KUPAS KOLOM: Episode Sang Pembela – “Aku Adalah Mereka, Mereka Adalah Aku”

Sugeng Teguh Santoso (dok. KM)
Sugeng Teguh Santoso (dok. KM)

Oleh: Sugeng Teguh Santoso

Menyusuri lorong-lorong pemukiman warga kebanyakan di Bogor, khususnya di Sindang Sari, aku bertemu dengan komunitasku, komunitas yang dulu aku pernah menjadi bagian dari denyut hidup mereka.

Warga urban Bogor, tinggal dalam petak-petak ukuran 3×4 m² yang kadang diisi lebih dari satu keluarga, sanitasi seadanya, pengap, padat, berkelok-kelok dalam lorong-lorong kecil kadang seukuran tubuh kita. Mereka tinggal dalam rumah yang berada dalam lerengan-lerengan kota dan daerah aliran sungai; setiap saat terancam rumahnya longsor, hancur, bahkan nyawa melayang. Belum dan tidak ada solusi permanen dari Pemkot Bogor atas persoalan keamanan dari longsor ini. Keadaan mereka bahkan lebih tidak aman karena ancaman longsor tersebut dibandingkan aku dulu di Gg. Rukun Mangga Dua, Jakarta Pusat.

Mereka warga Kota Bogor; ada yang lahir di Bogor dan asli orang Bogor, ada urban dari Cilacap, Sukabumi, Cianjur dll. Mereka bekerja di sektor informal, sopir, berdagang, kerja kasar, tukang batu, banyak juga pengangguran.

Malam ini di Sindang Sari aku bertemu dengan komunitas yang sama dengan komunitas miskin kota Jakarta. Kondisi mereka memprihatinkan, berada di pinggir sungai yang akan kena imbas banjir bila air besar, air akan masuk merendam isi rumah setinggi lutut, padahal rumah sudah ditinggikan, mengungsi sementara akhirnya.

Akan tetapi walau ada keluhan, mereka adalah orang-orang yang tegar, tidak menyerah. Ketika aku datang, mereka seperti mendapat forum untuk menumpahkan uneg-uneg mereka atas kondisi sanitasi lingkungan, infrastruktur lingkungan, fasilitas sosial Posyandu dll. Mereka tumpahkan pada saya. Yang mereka tidak tumpahkan adalah soal sandang dan pangan. Mereka bisa atasi sendiri walau pas-pasan.

Kondisi buruknya sanitasi dan ketiadaan ruang terbuka hijau dalam perkampungan kontras dengan gelontoran milyaran untuk sekedar membuat cantik pedestrian, taman dan Lawang Selapan. Apakah ini politik pembuaian?

Secara psikologis dapat saya tangkap mereka haus dikunjungi, dijamah, disapa, ditepuk dan ditanya, apa kabar saudara-saudara? Sapaan tersebut adalah keran yang akan meluncurkan puluhan keluhan seperti di atas. Saya datang menyapa, maka setumpuk keluhan segera hadir; apakah ini yang membuat para politisi, pejabat pemerintah takut turun ke bawah, takut dituntut pemenuhan hak-hak mereka akan kesejahteraan sebagai warga negara?

Keluhan mereka harus diatasi, wajib diatasi dan mereka wajib diberi fasilitasi untuk sejahtera lahir batin. Pemerintah mampu dalam ukuran yang adil memenuhi hak-hak mereka.

Untuk itu saya turun pada mereka, sebagai seorang yang pernah hidup sama dalam kemiskinan seperti mereka, saya faham apa artinya empati, simpati, pertolongan. Sebagai anak yang ayahnya sopir becak dan bajaj saya mengerti perasaan direndahkan, dipandang sebelah mata. Karenanya saudara-saudaraku, aku hadir.

Kita harus atasi masalah-masalah saudara-saudara bersama-sama, pemerintah dapat menjadi dinamisator dan fasilitator kesejahteraan saudara-saudara dengan politik keuangan di APBD, tetapi saudara juga harus meningkatkan SDM; anak-anak saudara harus diberi dukungan yang layak untuk dapat berhasil keluar dari lingkungan pengap ini, bangkit memperbaiki taraf hidup.

Saya akan berjalan dan berdiri bersama dengan saudara-saudara karena saya tahu rasanya menjadi saudara saat ini.

Salam berjuang!

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*