KUPAS KOLOM: Menjawab Blunder Anies soal istilah “Pribumi”

KupasMerdeka.com Berita Jakarta
Pasangan Cagub-Cawagub Anies-Sandi bersama tim suksesnya saat memberi keterangan kepada awak media di Kantor DPP Gerindra, Jaksel Kamis 16/2 (dok. KM)

Oleh: Kris Tan, MA*

Pagi ini saya agak bingung ketika melihat berita soal “pribumi” dalam pidato Anies. Sebagai warga bangsa saya ingin mencoba mengomentari soal pribumi yang dimaksud Anies Baswedan gubernur Jakarta yang baru itu.
Betul bicara pribumi pertama kita sepakati dulu apa yang dimaksud pribumi. Kalo kepribumian dikaitkan secara biologis sudah bisa dipastikan Anies dan saya bukan pribumi karena kakek buyut Anies dari jazirah Arab sementara kakek buyut saya juga dari Tiongkok. Namun jika ke pribumian didefinisikan sebagai sebuah kontribusi dan rasa nasionalisme maka mari kita ukur dengan jelas siapa yang lebih nasionalis sesuai dengan definisi nasionalisme

Jika merujuk pada antropologi maka saya bisa pastikan tidak ada yang pribumi di Indonesia ini. Karena bangsa Indonesia ialah bukan bangsa proto melainkan ia kombinasi dari berbagai bangsa.

Jika dikaitkan dengan teori DNA yah harus kita ukur juga secara ilmiah bagaimana kepribumian itu didefinisikan

Kepribumian dan nasionalisme yang saya maksud ialah bagaimana kita sebagai warga bangsa berlomba-berlomba sekuat tenaga untuk berkontribusi nyata terhadap Indonesia tercinta

Istilah pribumi sesungguhnya telah hilang tergerus jaman jika kita kaitkan dengan fenomena diaspora dan teori semua manusia bersaudara yang ada didalam tiap ajaran semua agama

Jadi dalam kontek sesama ilmuan kritik saya soal kepribumian yang dimaksud Anies agak mencederai ilmu pengetahuan maka dalam konteks ini Anies harus banyak belajar lagi soal antropologi dan harus belajar lebih dalam lagi.

Namun saya bisa maklum karena Anies bukan sarjana antropologi. Jadi wajar dia berkomentar seperti itu karena memang dia tidak memahami apa yang dia maksud soal kepribumian.

Yang menjadi kekhawatiran saya adalah melihat sosok Anies yang notabene saya anggap sebagai ilmuan justru keilmuannya menjadi seolah-olah terdegradasi pasca dia terjun didunia politik praktis. Itu yang saya sayangkan sebagai sesama ilmuan. Hal ini saya mengibaratkannya dengan kejadian ketika Juventus turun ke seri B didalam kompetisi Lega Calcio Italia.

Sebagai penutup saya ingin mencotek kalimat penutup Deni Siregar yaitu: Pagi yang cerah sambil menyeruput teh tubruk buatan istri tercinta. Terima kasih Tuhan untuk pagi yang kudus ini

Salam kebangsaan Indonesia
Kris Tan, seorang anak kampung yang selalu merasa mencintai Indonesia. 

*Ketua Presidium Generasi Muda Khonghucu Indonesia (GEMAKU) 

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*