Pungli Berkedok “Jatah Koordinasi” Masih Marak Dilakukan Oleh Aparat

Panti Pijat Melati Mas di Cipayung, Jakarta Timur yang diduga mencuri listrik dan menyuap aparat (dok. KM)
Panti Pijat Melati Mas di Cipayung, Jakarta Timur yang diduga mencuri listrik dan menyuap aparat (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Apapun namanya, pencurian dan pungli dikategorikan sebagai tindak pidana dan pelanggaran. Bahkan pemerintah pun saat ini sedang gencar-gencarnya menertibkan pungli di semua sektor. Namun upaya pemerintah itu masih di tahap awal dan saat ini tindakan-tindakan nakal itu masih marak.

Contohnya di wilayah Jakarta Timur, kecamatan Cipayung. Dalam pantauan media KM, sebut saja sebagai contoh kecil yang ada, panti pijat refleksi dan urut tradisional “Melati” yang berlokasi di wilayah Jalan Raya Taman Mini, berdekatan dengan Polsek Cipayung. Dalam pantauan wartawan KM, tempat tersebut saluran listriknya menyantol langsung ke tiang yang memang berdekatan dengan tiang listrik tersebut.

Saat dikonfirmasi Sabtu 18/11, menurut keterangan Mulih, salah satu terapis di panti pijat itu, ternyata tempat itu juga memberikan uang suap ke sejumlah instansi.

“Pemilik mah jarang ditempat. Paling tulang (sapaan nama pemilik) dia sebulan sekali itupun cuma kontrol juga kasih dan nitipin amplop masing-masing yang minta jatah koordinasi, Polsek, Satpol PP, orang kecamatan, kelurahan juga ormas,” bebernya.

“Kalau masalah listrik mah saya ga tau karena saya baru 2 bulan,” paparnya.

Akhirnya “tulang” berhasil dihubunginya melalui HP. Dengan nada emosional dirinya mengatakan, “saya buka tempat itu baru 1 tahun jadi gak tau siapa yang bermula nyantol listrik? Pokoknya saya masuk dah ada itu. Kemarin juga petugas P2TL datang saya bilang ya tolong lah bang dibantu untuk buat meteran. Petugas memberi saya harga Rp. 2jt. Sampai sekarang belum terpasang juga. Kalau masalah izin saya dijanjikan oleh orang kelurahan pokoknya dah cukup ini aja aman kok. Semua masing-masing dah punya jatahnya pasti saya titipin tiap bulannya dari Polsek, Satpol PP, orang kelurahan, Kecamatan,” ketus Tulang.

Menurut ketua umum Tuntas Nasional, Yoyo Suharyono, “apapun namanya pencurian dan pungli adalah pelanggaran besar dan dikategorikan sebagai suap. Apalagi mereka yang menerima itu semuanya berlabelkan Aparatur Sipil Negara (ASN) juga oknum Polri (Polsek red) juga ikut-ikutan terima yang secara tidak langsung membekingi tempat tersebut.”

“Terlebih adanya unsur pencurian listrik negara yang sudah dilakukan pemilik tempat ini selama 1 tahun. Padahal sebelumya saya sempat tanyakan ke tetangga sekitar yang sudah 20 tahun membuka usaha yang berdekatan dengan Pijat refleksi Melati. [Menurut mereka] Pijat Melati sudah 5-7 tahun lebih beroperasional. Dipastikan berapa puluh juta listrik negara itu dicuri,” kata Yoyo.

Lebih lanjut Yoyo mengatakan pihaknya akan secepat mungkin melayangkan surat pada walikota Jakarta Timur, Kantor PLN pusat yang berada di Jl Trunojoyo, Kejaksaan Tinggi Negeri, dan Kapolda Metro Jaya untuk memproses kasus tersebut.

“Saya yakin masih banyak tempat seperti ini yang mengalokasikan jatah pungli yang terorganisir dan masif,” geramnya. (Gie)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*