Aktivis Mahasiswa: “Penampilan Tarian Wanita di Malam Hari Langgar Syariat Islam, Mencoreng Unsyiah” 

Mantan Ketua Panitia Unsyiah Fair XI, Raja Muda Chik (dok. KM)

BANDA ACEH (KM) – Penampilan wanita menari di malam hari pada acara Unsyiah Fair XII dianggap oleh sebagian pihak sebagai keputusan yang “sudah mencoreng kampus Universitas Syiah Kuala sebagai Kampus Jantong Hatee Rakyat Aceh”  sebagai perguruan tinggi negeri tertua di Aceh.

“Unsyiah Fair merupakan event tahunan BEM Unsyiah yang selalu dijaga nilai-nilai Syariat Islam dan acara ini bukan acara yang pertama kali dibuat, namun mengapa nilai Syariat Islam itu bisa hilang di kampus Jantong Hatee Rakyat Aceh pada Unsyiah Fair XII?” kata Raja Muda Cik M, Mantan Ketua Panitia Unsyiah Fair XI kepada wartawan KM, Rabu (8/11/2017).

“Kita tidak menginginkan ketika ada pihak pihak tertentu yang menggunakan lembaga di Kampus Jantong Hate untuk kepentingan pribadi yang dipakai hura-hura tanpa memperhatikan manfaat dan Syariat Islam,” ujarnya.

“Jika kampus diibaratkan sebuah kapal, maka sang nakhodalah yang berperan penting di dalamnya. Bukan hanya berperan penting namun juga menjadi orang yang terpenting karena sekarang seluruh mata terpaku padanya. Sang nahkoda akan mengatur segala hal yang ada. Mengarahkan ke arah mana kapal tersebut akan berlayar. Menuju ke sebuah dermaga yang indah atau malah karam dan tenggelam di tengah lautan,” pungkas Raja.

“Apakah Ketua BEM Unsyiah dan Ketua Panitia Unsyiah Fair XII ingin menenggelamkan Unsyiah sebagai kampus liberal?” ketusnya. 

“Kita mengetahui dalam naungan ajaran Islam, kaum wanita hidup dengan penuh kemuliaan. Wanita terus mendapatkan penghargaan dan dihargai serta dimuliakan semenjak pertama kali dia terlahir ke bumi. Termasuk kesempurnaan agama Islam adalah, bahwa Islam memuliakan wanita muslimah dan memberikan penjagaan terbaik kepada mereka serta memperhatikan hak-haknya,” demikian tutup Raja Muda.

Reporter: Ariandy
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*