Jazuli PKS: Akademisi, Dosen dan Mahasiswa Harus Kembangkan Dimensi Keilmuan Politik Islam

Anggota DPR RI Komisi I, Jazuli Juwaini, saat memberikan pidato pada Seminar Internasional politik Islam, Selasa 21/11 (dok. KM)
Anggota DPR RI Komisi I, Jazuli Juwaini, saat memberikan pidato pada Seminar Internasional politik Islam, Selasa 21/11/2017 (dok. KM)

SERANG (KM) – Ketua Fraksi PKS di DPR RI, Jazuli Juwaini, didaulat untuk menjadi Keynote Speaker dan membuka acara Seminar Internasional tentang Politik Islam Dunia yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten di Aula Sjadzali Hasan pada Selasa, 21/11, Serang.

Tampil sebagai narasumber praktisi dan akademisi politik Islam dari sejumlah negara yaitu Otman Milad el Talis (Libya), Abad Umar (Mesir), Mahmud Hussein (Pakistan), Solenn Hus (Perancis) dan Arya Sandi Yudha (Indonesia).

Dalam sambutannya Jazuli mengapresiasi penyelenggaraan seminar yang menghadirkan pembicara internasional ini, sehingga bisa saling bertukar pikiran dan gagasan tentang politik Islam dunia.

Jazuli meyakini dengan bertukar pikiran di antara akademisi dan praktisi dunia akan mengembangkan wawasan keilmuan, khususnya terhadap politik Islam, “sehingga kita makin kaya perspektif baik dalam dimensi teoretik maupun praktek politik Islam,” terangnya.

Anggota Komisi I DPR ini mendorong para akademisi, dosen dan mahasiswa untuk terus mengembangkan dimensi keilmuan politik Islam karena ajaran Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, apalagi politik sebagai sistem bernegara.

“Islam secara doktrinal mempunyai visi rahmatan lil alamin. Visi tersebut menegaskan bahwa Islam agama yang menghendaki keteraturan tatanan dunia dan peradaban atas dasar kemaslahatan dan kemajuan umat manusia,” katanya.

Advertisement

Dalam konteks itulah, lanjut Jazuli, politik Islam berperan sebagaimana Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan politik Islam, mengatakan bahwa dalam Islam berpolitik adalah sarana menuju keteraturan dan cara menuju peradaban. Dengan demikian, politik Islam tidak boleh dipahami hanya sebagai power struggle atau perebutan kekuasaan an-sich sebagaimana buku-buku politik umum menyebutnya.

“Politik itu melekat dalam ajaran Islam. Maka dalam khasanah keislaman kita kenal fiqhu siyasah. Sejarah Islam sendiri sejak kelahirannya tidak dapat dilepaskan dari politik. Rasulullah SAW beliau adalah pemimpin agama dan negara. Beliau selain menjaga agama sekaligus mengatur negara bahkan dunia. Peran ini kemudian dilanjutkan oleh Khulafa ar-Rasyidun,” terang Anggota DPR Dapil Banten ini.

Doktor Ilmu Manajemen ini menegaskan bahwa menjadi tanggung jawab bersama untuk menampilkan politik Islam yang benar-benar sesuai dengan samangat visi Islam yang rahmatan lil alamin. Untuk itu, basis ilmiah tentang politik Islam harus terus dikembangkan dan diperkuat dengan penggalian/penemuan atas sumber-sumber otentik dan sejarah Islam.

“Inilah salah satu tanggung jawab ilmuwan dan akademisi politik Islam. Ajarkan dan kembangkan nilai dan sistem politik Islam yang relevan dengan semangat kemajuan peradaban,” pungkas Jazuli.

Reporter: Indra Falmigo
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*