KPAI Dalami Kasus Oknum Biksu Cabul, Ada Indikasi Pelecehan Sudah Terjadi Berulangkali

Kantor pusat KPAI di Jl Teuku Umar, Jakarta (stock)
Kantor pusat KPAI di Jl Teuku Umar, Jakarta (stock)

BANDUNG (KM) – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan koordinasi mengenai kasus trafficking disertai kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta dan Batam dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan Dinas Sosial Jawa Barat di Kota Bandung, Senin (11/9). Menurut Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi, Ai Maryati Solihah, pihaknya masih menunggu hasil penilaian terhadap para korban.

”Dari tiga korban yang ada, semua diiming-imingi mendapatkan gaji yang besar dari majikan sebelumnya, membuat para korban mau untuk menuruti dan mengikuti ajakan pelaku,” ungkap Ai Maryati melalui siaran pers yang di terima kupasmerdeka.com Selasa (12/9).

Selama di Batam, lanjut dia, para korban bekerja sebagai PRT di Vihara. Bahkan, para korban dilibatkan dalam kegiatan sosial yang dilakukan oleh Vihara. Yang mengenaskan, disana mereka tidur satu barak disatukan laki dan perempuan. Kini, dari tiga korban tersebut salah satunya sudah dibawa pulang ke rumah orang tuanya di Banten, Minggu lalu (10/9).

Sementara itu, dua korban lainnya diamankan di rumah aman P2TP2A Jawa Barat di Bandung. Salah satu korban yang berasal dari Bogor masih sangat trauma dan keterangannya berubah-ubah, memberikan pandangan kosong bahkan sering lupa ketika ditanya identitas. Anak itu masih berusia kelas 5 SD ketika ia dilecehkan.

”Akibatnya, informasi yang digali dari korban sangat sulit, karena sering kosong” tegas Ai.

Anak satu lagi yang berasal dari Jawa Tengah yang akan segera dipulangkan mengingat ia sudah mulai pulih.

“Untuk itu, diperlukan pengawasan yang sangat ketat pada kasus ini sehingga mengharuskan kita semua melakukan pengawasan khususnya pada area rawan rekrutmen trafficking anak. Pengawasan ini sangat diperlukan di area kerja sektor formal misalnya buruh pabrik, kantong-kantong pekerja migran, tempat destinasi wisata seperti puncak dan pantai,” tambahnya.

Dia menegaskan, kasus yang terjadi di Batam termasuk kasus yang baru. Di mana menggunakan modus agama bahkan pelaku tokoh agama untuk melakukan kasus trafficking.

Dalam diskusi dengan DP3AKB Jabar terungkap bahwa selain kasus trafficking, terdapat perlakukan kekerasan seksual yang dilakukan oleh Vihara tersebut yang terjadi di Batam yang bahkan sudah dilaporkan dua tahun lalu kepada pihak kepolisian.

Namun, terdapat pembiaran dan tidak dilakukan proses secara hukum. Diindikasi, kasus tersebut ditutupi oleh pihak Vihara, dan kasus tersebut menghilang begitu saja.

”Kemungkinan besar, kasus trafficking dan kekerasan yang terjadi sudah berkali-kali terjadi,” ungkapnya.

Di sisi lain Ai menyatakan, untuk kasus kekerasan seksual, pihaknya akan berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya.

Di tempat yang sama, Sekretaris P2TP2A, Rini Rinawati mengungkap,  kasus trafficking di Jabar seringkali didorong oleh orangtua sendiri.

”Di mana orangtua seringkali mendorong agar anak bisa bekerja lebih dini,” katanya.

Hal lainnya, terdapat pemalsuan data yang dilakukan oleh aparatur pemerintahan di tataran paling bawah. Sehingga, perlu ada persamaan persepsi di pemerintahan. ”Persamaan persepsi ini anak di bawah usia 18 tahun ini, jangan dibuatkan dokumen untuk bekerja,” pungkasnya.

Reporter: Deva
Editor: HJA

Komentar Facebook

1 Comment

  1. Tuntasin dong. Jgn cuma gitu doang, kpai rakyat sudah gaji anda pantastis, jgn cuma jadi tukang publikasi doang

Leave a comment

Your email address will not be published.


*