Pengamat: “Direksi Jasa Marga, Gaji Fantastis Kinerja Miris!”
BOGOR (KM) – Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Marga yang dinakhodai Desi Arryani menjadi sorotan karena kinerja perusahaan tersebut dinilai berdampak langsung terhadap masyarakat banyak.
Kinerja perusahaan pengelola sejumlah ruas jalan tol itu mendapat kritikan tajam dari pengamat kebijakan publik di Center for Budget Analysis (CBA). “Publik sepertinya mesti lebih bersabar lagi, minimal untuk sekedar masalah kemacetan di tol misalnya. Anggap saja kemacetan yang dirasakan tiap hari tersebut sebagai bekal melatih kesabaran bapak-ibu sekalian, karena sebentar lagi bakalan menghadapi bulan puasa,” tutur Koordinator Investigasi CBA Jajang Nurjaman kepada KM kemarin.
“Masalah kemacetan belum teratasi mungkin saja karena saat ini memang Jasa Marga masih fokus menggenjot proyek jalan Tol. Tapi disini juga lagi dan lagi masih banyak permasalahan. Proyek yang sebagian besar dananya berasal dari pinjaman bank tersebut banyak potensi terjadinya kebocoran,” lanjut Jajang.
Menurutnya, permasalahan di atas merupakan masalah lama yang belum sanggup dipecahkan oleh jajaran pejabat Jasa Marga. “Seolah mereka kerja setengah hati, ala kadarnya seperti tidak digaji saja. Padahal faktanya para pejabat Jasa Marga tersebut mendapatkan upah dan berbagai macam tunjangan yang sangat fantastis,” sambungnya.
Jajang pun merincikan tunjangan yang diterima oleh jajaran direksi Jasa Marga. “Untuk 10 anggota direksi saja total gaji yang digelontorkan negara pada tahun 2016 mencapai Rp.22.598.722.479 masing-masing direksi termasuk Desi Arryani sebagai direktur utama selain mendapatkan gaji pokok juga mendapatkan tunjangan perumahan, THR, ditambah Tantiem (insentif kinerja).”
“Desi Arryani misalnya yang baru menjabat jadi Direktur utama sejak 29 Agustus 2016 perbulannya mendapat gaji pokok sebesar Rp. 130.000.000. ditambah tunjangan perumahan sebesar Rp.110,000,000 hanya dalam waktu 4 bulan Direktur Utama Jasa marga sudah mengantongi uang sebesar Rp.630.000.000. Angka tersebut belum ditambah tantiem.”
“Sedangkan untuk anggota direksi masing-masing mendapatkan gaji pokok sebesar Rp. 117.000.000 perbulan, ditambah tunjangan perumahan sebesar Rp.27.500.000 perbulan, serta THR Rp. 117,000,000 ditambah insentif kinerja di tahun 2016 yang mencapai Rp. 1.975.957.380. Masing-masing anggota direksi dalam satu tahun mendapatkan total gaji sebesar Rp. 3.826.957.380.”
Melihat fakta di atas, lanjut Jajang, sepertinya kata sabar sudah tidak relevan lagi menyikapi kinerja Jasa Marga yang lamban. “Dengan gaji selangit harusnya diimbangi dengan kinerja yang berkualitas, bukan malah sebaliknya. Mungkin hal ini juga yang mendorong Menteri Rini Sumarno kepikiran untuk menjadikan Warga Negara Asing memimpin beberapa BUMN, karena kebanyakan Dirut yang diangkatnya mengecewakan seperti di Jasa Marga,” tutupnya.
*Red
Leave a comment