Akhirnya Abu Sayyaf Bebaskan 10 Sandera WNI di Filipina

Kepala Humas Tentara Nasional Filipina, Kolonel Noel Detoyato, memberikan keterangan Pers di markas besar tentara Filipina di Manila, 26/4
Kepala Humas Tentara Nasional Filipina, Kolonel Noel Detoyato, memberikan keterangan Pers di markas besar tentara Filipina di Manila, 26/4

MANILA (KM) – Kelompok teroris berbasis di Filipina, Abu Sayyaf, akhirnya membebaskan 10 dari 14 sandera WNI yang diculik oleh kelompok militan tersebut saat berlayar di laut Sulu, selatan Filipina. Perkembangan tersebut melegakan setelah salah satu sandera Abu Sayyaf, seorang warga negara Kanada, dipenggal kepalanya setelah batas waktu pembayaran uang tebusan terlewat.

Menurut kepala kepolisian di kepulauan Jolo, Filipina, Junpikar Sitin, para sandera, yang merupakan ABK dari sebuah kapal tugboat milik Taiwan yang dicegat oleh perompak dari kelompok teroris Abu Sayyaf, diantar ke rumah gubernur setempat sekitar pukul 12.00 WIB dan kemudian dibawa ke sebuah pangkalan militer.

“Mereka tampak lelah tapi bersemangat,” ujar Sitin, seperti yang dilansir oleh kantor berita Reuters.

Pihak otoritas setempat tidak menjelaskan apakah uang tebusan dibayarkan kepada kelompok tersebut, namun warga Filipina meyakini bahwa uang tebusan selalu dibayarkan oleh pihak pemerintah Filipina kepada Abu Sayyaf untuk pembebasan sandera, walaupun pihak pemerintah hampir tidak pernah mengakuinya.

Dalam sebuah pernyataan di hadapan Pers Minggu 1/4, Presiden Indonesia Joko Widodo juga mengkonfirmasi pembebasan sandera tersebut dan mengatakan bahwa pemerintah sedang mengupayakan pembebasan 4 sandera WNI lainnya. Namun Presiden juga tidak merincikan secara langsung proses pembebasan sandera tersebut dan apakah uang tebusan memang dibayarkan kepada kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS tersebut.

Abu Sayyaf Masih Menahan 13 Sandera Lainnya

Selain 4 sandera WNI yang masih ditahan oleh Abu Sayyaf, ada 9 sandera lain, diantaranya 4 warga negara Malaysia dan warga negara Jepang, Belanda, Kanada, Norwegia dan Filipina.

Pada Senin 25/4 lalu, seorang pengusaha warga negara Kanada, John Ridsdel (68), dipenggal oleh kelompok teroris itu setelah lewatnya tenggat waktu pembayaran uang tebusan. Kepalanya ditemukan di dalam sebuah kantong beberapa jam setelah tenggat waktu terlewat, dan tubuhnya ditemukan dua hari kemudian. Kelompok tersebut menuntut pemerintah Kanada untuk membayar uang tebusan sebesar 300 juta peso, setara 84 miliar rupiah, untuk pembebasannya.

Advertisement

Merespon atas pembunuhan tersebut, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan bahwa tindakan itu merupakan sebuah “pembunuhan berdarah dingin” dan menyerukan agar negara-negara tidak tunduk kepada tuntutan kelompok teroris untuk membayar uang tebusan.

Pihak pemerintah Filipina sudah selama bertahun-tahun menghadapi kelompok pemberontak bersenjata ini, mengerahkan 2500 personil tentara dan hingga kini masih menghadapi kesulitan mengatasi gerakan kelompok teroris ini.

Diyakini bahwa uang tebusan yang kerap dibayarkan oleh Filipina menjadi sebuah bisnis menggiurkan bagi kelompok teroris ini, yang kerap melakukan perompakan dan pembajakan di lautan selatan Filipina untuk mendapatkan uang yang kemudian mereka gunakan untuk mendanai kegiatan mereka serta membeli peralatan canggih seperti kapal-kapal bertenaga tinggi, persenjataan dan peralatan komunikasi modern. Dengan banyaknya uang yang mereka miliki dan besarnya jumlah warga miskin dan pengangguran, diyakini juga bahwa mereka dengan mudah dapat merekrut anggota baru dengan berbagai iming-iming.

Berkenaan dengan semakin maraknya aktivitas bajak laut di perairan selatan Filipina, menlu Indonesia, Filipina dan Malaysia dijadwalkan bertemu dalam minggu ini untuk membincangkan bentuk kerjasama yang dapat digarap untuk meningkatkan pertahanan keamanan di jalur-jalur perkapalan yang rawan antara ketiga negara tetangga ini. (HJA/Reuters)

 

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*