Suku Baduy, Oase di Tengah Kehidupan Modern

Suasana perkampungan suku Baduy. (dok. KM)
Suasana perkampungan suku Baduy. (dok. KM)

Indonesia menyimpan sejuta keindahan budaya, tempat, kuliner, bahasa dan suku. Terdapat lebih dari 300 suku atau etnis di bumi Nusantara ini. Suku-suku tersebut tidak hanya berada di daerah tertentu saja, tetapi juga menyebar ke seluruh pelosok Indonesia.

Suku Baduy merupakan salah satu dari keberagaman yang ada. Masyarakat suku ini sangat unik. Dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, mereka tidak mengandalkan teknologi yang ada sekarang ini.

Orang Kanekes ini (sebutan lain dari Suku Baduy) hidup dengan bergantung sepenuhnya dari alam. Bahkan Suku Baduy pun tidak mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar ke sekolah pemerintah maupun swasta. Tidak hanya itu, Suku Baduy juga tidak berpartisipasi dalam Pemilu Presiden Indonesia.

Wiayah Suku Baduy secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki Pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Rangkasbitung – Banten, berjarak sekitar 40 Km dari kota Rangkasbitung.

Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah) dan tanah campuran (di bagian selatan). Suhu rata-rata 20°C.

Suku Baduy terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Tangtu, Panamping dan Dangka. Kelompok Tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik.

Advertisement
Perkampungan suku Baduy.

Perkampungan suku Baduy.

Suku Baduy Dalam, mereka setia berjalan kaki dalam melakukan perjalanan, mengedepankan kejujuran, menolak mencemari lingkungan (tanah dan air), dan tidak merokok.

Kelompok masyarakat Panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Baduy Luar, yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu dan lain sebagainya.

Sementara Baduy Dangka merupakan Orang Kanekes yang tinggal di luar wilayah Kanekes, dimana saat ini ada 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai zona penyangga atas pengaruh dari luar.

Suku Baduy sendiri dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari bekerja dengan bertani Padi Huma dan berladang. Dan untuk bertani dan berladang, masyarakatnya tidak menggunakan mesin. Cara mereka melakukannya masih manual.

Pun dalam mendirikan rumah, Orang Kanekes masih sangat memperhatikan kelestarian alam. Mereka tidak melakukan penggalian tanah, melainkan menempatkan batu sebagai pondasi. Bentuk rumahnya juga seragam, tidak ada yang beda. Sehingga benar-benar tampak alami.

Suku Baduy memiliki kulinernya sendiri, seperti Durian dan Asam Keranji serta Madu Hutan (Madu Odeng). Produksi Madu Odeng hanya bergantung pada lebah yang berkembang biak di pohon-pohon besar di Gunung Kendeng, kawasan tanah hak Ulayat Baduy.

Dikarenakan wilayah kediaman Suku Baduy masih sangat terjaga ekosistem serta kontur daerah yang berbukit dan bergelombang, maka daerahnya memiliki pemandangan yang sangat indah. Tentunya tempat ini menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi. (Zhaahir)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*