KPAI: Eksploitasi Anak di Bawah Umur, Perusahaan Petasan Harus Ditutup

Kantor pusat KPAI di Jl Teuku Umar, Jakarta (stock) Kantor pusat KPAI di Jl Teuku Umar, Jakarta (stock)

JAKARTA (KM) – Peristiwa memilukan yang terjadi pada Kamis 26 Oktober 2017, kebakaran gedung pabrik petasan milik PT. Panca Buana Cahaya Sukses terus menuai kepedihan bagi para korban.
Dalam peristiwa tersebut korban jiwa diperkirakan 45 orang dan yang menjalankan rawat inap 46 orang tersebar di berbagai RS rujukan dan RS Bun yang paling dekat dengan lokasi kebakaran.

Fakta yang paling miris adalah jumlah anak-anak yang turut menjadi korban. Dari pengawasan ke lokasi, Komisioner KPAI bidang Trafficking dan Eksploitasi Ai Maryati Solihah mendapati 6 anak usia 16 hingga 17 tahun yang sedang dirawat dan dalam kondisi yang mengenaskan. Hal ini menandakan bahwa masih tingginya pekerja anak di sektor formal pada jenis pekerjaan yang membahayakan.

“Pabrik tersebut abai pada keselamatn jiwa pekerjanya dengan memperkerjakan anak-anak dalam jenis pekerjaan yang membahayakan kesehatan. Pabrik ini bau racikan kimia pembuat bahan dasar petasan dan kembang api. Anak ini bekerja bagian packing yang dibayar murah dengan target tinggi sekian ribu pack. Mereka dibayar kisaran 40-50 ribu per hari,” jelasnya kepada kupasmerdeka.com melalui keterangan pers Jumat kemarin 27/10.

Ia mengusulkan pabrik ini harus ditutup dan harus mengikuti proses hukum karena diduga melakukan banyak pelanggaran perundang-undangan, salah satunya adalah UU Perlindungan Anak. “Kami mencium praktik eksploitasi pekerja anak, dengan mempekerjakan anak dibawah umur tanpa disertai aturan dan pengupahan yang jelas, kedua jenis pekerjaan yang mereka lakukan sangat mengganggu kesehatan dan rawan bahaya karena sehari-hari berjibaku dengan bahan-bahan kimia, bau kimia dan mengepack hasil kimia tersebut, ini sangat jauh dari semangat UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan yang mengatur dengan rinci syarat dan aturan jika anak dilibatkan dalam pekerjaan yang aman ringan edukasi dan latihan, serta dalam pengawasan orang tua,” sambung Ai.

“Kami juga mendalami adanya motif rekrutmen pada anak-anak yang bekerja ini melalui pendekatan teman sebaya mereka, teman-temannya bercerita dan mengajak merantau ke Tangerang tanpa diberitahu terlebih dahulu jenis pekerjaan apa yang akan dikerjakan. Hal itu menjadi impian mengubah nasib bagi anak yang notabene putus sekolah, hidup dalam derita kemiskinan, orang tua yang membutuhkan bantuan karena sering sakit dan sudah jompo, sehingga mereka memutuskan ada yang sampai meninggalkan bangku sekolah SMA untuk bekerja di pabrik tersebut,” jelas Ai mengungkap latar belakang anak-anak yang bekerja di pabrik petasan tersebut.

“Kedepan pemerintah harus lebih serius menjalankan program Indonesia tanpa pekerja anak karena sampai saat ini anak yang bekerja masih tinggi, terutama pada usia menuju transisi ke 18 tahun. Namun kita harus komit bahwa mereka saatnya menjalankan pendidikan dan diasuh dengan baik oleh keluarga, kendati faktor kemiskinan di sana tetap sulit dipisahkan saya kira tujuan besar bangsa ini haruslah tetap menjadi tujuan bersama adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan melindungi anak dari kebodohan itu sendiri,” pungkasnya.

Reporter: Deva
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*