Bima Arya Terancam Gagal Nyalon Walikota Bogor? 

KOTA BOGOR (KM) – Belum lama ini muncul di beberapa media pertemuan khusus Ketua Badan Pemenangan Pemilihan Umum (Bappilu) PDI Pejuangan Provinsi Jawa Barat, H. Aang Hamid Suganda, Ketua DPC PDI Pejuangan Kota Bogor, Dadang Iskandar Danubrata, Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor Tauhid J.Tagor serta sekertaris Partai Golkar Kota Bogor Heri Cahyono beserta jajaranya, di Sekertariat DPC PDI Pejuangan Kota Bogor. Rabu (20/12/17).
Dari pertemuan tersebut muncul kemungkinan terbentuknya koalisi besar yang akan menggoyahkan calon petahana Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto.

Setelah beberapa waktu lalu koalisi sudah dibangun oleh tiga partai besar yakni, PKS, Gerindra dan Demokrat, kini menyusul koalisi besar juga sudah dibangun oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar.

Jika benar-benar terjadi dan ditetapkan koalisi tersebut, maka celakalah sang petahana Bima Arya Sugiarto. Bagaimana tidak, walaupun syarat bisa maju seseorang menjadi calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor harus didukung sedikitnya 9 kursi DPRD, namun dikhawatirkan jika kursinya tidak sampai 9 maka gugurlah pencalonan sang petahana tersebut.

Aktivis yang juga anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komando Pejuang Merah Putih (KPMP) Rendy Risky Pujarama menjelaskan, “jika melihat peta politik di Kota Bogor menjelang pemilihan Walikota dan Wakil Walikota saat ini, kekuatan parlemen, memang tidak ada satu partai politik yang memiliki 9 kursi di DPRD Kota Bogor,” jelasnya kepada Kupasmerdeka.com, Senin 25/12/2017.

“Artinya, pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor itu harus melakukan koalisi.” 

“Melihat kondisi sekarang bahwa dari 45 kursi anggota DPRD Kota Bogor, PDI Perjuangan memiliki 8 kursi, Partai Golkar 6 kursi, Partai Gerindra 6 kursi, PKS 5 kursi, PPP 5 kursi, Partai Demokrat 5 kursi, Hanura 4 kursi, Partai Amanat Nasional (PAN) 3 kursi, Nasdem 1 kursi dan PBB 1 kursi,” ucap Rendy.

Menurut Rendy, “koalisi besar” antara parpol resebut beswr kemungkinan akan terbentuk.

“Sangat besar kemungkinan koalisi besar yang akan dibangun beberapa Partai besar ini akan benar-benar terjadi,” katanya. 

“Maka jelas PKS, Gerindra dan Demokrat saja 16 kursi, ditambah lagi koalisi PDIP, Golkar, PPP dengan total 19 kursi.” 

“Sementara,”  lanjut Rendy, “sang petahana Bima Arya yang diusung PAN hanya memiliki 3 kursi, adapun Partai Hanura dengan 4 kursi sudah menggadang-gadang harga mati akan mengusung Bagus Karya Negara sebagai calon Walikota Bogor,” sambungnya. 

Dengan kekuatan PAN yang hanya 3 kursi di DPRD Kota Bogor, maka masih diperlukan 6 kursi sebagi pelengkap persyaratan.

“Jika demikian, ini sebuah ancaman besar bagi Bima Arya karena dapat dipastikan Bima Arya tidak akan bisa maju Pilkada 2018 karena dukungannya hanya 3 kursi.”

“Namun semua itu politik yang bersifat tidak pasti, yang pasti adalah siapapun yang menjadi pemimpin Kota Bogor nanti, harus benar-benar memajukan dan mensejahterakan warga Kota Bogor, bukan memperkaya diri dan memperkaya Partai,”  pungkasnya.

Reporter: Dody
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*