Disbudpar: “Desa Wisata Harus Miliki Daya Tarik Budaya, Alam, atau Produk Buatan Lokal”

Pemaparan tentang Desa Wisata oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor di Hotel The Rizen, Cisarua Selasa 4/4 (dok. KM)
Pemaparan tentang Desa Wisata oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor di Hotel The Rizen, Cisarua Selasa 4/4 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor memberi dukungan kepada masyarakat untuk menata Desa Wisata di 25 desa se-Kabupaten Bogor.

“Alhamdulillah program desa wisata yang fokus pada pengembangan dan pengelolaan potensi yang ada di desa-desa didukung penuh oleh pemerintah,” kata Ketua Forum Desa Wisata Kabupaten Bogor, M. Eko Windiana kepada kupasmerdeka.com di Hotel The Rizen Cisarua Bogor, Selasa (4/4).

Kata Eko, saat ini program desa wisata lebih fokus terhadap pemberdayaan masyarakat desa itu sendiri. Dia mengatakan bahwa pemerintah kini tetap mengembangkan konsep desa wisata. Konsep desa wisata adalah community based tourism atau pariwisata berbasis komunitas, di mana masyarakat sebagai pemilik sekaligus pengelolanya. Peran pemerintah sendiri lebih kepada sisi pemberdayaan masyarakat.

“Kalau desa wisata itu ya memang dikelola oleh masyarakat,” ujar Eko.

Menurut Eko, dari begitu banyaknya desa di wilayah Kabupaten Bogor, tak semua bisa menjadi desa wisata. Sebuah desa tentu harus memiliki daya tarik, baik itu budaya, alam, maupun daya tarik produk buatan lokal.

Daya tarik tersebut kemudian dikemas menjadi sebuah atraksi yang menarik para wisatawan, misalnya menjelaskan bagaimana cara pembuatan makanan atau mengolah minuman khas desa tersebut dan aktivitas lain yang ada di sana.

Advertisement

“Intinya sih bagamana caranya mereka (wisatawan) datang tidak hanya melihat saja. Tapi bagaimana caranya wisatawan bisa berinteraksi dengan pengelolanya di situ,” ucap Eko.

Lanjut Eko,  keunikan merupakan kriteria wajib bagi desa yang ingin menjadi desa wisata. Jika tak ada keunikan yang bisa ditonjolkan, masih ada faktor SDM yang bisa membantu. Desa wisata harus menawarkan beragam aktivitas kepada para wisatawan yang berkunjung. Seperti, aktivitas di mana wisatawan diajak mengelilingi desa, kemudian melihat pembuatan alat-alat rumah tangga khas desa dan melihat warga membuat minyak kelapa. Ada pula memasak hidangan khas lokal dan cara membajak sawah dengan sapi.

“Ditambah adanya homestay di desa wisata memiliki daya pikat tersendiri bagi wisatawan. Dengan bermalam di homestay, wisatawan bisa berinteraksi dengan pemilik rumah,” ujar Eko.

Intinya, tambah Eko, konsep-konsep kehidupan sehari-hari warga desa wisata bisa dikemas menjadi sebuah atraksi. Selain itu, konsep desa wisata biasanya mengenai budaya di masing-masing desa yang dikembangkan.

“Wisatawan sekarang itu kan sudah agak berubah ya. Mereka tidak hanya sekadar datang kemudian pergi, tetapi ada sesuatu yang mereka ingin bawa,” pungkasnya.

Reporter: dedi/razik
Editor: HJA

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: