Tunagrahita Binaan Dinsos DKI Bersiap Sambut Hari Disabilitas Nasional 2017

Warga binaan Panti Sosial Bina Grahita Dinsos DKI Jakarta berlatih angklung (dok. KM)
Warga binaan Panti Sosial Bina Grahita Dinsos DKI Jakarta berlatih angklung (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Warga Binaan Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih milik Dinas Sosial DKI Jakarta berlatih tarian kreasi dan tarian tor-tor untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional tahun 2017.

Tarian itu rencananya akan ditampilkan saat HDI 2017 tingkat Provinsi DKI Jakarta, pada bulan Desember nanti.

Kepala Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih, Ngapuli Perangin Angin, Selasa (29/11) mengemukakan, “tidak hanya tarian namun juga permainan angklung dan kasidah akan ikut di tampilkan.”

“Warga binaan kami ikut berpartisipasi dalam peringatan HDI nanti, karena HDI ini memang kami persembahkan untuk mereka sebagai hari raya mereka,” ujar Ngapuli.

Meskipun binaannya terdiri dari para disabilitas intelektual, namun mereka tetap semangat dan tekun berlatih untuk penampilan mereka.

“Dalam persiapan penampilan, instruktur dan pendamping panti memfasilitasi pelatihan mereka sebanyak dua kali seminggu. Latihan itu sengaja dilakukan cukup intensif agar penampilan mereka semakin bagus.”

“Instruktur dan pendamping kami cukup sabar memberikan instruksi kepada mereka. Kadang-kadang mereka terlambat mengerti arahan-arahan dari instruktur atau pendamping,” ucap Ngapuli.

Dalam tarian kreasi dan tarian tor-tor, pihaknya melibatkan lima orang warga binaan panti. Sedangkan angklung ada delapan orang yang dilibatkan dan kasidah ada sembilan orang.

Latihan-latihan itu menurutnya memang bagian dari pelatihan kesenian. Jika tidak ada event, warga binaan tetap berlatih seminggu sekali.

“Latihan ini untuk melatih motorik konsentrasi mereka, karena mereka ini kan disabilitas intelektual. Agak kesulitan jika tidak latih pelan-pelan,” terang Ngapuli.

Mayoritas warga binaan panti disabilitas intelektual ini merupakan orang telantar yang tidak diketahui keberadaan orang tuanya. Mereka merupakan hasil penjangkauan di jalanan Jakarta.

Ngapuli mengatakan bahwa beberapa keluarga kerap datang ke pantinya untuk mencari sanak saudara yang hilang. Karena rata-rata warga binaannya, tidak tahu siapa keluarga mereka.

“Iya banyak orang telantar, saat ini di panti kami saja sudah ada 256 orang. Keluarga tidak tahu dimana,” kata Ngapuli.

Reporter: Is
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*