Amien Rais: Indonesia Kian Dijajah “Aseng dan Asing”

Amien Rais saat memberikan keterangan kepada awak media, Selasa 10/10 (dok. KM)
Amien Rais saat memberikan keterangan kepada awak media, Selasa 10/10 (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Mantan Ketua MPR Amien Rais mengatakan bahwa negara Indonesia “semakin lama semakin lepas dari fondasi kedaulatan”. Hal tersebut dikemukakannya kepada sejumlah media saat menghadiri pengajian yang diadakan di Gedung Nusantara 3, Kompleks Parlemen, Selasa 10/10.

“Saya memperhatikan makin lama Negara kita ini makin lepas dari fondasi kedaulatan politik, ekonomi, hukum dan HAM dan sebagainya,” tutur Amien.

“Saya melihat ada hal-hal yang  sesungguhnya tidak masuk akal tapi terjadi,” lanjutnya.

“Misalnya masalah Freeport McMoran itu, andaikata tidak diperpanjang itu tidak menyalahi aturan,” tegas Amien.

Menurut salah satu pendiri PAN itu, menghentikan kontrak Freeport tidak akan melanggar konvensi hukum internasional manapun. “Jadi sesungguhnya tidak satupun pasal yang kita langgar, tidak ada satupun konvensi hukum internasional yang kita terabas kalau kita tidak memperpanjang kontrak karya kita dengan Freeport McMoran yang akan berakhir tahun 2020,” katanya.

Amin menyayangkan, mengapa wacana untuk mengambil alih kembali Freeport menjadi milik negara kita dan menjadi bagian integral dari kekuasaan ekonomi kita itu bisa kandas.

“Kok dilepaskan, dibuka kembali, diperpanjang kembali, kemudian katanya 51 persen kita dapet saham tapi nyatanya juga belum jelas dan sebagainya. Jadi menurut saya, ini contoh yang mengerikan, kapan kita bebas dari penjajahan ekonomi asing?” ketus Amien.

Ia juga menyesalkan proyek reklamasi Teluk Jakarta yang menurutnya untuk kepentingan “aseng dan asing”.

“Saya orang awam, tapi saya tahu bahwa reklamasi Teluk Jakarta itu sepenuhnya untuk kepentingan orang luar Indonesia terutama untuk aseng dan asing, bukan untuk orang seperti saya ini, yang tidak mungkin akan membeli pertokoan, apartemen, perhotelan di Teluk Jakarta Utara,” tegasnya.

“Lagi-lagi itu untuk siapa? Jelas bukan untuk kepentingan Nasional, menurut saya subordiner dari kepentingan China. Jadi kalau saya menafsirkan, China itu punya strategi yaitu OBOR, one belt one road. One belt itu jalan darat sutra dari Beijing ke barat melalui 14 provinsi China, Uzbekistan, Kirgyzstan, Kazakhstan sampai ke Turki kemudian ke Rotterdam,” jelas Amien.

“Kemudian kalau one road yaitu jalan sutra lautan dari Beijing, Laut Timur China, Laut Selatan China, Selat Malaka, Selat Sunda, Samudra Hindia ke Angola sampai ke Mesir, terobos Suez, Turki, Rotterdam.”

“Jelas sekali kalau saya katakan reklamasi ini subordiner untuk menfasilitasi kepentigan jalan sutra laut China tersebut,” katanya.

Selain itu, Amien juga mengecam sikap ugal-ugalan dalam proyek Meikarta.

“Saya kira Meikarta ini, ugal-ugalan,” ketusnya.

“Kalau ini kita teruskan, sebentar lagi kita akan menjadi bangsa budak, negara budak.”

“Makanya, mudah-mudahan Gubernur baru Anies-Sandi tetap keukeuh memegang janjinya ditekan siapapun nggak peduli, mereka juga manusia,” sambungnya.

Reporter: Indra Falmigo
Editor: HJA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*