Effendi Ghazali: “Pilgub Jakarta Harus Jadi Barometer Proses Demokrasi yang Sehat”

JAKARTA (KM) –  Pilkada serentak tidak lama lagi akan digelar, tepatnya pada 15 Februari tahun depan. Bursa calon gubernur dan wakil gubernur pun berseliweran bak bola panas di tengah masyarakat. Seiring waktu berjalan, tawar menawar antara elit partai dan kader serta calon yang diusungnya mewarnai gesekan argumentasi di akar rumput. Khususnya bursa pilgub DKI Jakarta, yang menjadi perbincangan hangat bukan saja di provinsi itu sendiri, namun diperbincangkan di seluruh Indonesia dan bahkan menjadi perhatian mancanegara.

Kuatnya posisi petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam pendapat publik Jakarta dan mengantongi dukungan partai-partai besar membuat partai-partai lainnya menyusun strategi secara alot untuk merebut DKI-1, hingga akhirnya mucullah poros PKS dan  Gerindra yang mengusung pasangan mantan Mendikbud Anies Baswedan dan Sandiaga Uno serta poros “Cikeas” yang terdiri dari PAN, PKB, PPP dan Partai Demokrat dengan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Silviana Murni.

Menurut pakar politik Effendi Ghazali, kini tuntas sudah tanda tanya di masyarakat tentang siapa calon yang menjadi kandidat gubernur dan wakilnya untuk pemilihan kali ini. “Pemilukada di Jakarta harus bisa dijadikan barometer bagi proses demokrasi yang sehat, bermartabat serta menjunjung tinggi asas musyawarah mufakat sesuai dengan konstitusi UUD’45 dan Pancasila, dengan senantiasa menghormati kebhinnekaan bangsa,” ujarnya saat ditemui KM di kediamannya.

Advertisement

“Harapan masyarakat agar Triple “A” [Ahok, Anies dan Agus] yang salah satunya pasti terpilih nanti, untuk tidak menebarkan janji palsu, program dusta dan wacana belaka bagi rakyat Jakarta, baik dalam kampanye simpatik maupun kampanye dialogis di waktu dekat ini,” lanjut Effendi.

Dirinya juga berharap agar para calon kepala daerah di Indonesia tidak kemudian menggunakan jabatan yang diraih sebagai “ajang cari untung”, khususnya untuk mengembalikan modal yang dikeluarkan semasa kampanye.

“Kasihan rakyat akan jadi korban bila pemenang Pemilukada kali ini di jadikan ajang cari untung guna kembalinya modal yang telah dikeluarkan semasa kampanye, sangat ironis,” tukas Effendi. (Jack-Rully)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*