Pemilik Toko Emas Tewas Mengenaskan Dibacok Perampok

Korban pembunuhan dan perampokan di Putussibau, Ahui tewas dengan luka bacokan di seluruh tubuhnya (dok. KM)
Korban pembunuhan dan perampokan di Putussibau, Ahui tewas dengan luka bacokan di seluruh tubuhnya (dok. KM)

PUTUSSIBAU, KALIMANTAN BARAT (KM) – Ahui, pemilik toko emas “Aneka Bunga” tewas mengenaskan, dengan lebam dan bacokan di sekujur tubuhnya, Minggu (24/04/16) di ruko Jalan Diponegoro, Putussibau pukul 08.00 WIB.

Kejadian tersebut sontak membuat warga sekitar heboh. Korban ditemukan terbaring di lantai satu ruang depan rukonya dalam posisi miring dan bersimbah darah. Bagian tubuh korban ditemukan lebam, mulai dari wajah hingga punggung. Tak hanya itu, luka bacokan di lengan kiri, pipi kanan dan dagu. Ada pula luka gorokan di leher korban sepanjang 13 cm.

Ahui awalnya ditemukan Novento (12), anak Edi, 37, pemilik bengkel “Suara Motor”, yang bersebelahan dengan ruko korban sekitar pukul 08.30 WIB. Ketika membuka pintu ruko korban, alangkah terkejutnya Novento melihat Ahui bersimbah darah. “Saya memang biasa sering main di tempat dia. Ketika saya buka pintunya sedikit, lihat dia terbaring di lantai. Kalau pintu rukonya, tidak terkunci,” ujarnya.

Setelah melihat Ahui terbaring tak bernyawa, Novento langsung memberitahukan ke bapaknya. “Langsung saya bilang bapak… Pak coba lihat, paman (panggilan Novento ke korban) terbaring di lantai dan ada darah. Setelah bapak melihat, lalu lapor polisi,” kata Novento,

Sementara Edi membenarkan setelah melihat korban terbaring bersimbah darah, ia pun langsung melaporkannya ke polisi. Menurut Edi, korban di ruko tersebut tinggal sendirian. Sementara Edi, kalau tidur tidak di bengkelnya, tapi ada rumah lain. Sehingga ia pun tidak tahu kejadian sesungguhnya pada malam sebelumnya di rumah korban.
Menurut Edi, Ahui bukanlah warga Putussibau, tapi asal Sintang, namun korban sudah lama tinggal di Putussibau. Sebelum menempati ruko di samping miliknya, Ahui berjualan di Pasar Pagi Putussibau yang pernah terbakar.
“Korban orangnya tertutup, pendiam dan kurang bergaul,” jelas Edi.

Menurut Edi, korban dulunya sempat memiliki pasangan wanita yang sekarang tinggal di Pontianak. Namun perempuan tersebut, menurut Edi tidak bisa dikatakan istri, “karena belum pernah nikah secara resmi.”

“Di sini korban tidak memiliki keluarga. Sementara perempuan yang dulu menjadi pasangan korban sudah saya hubungi, tapi dia bilang tidak sempat datang ke Putussibau,” ungkap Edi kepada KM.

Advertisement

Kapolres Kapuas Hulu AKBP Sudarmin SIK melalui Kasat Intel AKP Niki Ramdhani SE menuturkan dari olah TKP telah terjadi pencurian dengan tindakan kekerasan yang mengakibatkan korban tewas. Hanya saja, belum diketahui motif sesungguhnya, sehingga masih belum dapat disimpulkan kematian Ahui. Walaupun harta korban seperti emas dan isi berangkas sudah terkuras, pencurian yang dilakukan pelaku bisa saja untuk mengelabui petugas.

“Yang jelas kami masih mendalami kasus ini,” ujarnya. Menurut Niki, dugaan sementara pelaku kenal dengan korban. Pasalnya, tidak ada tanda-tanda, pelaku masuk dengan cara merusak pintu ataupun jendela. Bahkan diduga, sebelum menghabisi nyawa korbannya, pelaku sempat berbincang-bincang dengan Ahui.

“Ada tiga kursi berserakan, antara korban dan pelaku kemungkinan sempat ngobrol dulu,” katanya.

Pihak kepolisian juga menduga, pelaku pembunuhan berjumlah tiga orang. Asumsi ini berdasarkan olah TKP, dimana terdapat tiga jenis jejak kaki pelaku di belakang rumah korban.

“Satu jejak menggunakan sandal, satu jejak menggunakan sepatu dan satu jejak lagi tidak menggunakan alas kaki. Sementara kejadian diperkirakan tengah malam, sebelum jam 01.00,” papar Niki.

Petugas juga berhasil menemukan jaket dan parang berlumuran darah yang diduga milik pelaku. Jaket ditemukan di bawah kolong tetangga korban yang berjarak sekitar 50 meter, sedangkan parang di bawah gerobak pedagang dengan jarak yang sama.

“Barang bukti yang telah kita kumpulkan, diantaranya parang dan jaket yang diduga milik pelaku. Kita juga ada mengamankan hp, laptop, gayung, emas dan enam buah cincin yang tercecer di lantai. Gayung kita amankan, karena sebelum kabur, pelaku diduga sempat cuci kaki dan tangan di WC korban,” beber Niki.

Petugas mengaku sedikit mengalami kendala mengungkap kasus ini. Sebab, korban hanya tinggal sendiri, bahkan tidak memiliki kerabat di Putussibau. Apalagi korban orangnya tertutup dengan warga sekitar. Untuk itu, petugas akan kembali melakukan olah TKP, dengan harapan menemukan petunjuk-petunjuk baru dalam kasus ini.
“Kita akan melakukan olah TKP ulang untuk mengumpulkan barang bukti lainnya,” pungkasnya. (budi)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*