DK PBB Keluarkan Resolusi Desak Israel Hentikan Pendudukan Palestina, AS Turut Sepakati

Bendera Israel (dok. Spiutnik)
Bendera Israel (dok. Spiutnik)

(KM) – Dewan Keamanan (DK) PBB akhirnya telah mengeluarkan resolusi yang mendesak Israel agar menghentikan aktivitas pendudukannya di wilayah Tepi Barat dan Jerusalem Timur, Palestina, Jumat 23/12 kemarin. Draf resolusi serupa yang diajukan setiap tahunnya di hadapan DK PBB selalu menemui kebuntuan lantaran diveto oleh Amerika Serikat, namun setelah 25 tahun akhirnya AS tidak menggunakan hak vetonya dan turut menyepakati resolusi tersebut.

Sebagian pengamat menengarai bahwa tindakan AS tersebut merupakan cerminan dari ketegangan dalam hubungan antara Presiden AS Barack Obama dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Seperti yang dilansir oleh kantor berita Sputnik, menurut mantan diplomat Israel Dan Arbell, keputusan mengejutkan oleh Washington itu memiliki dimensi pribadi.

“Ini, sepertinya, adalah sebuah bentuk pembalasan dari Obama terhadap Netanyahu setelah 8 tahun hubungan yang tidak harmonis,” ujar Dan kepada Radio Sputnik, Minggu 25/12.

Hubungan yang cukup tegang antara Obama dengan Netanyahu telah mempersulit hubungan AS-Israel sejak lama. Konsultan strategis di Pusat Kebijakan Timur Tengah (Center for Middle East Policy) di Brookings Institution itu mengamini bahwa dikeluarkannya resolusi tersebut merupakan sebuah momen bersejarah yang akan mempengaruhi setiap proses perdamaian di masa depan walaupun dokumen tersebut tida bersifat mengikat.

“Saat ini [resolusi tersebut] lebih bersifat simbolis karena ianya tidak memiliki implikasi secara langsung terhadap operasi [Israel]. Ianya memang meminta agar Israel menyerahkan laporan kepada Dewan Keamanan setiap tiga bulan, tapi tidak lebih dari itu. Namun ia mempunyai makna simbolis dan mungkin akan dijadikan sebagai alat diplomasi untuk proses perdamaian di masa depan,” jelas pengamat itu.

Resolusi yang disepakati Jumat lalu disepakati oleh 14 anggota Dewan Keamanan PBB dari AS, dengan 1 anggota abstain. Keputusan Washington untuk tidak memveto resolusi itu bertolak belakang dengan kebijakan AS terhadap Israel, dimana AS selalu melindungi sekutu utamanya itu dari dorongan serupa dengan memvetonya di DK PBB.

Namun menurut Dan Arbell, peruahan ini sebenarnya tidak mengejutkan. “Angin-angin ini sudah terasa sejak lama. Ada sebuah kesadaran bahwa saat Obama bersiap untuk meninggalkan jabatannya, ia mungkin ingin melakukan satu langkah terakhir untuk meninggalkan kesan atau meninggalkan sesuatau untuk generasi masa depan agar berusaha untuk mencapai solusi bagi konflik Israel-Palestina,” lanjut Dan.

Ia juga melihat bahwa Obama dan timnya tidak setuju dengan aktivitas pendudukan Israel sejak awal masa kepemimpinannya. “Ini jelas sejalan dengan pemikiran mereka dan pendapat mereka bahwa keputusan ini akan bermanfaat di masa depan untuk mempertahankan harapan solusi dua negara yang mereka rasa mulai memudar dengan berlanjutnya aktivitas pendudukan Israel,” sambungnya.

Namun menurutnya, Israel akan terus melanjutkan kebijakan pendudukan mereka walaupun ada resolusi DK PBB yang menyerukan penghentiannya. “Saya kira Israel akan berupya membuktikan bahwa resolusi ini tidak berpengaruh terhadap kebijakan pendudukan mereka,” kata pengamat itu.

Namun menekankan pentingnya dukungan AS terhadap kebijakan-kebijakan Israel, Dan Arbell menjelaskan bahwa yang utama bagi Israel saat ini adalah untuk menunggu hingga presiden terpilih AS Donald Trump dilantik, lalu melobi untuk dukungannya bagi kelanjutan aktivitas pendudukan Israel atas Palestina. “Namun saat ini saya perkirakan Israel akan melanjutkan aktivitas pendudukn mereka walaupun ada resolusi Dewan Keamanan ini,” tutupnya.

Sebelum akhirnya disepakati, Trump sudah berupaya melobi Presiden Obama untuk memveto resolusi itu dalam sebuah pernyataan yang ia keluarkan pada Kamis lalu 22/12.

Pendudukan Israel atas Palestina dipandang oleh banyak kalangan sebagai bentuk penjajahan dan penindasan terhadap warga Palestina. Konflik bersenjata kerap tersulut ketika warga Palestina melakukan perlawanan terhadap upaya otoritas Israel untuk merebut lahan mereka untuk dibangun perumahan-perumahan untuk warga Israel. Presiden Indonesia Joko Widodo sebelumnya, saat kunjungan diplomatisnya ke Iran, kembali menekankan komitmennya dalam dukungannya untuk Palestina. Selain itu, diantara bentuk protes warga dunia terhadap tindakan Israel adalah gerakan internasional Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS) yang dikecam oleh Israel dan pendukungnya. (HJA)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*