Komnas Anak: “Pemerintah Kota dan Kabupaten Tidak Boleh Tutup Mata Terhadap Prostitusi Anak di Bogor”

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait (dok. Kompas.com)
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait (dok. Kompas.com)

JAKARTA (KM) – Terbongkarnya jaringan prostitusi anak dan terus meningkatnya kejahatan seksual melalui jaringan online yang melibatkan anak di kawasan destinasi wisata Puncak Bogor baru-baru ini bukanlah perkembangan baru. Namun Komnas Perlindungan Anak memberikan apresiasi kepada Polres Bogor dan Direskrimum Polda Jawa Barat yang telah bekerja keras membongkar kasus prostitusi yang melibatkan anak di kawasan wisata tersebut.

Sebelumnya, bulan April tahun ini Polres Bogor bersama Mabes Polri sesungguhnya telah membongkar jaringan prostitusi online yang juga melibatkan puluhan anak usia remaja dari berbagai tempat. “Jadi apa yang terjadi hari ini tidaklah terlepas dari kontribusi banyak pihak dan pemangku kepentingan. Masyarakat sekitar bisa dikatakan menutup mata bahkan tergolong cuek terhadap fenomena ini, bahkan pemilik hotel dan penginapan di tempat ini juga ikut membiarkan demi meraup rupiah, apalagi Pemerintah Bogor juga tidak mempunyai sensitifitas terhadap kasus prostitusi anak ini walaupun kota ini sudah dinyatakan pemerintah pusat sebagai kota layak anak, serta yang cukup menjijikkan dan memalukan justru permintaan konsumen dewasa terpelajarlah yang banyak terhadap prostitusi anak tersebut,” jelas Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait.

“Inilah salah satu peluang yang menyebabkan meningkatnya prostitusi anak bertaraf internasional terus berkembang di kawasan Puncak Bogor, kawin kontrak dengan warga negara asing di kawasan ini sudah menjadi hal yang biasa di tengah-tengah sebagian masyarakat di kawasan destinasi wisata ini, juga salah satu faktor pendorong menjamurnya anak-anak terlibat dalam dunia prostitusi ini adalah bujuk rayu, tipu muslihat dan mengkambinghitamkan kemiskinan yang dilakukan para predator prostitusi anak tersebut. Ini juga salah satu pemantik anak-anak menjadi korban prostitusi,” sambungnya.

Pria berkacamata itu menambahkan, pemicu keterlibatan anak-anak usia sekolah dari Kota Bogor dan sekitarnya dalam jaringan prostitusi anak daring dipengaruhi oleh gaya hidup dan kurangnya kontrol orangtua dan lingkungan sekolah terhadap perubahan perilaku anak remaja dalam menghadapi globalisasi, informasi serta permisifnya keluarga terhadap seks.

“Teknologi juga turut serta mempengaruhi gaya hidup dan pola konsumsi anak anak,” tambah Arist.

Oleh sebab itu, untuk memutuskan mata rantai jaringan Online Child Prostitution yang melibatkan jaringan online internasional, Komnas PA menyerukan sikap tegas pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor terhadap fenomena meningkatnya prostitusi online di kawasan Puncak.

“Demi menyelamatkan anak-anak dari ancaman bahaya penyakit menular seks dan HIV/AIDS akibat maraknya prostitusi online anak, Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai pelaksana tugas dan fungsi keorganisasian dari Perkumpulan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pusat yang bergerak di bidang promosi, pembela dan perlindungan anak di Indonesia mendesak pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor untuk segera menertibkan dan menindak tegas hotel dan penginapan yang memberikan akses terhadap praktek prostitusi anak di kawasan destinasi wisata Puncak Bogor,” tegas Arist.

Pihaknya juga mendorong agar Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor segera menertibkan praktek-praktek kawin kontrak dengan warga negara asing di kawasan ini dan mendesak pula aparat penegak hukum menindak tegas bagi para agen, cukong, perantara dan penyedia layanan prostitusi anak

“Dan dalam waktu yang tidak begitu lama Komnas Anak juga mendorong agar segera pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor, Walikota dan Bupati untuk merencanakan Gerakan Perlindungan Anak Sekampung sebagai wujud gerakan partisipasi masyarakat untuk menjaga dan melindungi anak di kawasan ini. Walikota dan Bupati di Bogor tidak boleh menutup mata, bergerak dan bekerja,” tutup Ketua Umum Komnas PA itu melalui pesan singkat WhatsApp.

Reporter: Denni France/Agung
Editor: HJA

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: