Korea Utara Klaim Berhasil Luncurkan “Satelit Observasi” Menggunakan Rudal Jarak Jauh

Peluncuran satelit rudal Korut terlihat dari kota Dandong, Tiongkok (dok. Kyodo/Reuters)
Peluncuran satelit rudal Korut terlihat dari kota Dandong, Tiongkok (dok. Kyodo/Reuters)

(KM) – Korea Utara mengklaim telah berhasil meluncurkan sebuah satelit observasi bumi, Minggu (7/2) pagi menggunakan sebuah rudal jarak jauh, yang mengundang kecaman dari berbagai pihak yang menganggap tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang  negara Komunis tersebut atas penggunaan teknologi rudal.

Kantor berita Korea Selatan Yonhap melaporkan bahwa rudal tersebut diluncurkan dari markas Dongchang-ri di daerah Barat Laut Korea Utara pada pukul 00:30 GMT (07:30 WIB), menurut seorang juru bicara kementerian pertahanan Korsel.

Pyongyang mengklaim bahwa roket tersebut mengangkut sebuah satelit observasi bumi, namun pihak lain menuding bahwa klaim tersebut hanya kedok untuk sebuah uji coba rudal jarak jauh antar-benua buatan Korut.

Diantara pihak yang mengecam peluncuran rudal tersebut adalah Penasehat Pertahanan Amerika Serikat Susan Rice, yang mengatakan bahwa peluncuran tersebut merupakan “ancaman serius terhadap kepentingan AS”.

“Program rudal dan senjata nuklir Korea Utara merupakan ancaman serius terhadap kepentingan kami, termasuk kemanan sekutu-sekutu terdekat kami, dan mengancam kedamaian dan keamanan di kawasan itu,” ujar Rice.

Dalam pernyataannya, Rice juga mengatakan bahwa peluncuran roket tersebut merupakan tindakan provokatif dan melanggar berbagai resolusi DK PBB.

Rudal yang diluncurkan itu dianggap memiliki jarak tempuh lebih dari 10,000 kilometer, mencapai daratan Amerika Serikat.

Tidak hanya dari Amerika Serikat, kritikan juga datang dari sekutu Korut sendiri, yaitu Tiongkok. Kementerian Pertahanan Tiongkok mengatakan bahwa peluncuran roket tersebut merupakan pelanggaran kedua kalinya oleh Korut terhadap resolusi DK PBB dalam kurun waktu satu bulan. “Peluncuran tersebut mengancam sistem non-proliferasi (penghentian pengembangan -red)

Advertisement
senjata nuklir di dunia, dan akan semakin memperkeruh situasi di semenanjung Korea,” ungkap pernyataan resmi Kementerian tersebut.

Presiden Korsel Park Geun-Hye menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB agar mengambil tindakan tegas secepatnya. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan sebuah “provokasi yang tidak bisa diterima”.

Sebuah pertemuan darurat DK PBB telah dijadwalkan hari Minggu (7/2) ini untuk membincangkan kejadian tersebut. Badan-badan pemerintah Korea Selatan juga tengah mengadakan pertemuan-pertemuan darurat untuk mendiskusikan respon mereka terhadap negara Komunis tetangga mereka tersebut.

Sedangkan Korea Utara sendiri mengatakan bahwa mereka “secara legal berhak atas penggunaan angkasa untuk tujuan independen dan damai”, dan berencana mengirimkan lebih banyak lagi satelit ke angkasa.

Beberapa jam setelah peluncuran tersebut, Korut mengumumkan bahwa mereka berhasil menempatkan sebuah “satelit observasi bumi baru Kwangmyongsong-4” pada jalur orbit bumi.

Komando Strategis AS juga mengkonfirmasi bahwa mereka telah mendeteksi dan mengawasi rudal tersebut hingga ke angkasa. “NORAD telah memastikan bahwa rudal tersebut tidak pernah mengancam Amerika Utara,” ucap pernyataan mereka.

Peluncuran rudal pagi tadi merupakan ujicoba rudal jarak jauh yang keenam kalinya oleh Korea Utara. Januari lalu, Korut juga mengklaim telah berhasil melakukan ujicoba bom thermonuclear. Sedangkan beberapa pengamat meragukan bahwa ujicoba tersebut merupakan peledakan sebuah bom nuklir, tindakan tersebut mendorong AS dan sekutunya di kawasan, yaitu Jepang dan Korea Selatan, untuk lebih meningkatkan lagi sanksi PBB terhdap negara pimpinan Kim Jong Un itu. (HJA)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*