Budayawan Ingin Hapus Predikat “Taman Surganya Orang Mati” bagi Kecamatan Tanjungsari

(dok. KM) (dok. KM)

BOGOR (KM) – Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor melekat lama dengan julukan ‘Taman Surganya Orang Mati’. Bahkan dalam berbagai acara, keberadaan kuburan elit di wilayah tersebut acapkali disebut sebagai ikon wilayah.

Minimnya perhatian Pemerintah Kabupaten dalam soal pengadaan ruang terbuka hijau seperti taman kota disinyalir menjadi penyebabnya. Sejumlah tempat seperti perumahan, lapangan, jalan hingga pemakaman menjadi tujuan bagi mereka yang ingin menikmati pemandangan dan tempat berkumpul.

Hal ini pun mengundang keprihatinan dari tokoh budayawan ‘Sunda Akur’ wilayah timur Kabupaten Bogor ini, Deden Setia Nugraha atau yang akrab disapa Lurah Ibeng atau Kang Ibeng, yang bertekad mengubah julukan tanah kelahirannya tersebut.

“Predikat taman surga orang mati harus diganti menjadi taman ekspresi budaya, selama ini muda-mudi bingung karena tidak ada tempat menyalurkan ekpresi. Begitu juga warga, mereka butuh tempat untuk kumpul yang bisa menjadi ikon,” kata Ibeng.

Lebih jelas, Kang Ibeng siap menghibahkan sebidang tanah milik orangtuanya yang berlokasi di Desa Sirna Rasa untuk disulap sebagai sebuah taman berkonsep ekpresi budaya, serta konsep yang dapat diminati kalangan muda yaitu berselfie ria. Bahkan untuk juru gambarnya, ia bakal menggandeng Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Diketahui, menurut warga sekitar, di lokasi tanah yang hendak dihibahkan Kang Ibeng untuk menjadi taman, memang sejak lama saat mendiang kakeknya hidup sudah dijadikan tempat kepentingan umum untuk lokasi pasar mingguan.

“Nantinya ini menjadi ikon di wilayah Kecamatan Tanjungsari, bahkan contoh untuk wilayah lainnya khusus di Bogor Timur. Dan yang terpenting taman ekpresi budaya tidak hanya menjadi wadah dalam tempat berkumpul warga, lebih dari itu juga sebagai tempat menampilkan kesenian Sunda,” pungkasnya.

Sementara dari pantauan KM, wilayah Kecamatan Tanjungsari memang belum memiliki sarana dan prasana umum yang berkaitan dengan ruang publik. Alhasil, tempat pemakaman Quiling kerap digunakan warga untuk berkumpul dan menikmati pemandangan.

Reporter: Yudhi/red
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*