Copot Pangeran Bin Nayef, Raja Saudi Tunjuk Pangeran Mohammed bin Salman Sebagai Putra Mahkota

Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (Bandar Algaloud/Reuters)
Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (Bandar Algaloud/Reuters)

(KM) – Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud telah menunjuk putranya yang juga Menteri Pertahanan kerajaan tersebut, Pangeran Mohammed bin Salman (31) sebagai putra mahkota, menggantikan posisi Pangeran Mohammed bin Nayef yang telah dicopot dari posisi tersebut, Rabu 21/6.

Pangeran Mohammed bin Nayef juga telah dicopot dari jabatannya sebagai Menteri Dalam Negeri.

Pangeran Mohammed bin Salman diyakini sebagai figur utama di balik agresi militer koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman, yang telah meluluhlantakkan negara Arab termiskin itu. Menteri Pertahanan itu juga memimpin sebuah dewan perekonomian yang berupaya melakukan diversifikasi terhadap perekonomian Arab Saudi, yang tengah menghadapi penurunan menyusul lemahnya harga minyak bumi sejak akhir tahun 2016.

Sementara itu, Pangeran Bin Nayef, sebagai Menteri Dalam Negeri, sebelumnya bertanggungjawab atas pengawasan terhadap keamanan dan upaya kontra-terorisme di Arab Saudi, dan menurut laporan kantor berita AP, ia memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat.

Sebuah dekrit kerajaan yang dikeluarkan tadi mengatakan bahwa mayoritas dari anggota Dewan Suksesi Arab Saudi, yang terdiri dari para pangeran keturunan Abdulaziz Al-Saud, telah menyetujui perubahan jalur suksesi tahta kerajaan itu, dengan 31 dari 34 anggota menyetujuinya.

Pangeran Mohammed bin Salman juga dikenal dengan rencana perekonomiannya untuk Arab Saudi yang disebut dengan istilah “Vision 2030”, yang bertujuan mereformasi ekonomi Arab Saudi, menghentikan ketergantungan kerajaan tersebut pada penjualan minyak bumi dan mendorong perkembangan sektor swasta.

Advertisement

Salah satu inisiatifnya adalah menjual antara 5-10 persen dari saham perusahaan minyak Aramco, yang menurut Pangeran bin Salman, akan menyelamatkan perekonomian Arab Saudi dengan menghasilkan puluhan miliar dolar yang akan diinvestasikan kepada penciptaan lapangan pekerjaan.

Ironisnya, pada akhir Mei lalu, Kerajaan Arab Saudi menandatangani kesepakatan pembelian persenjataan militer dengan Presiden AS, Donald Trump, senilai 110 miliar dolar AS. Keputusan Presiden AS untuk menjual persenjataan senilai ratusan miliar dolar kepada Arab Saudi tersebut menuai kecaman dari sejumlah anggota Kongres AS, yang menilai persenjataan tersebut hanya akan digunakan untuk melakukan “kejahatan perang” di Yaman, dimana jutaan penduduknya kini menghadapi krisis kelaparan terparah di dunia akibat perang dan blokade oleh koalisi Arab Saudi, menurut lembaga kemanusiaan Oxfam.

Agresi militer yang dikomandoi oleh Pangeran Mohammed bin Salman itu dilaporkan telah membunuh ribuan warga sipil di Yaman. Kemarin, Uni Eropa mengeluarkan pernyataan kekhawatiran terhadap serangan udara Arab Saudi terhadap sebuah pasar di Provinsi Sa’adah, yang membunuh setidaknya 25 warga sipil.

Konflik yang pada awalnya diperkirakan oleh pihak Arab Saudi akan berakhir dalam hitungan bulan itu kini sudah berkecamuk selama lebih dari dua tahun, tanpa tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.

Reporter: HJA/RT

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: