dok. KM) Ketua IKABOGA Indonesia Dr. Ayat Taufik Arevin (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Ikatan Ahli Boga (IKABOGA) Indonesia adalah organisasi mitra Kemendikbud di bawah pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD-DIKMAS), Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan (Dit BINSUSLAT). Peranan IKABOGA antara lain meningkatkan mutu Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Tata Boga, mengembangkan kurikulum sarana pembelajaran-bahan ajar/sumber belajar, meningkatkan mutu pengelolaan, instruktur, ujian dan sertifikasi peserta kursus. IKABOGA yang didirikan tanggal 3 Desember 1987 merupakan wadah tunggal ahli boga Indonesia.

Hingga kini IKABOGA Indonesia memiliki 28 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan lebih dari 200 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) yang tersebar di seluruh Indonesia dan setiap lima tahun sekali DPP IKABOGA Indonesia mengadakan MUNAS dimana satu agendanya mengadakan reksturisasi pengurus dan di tahun 2017 ini telah digelar MUNAS ke VI pada 29-30 November 2017 lalu.

Ayat Taufik Arevin, yang mengusung visi “Meningkatkan Peran Ahli Boga dalam Pemberdayaan Masyarakat”, berhasil terpilih sebagai ketua umum untuk periode 2017-2022. Dalam audiensinya, Ayat Taufik menyatakan akan segera menyusun tim guna menggolkan program kerja yang sudah dibuat. “Segera setelah munas ini, saya akan membentuk tim kerja dan akan kita rangkul mitra-mitra strategis supaya program IKABOGA bisa terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai siapa mitra strategis yang dimaksud, Ayat yang juga pembina Aliansi Kuliner Indonesia (Kul-Ind) ini menjelaskan “Mereka adalah para akademisi yaitu para guru dari SMK Pariwisata/Tata Boga dan dosen perguruan tinggi kepariwisataan, praktisi dan para pemilik usaha jasa boga yaitu restoran dan catering, perusahaan pensuplai kebutuhan bahan dan peralatan tata boga, perusahaan swasta dan BUMN pemberi bantuan melalui CSR Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pariwisata di tingkat provinsi dan kabupaten, tokoh masyarakat, budayawan, dan pemerhati boga/kuliner, organisasi dan komunitas bidang boga dan kuliner, serta LSM pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Mengenai tantangan yang akan dihadapi di bawah kepemimpinannya, dikatakannya bahwa karena mayoritas anggota IKABOGA Indonesia baik di pusat maupun daerah adalah wanita atau ibu-ibu yang berprofesi sebagai pemilik/pengusaha katering, pemilik LKP Tata Boga, dosen/guru/instruktur bidang Tata Boga, pemerhati dan mereka yang hobi memasak, “tentunya yang menjadi tantangan terberat adalah komitmen para anggota untuk bisa menyisihkan waktu, tenaga, dan materi. Tantangan lain yaitu bagaimana mendapatkan dana sponsor ataupun CSR untuk terselenggaranya kegiatan pemberdayaan masyarakat.”

“Strateginya, nanti dalam setiap program kerja yang dibuat bukan untuk membebani, namun untuk memenuhi kepentingan stakeholder. Misalkan bagaimana pemilik katering berstrategi untuk meningkatkan keuntungan usahanya yaitu dengan membantu proses perizinan melalui kemudahan urusan birokrasi, peningkatan mutu pegawai dll. Untuk para dosen dalam rangka memenuhi kredit point melalui penelitian ataupun pengabdian kepada masyarakat, dll. Mereka yang hobby memasak supaya bisa eksis dan memiliki banyak teman, pada intinya pertemanan atau silaturahim merupakan bagian dari ibadah,” pungkasnya.

Reporter: Sudrajat
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*