Tuntut “Kebebasan Bernavigasi”, AS Patroli Lautan Indonesia dan Tiongkok Tanpa Izin

Kapal Angkatan Laut AS dan Korea Selatan melakukan operasi di lautan Pasifik, 24/3/2016 (US Navy/Reuters)
Kapal Angkatan Laut AS dan Korea Selatan melakukan operasi di lautan Pasifik, 24/3/2016 (US Navy/Reuters)

WASHINGTON, AS (KM) – Sebuah laporan tahunan yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat alias Pentagon Senin 25/4 kemarin menyatakan bahwa militer AS melakukan operasi “Kebebasan Bernavigasi” (freedom of navigation) di beberapa lautan di dunia sebagai bentuk penantangan terhadap klaim 13 negara terhadap beberapa wilayah lautan, termasuk diantaranya wilayah kedaulatan maritim yang diklaim oleh Indonesia, Tiongkok dan Malaysia.

Reuters melaporkan, negara-negara lainnya yang menjadi obyek operasi militer AS tersebut adalah India, Iran, Libya, Maladewa, Oman, Filipina, Vietnam, Taiwan, Nicaragua dan Argentina.

Laporan tersebut tidak merincikan berapa jumlah operasi militer yang dilakukan terhadap negara-negara tersebut. Laporan sepanjang 2 halaman tersebut hanya mengatakan bahwa operasi terhadap klaim Taiwan, Nicaragua dan Argentina dilakukan hanya satu kali.

Operasi “Kebebasan Bernavigasi” melibatkan pengiriman kapal-kapal angkatan laut AS dan pesawat militer ke daerah-daerah lautan yang diklaim sebagai daerah kedaulatan oleh masing-masing negara. Laporan tersebut mengatakan bahwa “tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa komunitas internasional tidak menerima pembatasan-pembatasan akses seperti itu.”

Militer AS sebelumnya juga beberapa kali menciptakan ketegangan dengan Tiongkok dengan melakukan operasi-operasi patroli di wilayah lautan yang diklaim oleh Tiongkok. Pada tahun 2015, operasi tersebut dilakukan lagi pada saat ketegangan mencuat di Asia timur berkenaan dengan rebutan klaim antara beberapa negara terhadap wilayah-wilayah kaya sumber daya alam di Laut China Selatan.

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa dalam salah satu operasi kebebasan bernavigasi, sebuah kapal militer jenis guided missile destroyer melakukan patroli dekat sebuah pulau buatan Tiongkok di kepulauan Spratly di Asia Tenggara, dan operasi oleh pesawat militer di kawasan yang sama juga dihalau oleh pihak Tiongkok.

Advertisement
Carut marut klaim wilayah kedaulatan maritim di Laut China Selatan yang kerap menimbulkan ketegangan antara negara-negara di kawasan. (wikipedia)

Carut marut klaim wilayah kedaulatan maritim di Laut China Selatan yang kerap menimbulkan ketegangan antara negara-negara di kawasan. (wikipedia)

Menteri Pertahanan AS Ash Carter mengatakan bahwa angkatan laut AS akan terus melakukan operasi di kawasan tersebut walaupun menuai kecaman dari pemerintah Tiongkok.

Merespon atas laporan Kemenhan AS itu, Kemenhan Tiongkok merilis pernyataan di laman web resminya yang mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap tindakan AS di kawasan Laut China Selatan.

“Amerika Serikat melakukan militerisasi di Laut China Selatan dengan dalih melindungi kebebasan bernavigasi dan penerbangan, mengancam kedaulatan dan keamanan negara-negara di tepi lautan dan mengacaukan kedamaian dan stabilitas di kawasan,” sebut pernyataan tersebut, seperti dilansir oleh Reuters.

Kepala Komando Lautan Pasifik AS, Laksamana Harry Harris, mengatakan bahwa tahun ini AL Amerika akan meningkatkan operasi kebebasan bernavigasi di Laut China Selatan karena kekhawatiran bahwa Tiongkok berupaya mendominasi kawasan tersebut dengan membangun fasilitas-fasilitas militer.

Operasi militer AS juga menantang klaim Tiongkok terhadap kawasan udara di atas zona ekonomi eksklusifnya dan pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh otoritas Tiongkok terhadap pesawat-pesawat yang melewati zona identifikasi pertahanan udara di lautan China Timur.

Dari negara-negara yang kerap ditantang klaim kedaulatannya oleh AS, Iran dan Filipina merupakan negara yang paling sering ditantang, terutama karena negara-negara tersebut secara geografis berada pada jalur-jalur perkapalan yang sibuk. (HJA/Reuters)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*