Setelah Hadiri Tabligh Kebangsaan, Bima Arya Hadiri Acara Kelompok Anti-Pancasila

Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto memberikan sambutan pada acara peresmian kantor cabang HTI di Kota Bogor.
Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto memberikan sambutan pada acara peresmian kantor cabang HTI di Kota Bogor.

KOTA BOGOR (KM) – Menghadapi kritikan bertubi-tubi terhadap keputusan-keputusannya yang dinilai banyak pihak sebagai tindakan intoleran, Walikota Bogor Bima Arya tampak bertekad merangkul kembali elemen-elemen masyarakat yang mengkritiknya dengan mendukung sepenuhnya acara-acara yang bertemakan kebhinnekaan, seperti Tabligh Akbar Kebangsaan yang diselenggarakan Minggu 7/2 di Plaza Balaikota Bogor, yang bertemakan “Mewujudkan Kota bogor Sebagai Kota yang Toleran Demi Tegaknya NKRI”. Tabligh akbar tersebut menghadirkan ketua Jam’iyyah Ahlith ath-Thariqah al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah atau “persatuan ahli Thoriqoh”, yang juga Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Habib Luthfi bin Yahya.

Namun sayangnya anggapan tersebut dipatahkan dengan kehadiran walikota Bogor pada acara peresmian kantor Hizbut Tahrir Indonesia Kota Bogor pada hari berikutnya, Senin 8/2. Organisasi tersebut terkenal dengan kritikan tajamnya terhadap sistem demokrasi, Pancasila dan bentuk NKRI, dengan mengusung konsep “Khilafah Islam” sebagai bentuk negara yang lebih patut.

Tindakannya tersebut mengundang kecaman dari Gerakan Pemuda Ansor yang mengeluarkan pernyataan terbuka yang mengkritik tindakan ironis Bima Arya yang kontradiksi dengan peranannya sebagai seorang kepala daerah .

“Kami prihatin dan menyayangkan sikap Walikota Bogor yang telah menghadiri kegiatan peresmian Kantor cabang HTI di Kota Bogor, sebuah organisasi yang selama ini jelas dan nyata mengusung dan berkeinginan menegakkan negara Khilafah di Indonesia tanah air tercinta,” bunyi pernyataan tersebut.

GP Ansor menilai bahwa konsep yang diusung HTI tidak ada landasannya dalam Islam dan justru mengancam NKRI yang telah “didirikan oleh para Founding Father dengan segala perjuangan dan pengorbanannya”.

Menanggapai kritikan pedas itu, Bima Arya pun buka suara. Menurutnya, peranannya sebagai seorang pemimpin mengharuskannya untuk mengayomi dan bersilaturahmi dengan semua kelompok. “Perbedaan keyakinan agama pun tidak jadi halangan untuk silaturahmi, apalagi perbedaan cara pandang.  Perbedaan jangan jadi rintangan bersilaturahmi. Persamaan harus dikedepankan,” katanya.

Advertisement

Tentang konsep yang diusung oleh HTI, Bima mengungkapkan bahwa dirinya tidak sependapat dengan konsep khilafah, namun ia menilai bahwa ada persamaan semangat dalam melihat “musuh” yang patut diperjuangkan.

“Saya banyak beda pendapat dengan kawan- kawan Hizbut Tahrir Indonesia, termasuk soal Khilafah dan cara pandang terhadap agama dan negara. Saya banyak tidak sependapat dengan konsep manifesto Khilafah Hizbut Tahrir. Ini saya sampaikan secara terbuka di acara Hizbut Tahrir tadi.  Bagi saya NKRI harga mati & Pancasila falsafah kita.  Tapi saya menemukan  persamaan semangat dalam melihat musuh bersama kita. Kemiskinan, pengangguran, HIV AIDS, korupsi dan kriminalitas adalah musuh bersama kita,” lanjutnya.

Tindakan Bima yang kontradiktif tersebut juga dikritik oleh Pengurus PCNU Amerika Serikat, Akhmad Sahal, yang mengatakan bahwa dengan tindakannya tersebut, Bima Arya telah menggandeng kelompok yang “mengkafir-thoghutkan” 4 pilar kebangsaan.

Gus Sahal juga mengungkapkan bahwa faham radikal HTI berada di balik tindakan teroris di Sarinah, karena dalang teror Sarinah, Bahrun Naim, merupakan seorang aktivis HTI.

Keberadaan organisasi anti-Pancasila dan anti-Demokrasi di Indonesia sendirinya tidak bertentangan dengan hukum, karena demokrasi itu sendiri menjamin kebebasan berpendapat. Ironisnya, beberapa kelompok memanfaatkan kebebasan yang dijamin oleh demokrasi itu untuk menolak demokrasi itu sendiri seraya menunjukkan tindakan represif atau anarkis terhadap golongan selain simpatisan kelompok itu. (HJA)

Advertisement
Komentar Facebook

1 Trackback / Pingback

  1. Anggap Khianati Pancasila, Puluhan Massa Tuntut Pelengseran Bima Arya – KUPAS MERDEKA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*