Tidak Digaji Berbulan-bulan, Pekerja Asing Bakar 10 Bus di Mekah

Deretan bus milik Binladin Group yang dibakar oleh pekerjanya pada 30/4 setelah pengumuman PHK besar-besaran di tubuh perusahaan itu (dok. Arab News)
Deretan bus milik Binladin Group yang dibakar oleh pekerjanya pada 30/4 setelah pengumuman PHK besar-besaran di tubuh perusahaan itu (dok. Arab News)

MEKAH (KM) – 10 bus milik raksasa konstruksi Saudi Binladin Group dibakar oleh beberapa pegawainya Sabtu malam 30/4, sehari setelah perusahaan tersebut mengumumkan PHK terhadap 50 ribu tenaga kerja asing dan memberikan mereka visa keluar dari Kerajaan Arab Saudi.

Kebakaran tersebut dipadamkan oleh pemadam kebakaran setempat tanpa memakan korban.

Perusahaan itu sudah beberapa lama mengalami gejolak internal diantara pegawainya sekaitan dengan uang gaji yang tidak dibayar selama berbulan-bulan dan PHK beruntun terhadap pegawai-pegawainya. Pihak Binladin sendiri enggan memberikan pernyataan tentang PHK besar-besaran dan konflik dengan para pekerja nya itu.

Arab News melaporkan, selama beberapa minggu, ribuan pekerja Binladin Group mengadakan protes unjuk rasa yang sangat jarang terjadi di Kerajaan Arab Saudi, di kota Mekkah dan Jeddah. Sebagian pengunuk rasa mengatakan bahwa mereka sudah 6 bulan tidak menerima gaji.

Diantara para pegawai yang di-PHK adalah para insinyur, mandor, pemasang baja, tukang kayu dan tukang las. Kebanyakan dari mereka enggan meninggalkan Arab Saudi tanpa dibayar dahulu tunggakan gaji mereka.

Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor yang paling terkena dampak jatuhnya harga minyak dunia yang menyebabkan Pemerintah negara-negara di Timur Tengah menunda dan terkadang mangkir dari pembayaran proyek-proyek konstruksi.

Perusahaan Saudi Binladin Group adalah salah satu perusahaan konstruksi terbesar di dunia dan berada di balik proyek-proyek konstruksi terbesar di Arab Saudi, diantaranya pembangunan jalan raya, terowongan, bandara, universitas, hotel dan bahkan proyek ekspansi Masjidil Haram di kota suci Mekah, termasuk konstruksi kompleks hotel pencakar langit di sebelah Masjid nomor satu di dunia Islam tersebut yang diberi nama Grand Zam-Zam Towers.

Advertisement

Nama perusahaan tersebut mencuat lagi di kancah dunia setelah jatuhnya salah satu crane mereka di atas Masjidil Haram pada musim haji 2015 lalu, menewaskan setidaknya 111 jamaah haji. Masih jelas dalam ingatan gambar-gambar reruntuhan di dekat Ka’bah dikelilingi oleh jenazah-jenazah jamaah haji bersimbah darah. Sebuah investigasi oleh pemerintah Arab Saudi menentukan bahwa perusahaan tersebut bertanggung jawab dan menjatuhkan sanksi yang melarang Binladin Group dari mendapatkan proyek-proyek baru di Arab Saudi.

Dalam beberapa tahun terakhir, situasi politik di Kerajaan Arab Saudi memang memanas, mencerminkan kekecewaan warga Arab Saudi yang semakin menjadi terhadap pemerintahan keluarga Al-Saud. Hal ini diperparah dengan jatuhnya harga minyak dunia dan agresi militer Arab Saudi terhadap Yaman yang masih berkecamuk.

Ian Greenhalgh, pengamat politik di Amerika Serikat menuturkan kepada media Veterans Today bahwa kemungkinan besar, keputusan Binladin untuk secara halus mengusir 50.000 pegawai asing mereka lebih terkait dengan meredam sentimen ketidakpuasan di antara tenaga kerja asing di Kerajaan Arab Saudi, karena mayoritas dari buruh di negara tersebut merupakan warga negara asing.

“Apapun alasannya, ini merupakan salah satu tanda mengkhawatirkan tentang stabilitas rezim Saudi,” katanya. (HJA)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*