Donald Trump Menangi Pilpres, AS Dilanda Kerusuhan

Aparat kepolisian melepaskan tabung asap untuk membubarkan protes anti-Trump di kota Portland, Oregon, pada Kamis malam 10/10 (dok. KATU)
Aparat kepolisian melepaskan tabung asap untuk membubarkan protes anti-Trump di kota Portland, Oregon, pada Kamis malam 10/10 (dok. KATU)

(KM) – Hari kedua setelah penetapan Donald Trump sebagai pemenang dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, gelombang protes warga AS berlanjut dengan sengit. Di kota Portland, Oregon, aparat kepolisian bentrok dengan ribuan demonstran setelah protes mereka berujung ricuh, Kamis malam 10/11 waktu setempat.

Ribuan pengunjuk rasa memenuhi jalanan kota di bagian barat Amerika itu, memprotes terpilihnya bos properti Donald Trump sebagai presiden negara adidaya itu yang ke-45. Namun massa menjadi ricuh ketika sebagian memecahkan jendela-jendela toko dan mobil yang terparkir, dan pihak kepolisian mengatakan bahwa protes tersebut berubah menjadi “kerusuhan”. Massa juga melemparkan petasan dan membakar sebuah bak sampah.

Pihak kepolisian pun merespon kerusuhan tersebut dengan menembakkan gas airmata dan melemparkan granat flashbang untuk membubarkan demonstran yang melempar benda-benda kepada aparat. Sejumlah pengunjuk rasa juga ditahan oleh polisi dalam kericuhan itu.

Donald Trump Sebut Massa yang Protes Tidak Menghormati Proses Demokrasi

Kamis malam, presiden AS terpilih Donald Trump merespon sinis terhadap sikap warga yang memprotes terpilihnya dirinya sebagai presiden AS. Di akun Twitternya, Donald Trump menyebut orang-orang yang protes sebagai “profesional yang telah dipancing oleh media.” Menurutnya, mereka tidak menghormati proses demokrasi yang telah berlangsung.

Beberapa jam sebelumnya pada Kamis siang 10/11, demonstran memenuhi jalanan di beberapa kota di AS untuk memprotes atas kemenangan Trump, menyuarakan kekhawatiran bahwa Trump akan bersikap represif terhadap kelompok minoritas.

Di negara bagian California misalnya, ratusan siswa setingkat SMA dan mahasiswa melakukan aksi meninggalkan sekolah-sekolah untuk bergabung dengan massa pengunjuk rasa di jalanan kota Los Angeles dan San Francisco. Di kedua kota tersebut, aparat kepolisian menahan puluhan pengunjuk rasa. California merupakan salah satu negara bagian di AS dimana Trump kalah dalam pemilihan tingkat lokal.

 

“Generasi ini pantas mendapatkan presiden yang lebih baik daripada Donald Trump,” kata Lily Morton (17) yang bergabung dengan massa pengunjuk rasa di Georgetown. “Para homoseksual, bangsa bukan berkulit putih, wanita, perempuan, semua yang akan terkena dampak ini, kita harus protes untuk membantu mereka,” ujarnya, seperti yang dilansir oleh kanal berita PressTV Jumat 11/11.

Sebelumnya lagi, pada haru Rabu, puluhan ribu pengunjuk rasa melakukan aksi di puluhan kota di AS seperti New York, Los Angeles dan Oakland.

Massa mengecam pernyataan-pernyataan Trump yang kontroversial saat kampanye nya, khususnya terkait soal imigran gelap, penganut agama Islam dan kelompok minoritas lainnya.

Pada Rabu 9/11, Donald Trump mengagetkan dunia dengan memenangi pemilihan Presiden AS, mengalahkan saingannya dari partai Demokrat, Hillary Clinton. Sebelum pemungutan suara, hampir semua media dan survei, bahkan bandar judi, menjagokan Hillary Clinton untuk memenangi Pilpres AS.

Kampanye Donald Trump sendiri acapkali mengundang kontroversi terkait penyataannya tentang kelompok minoritas di Amerika, seperti wacananya untuk melarang masuknya semua Muslim ke Amerika Serikat dan membangun tembok sepanjang perbatasan AS-Meksiko. Ia juga pernah menyerukan untuk mendata semua Muslim di AS dan bahwa pemerintah AS “tidak punya pilihan” kecuali untuk menutup masjid-masjid.

Posisi kontroversialnya itu dihujani kecaman dari lawan politiknya dan bahkan dari dalam tubuh partai Republik sendiri yang mengatakan bahwa perkataannya “memecah belah rakyat” dan “tidak sesuai dengan nilai-nilai Amerika.” (HJA/PressTV)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*