KUPAS KOLOM: Pendirian Patung Kwan Kong di Tuban Tidak Peka Terhadap Keutuhan Berbangsa dan Bernegara

Patung Kwan Seng Tee Koen atau Kwan Kong di Tuban, Jawa Timur (stock)
Patung Kwan Seng Tee Koen atau Kwan Kong di Tuban, Jawa Timur (stock)

Oleh: Kris Tan, MA*

Menyikapi Polemik Pendirian Patung Guan Yu Chang yang bergelar Kwan Seng Tee Koen yang dibangun dalam Kelenteng Tuban maka Generasi Muda Khonghucu Indonesia [gemaku.org] menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh teman-teman pengurus Kelenteng Tuban adalah sikap yang tidak peka terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara.

Tuduhan yang beredar bahwa itu diprakarsai oleh umat Khonghucu adalah sebuah kekeliruan dan fitnah besar bagi penganut Khonghucu

Sebab dalam tradisi ajaran leluhur Tionghoa sama sekali tidak dikenal doktrin membangun icon patung yang megah dan absurd yang bahkan menuju pada praktik-praktik menduakan Tuhan YME.

Dalam tradisi Khonghucu yang menjadi substansi religiusitas dan spiritualitas seseorang adalah bukan pada penyembahan terhadap benda-benda mati. Melainkan itu harus diejawantahkan dalam mencontoh prilaku dan meneladani sikap yang ditunjukan oleh Kwan Seng Tee Koen (Kwan Kong) yang kebetulan memang figur yang dianggap sebagai tokoh yang menjunjung tinggi Zhi, Ren dan Yong yaitu: Kebijaksanaan, Cinta kasih dan Kebenaran

Fenomena pengkultusan yang berlebihan justru telah menodai doktrin utama ajaran leluhur Tionghoa yang menyatakan “Tiada tempat lain meminta doa kecuali kepada Tian Tuhan YME”.

Maka Generasi Muda Khonghucu Indonesia menghimbau dan mendesak pihak kelenteng Tuban untuk segera membatalkan rencana atau membongkar patung tersebut karena sama sekali tidak sesuai dengan prinsip tradisi etnis Tionghoa yang mengedepankan kemanusiaan dan cinta kasih. Dan daripada mencederai kehidupan berbangsa maka sebaiknya segera Patung tersebut dibongkar saja.

Ketika Kwan Seng Tee Koen menjadi gubernur di daerah Jingzhou justru beliau menganjurkan pada seluruh pengikutnya untuk menghargai apa yang memang menjadi aturan rakyat Jingzhou disana. Kwan Seeng Tee Koen justru salah seorang tokoh yang mengajarkan bagaimana seseorang harus mengabdi dan cinta pada tanah air yang ditinggali olehnya dimanapun dia berada.

Jika Patung tersebut justru mencederai prinsip berbangsa maka Shen Ming Kwan Seng Tee Koen pun dipastikan tidak akan pernah sependapat jika dirinya di sejajarkan dengan Sang Pencipta sebab beliau adalah tokoh yang justru dijunjung tinggi karena kesetiaanya kepada persahabatan sejati dan patriotisme, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Soal pernyataan yang mengkaitkan Partai Komunis Tiongkok dengan Patung tersebut adalah hal yang absurd karena zaman pada saat Kwan Seng Tee Koen hidup justru Republik Rakyat Tiongkok yang didirikan oleh Partai Komunis Tiongkok justru belum lahir dan belum ada, Bahkan kakeknya ketua Mao Zedong pun belum lahir pada zaman dan era Kwan Seng Tee Koen hidup yaitu pada zama dinasti Han akhir yang dikenal pada zaman Sam Kok (Three Kingdoms) pada tahun 221 M.

Sekali lagi Generasi Muda Khonghucu Indonesia menghimbau kepada seluruh etnis Tionghoa Indonesia untuk selalu meneladani sikap Kwan Seng Tee Koen dengan sikap terpuji dan rasional dengan teladan prilaku, bukan justru menyembah Patung dan menduakan sang Pencipta

Janganlah praktik praktik sinkretisme agama yang gak jelas justru mengaburkan substansi nilai nilai yang diajarkan oleh ajaran leluhur Tionghoa yaitu untuk memanusiakan manusia dengan prinsip Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Bijaksana.

Sebab dalam tradisi etnis Tionghoa bahwa agama ialah alat untuk mencapai tujuan bersama memanusiakan manusia, bukan sebaliknya.

Ingat prinsip utama dalam tradisi Tionghoa adalah “Menuntut diri sendiri bukanlah menuntut orang lain. Melakukan pembinaan diri menjadi proyek sentral bagi penganut Khonghucu lalu mengabdikan dirinya pada masyarakat dimana ia tinggal dan berkarya nyata diseluruh kolong langit ini. Bukan justru mencari cari masalah yang tidak substantif dan menjadi korban dari sikap konglomerasi para donatur arogan dan sombong yang tidak faham dalam substansi religiusitas dan spiritualitas.”

*Ketua Presidium Generasi Muda Khonghucu Indonesia (gemaku.org)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*