INDONESIA Bukan Hanya Krisis Pangan , Tetapi Sedang Menghadapi Krisis Moral
Kolom oleh Hero Akbar / Moses *)
Indonesia sesungguhnya bukan hanya sedang menghadapi persoalan pangan, ekonomi, atau mahalnya kebutuhan pokok. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan mengkhawatirkan, yakni krisis moral.
Pangan bisa diproduksi, kekayaan alam bisa dikelola, dan ekonomi bisa diperbaiki. Namun, ketika kejujuran mulai ditinggalkan, amanah diperdagangkan, kekuasaan disalahgunakan, serta kepentingan rakyat dikalahkan oleh kepentingan pribadi dan kelompok, maka bangsa ini sedang menghadapi persoalan yang lebih serius.
Ironisnya, negeri yang kaya sumber daya alam masih dihadapkan pada persoalan ketimpangan, kemiskinan, dan kesulitan hidup sebagian masyarakat. Sementara itu, praktik korupsi, penyalahgunaan jabatan, manipulasi, hingga ketidakadilan terus menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius.
Masalah terbesar bangsa bukan semata-mata kekurangan sumber daya, melainkan lemahnya integritas manusia dalam mengelolanya.
Kita tidak boleh membiarkan jabatan menjadi alat memperkaya diri, hukum menjadi tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, atau kekuasaan dijadikan sarana mempertahankan kepentingan kelompok.
Krisis moral juga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Ini merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari pemimpin, pejabat publik, aparat, pengusaha, tokoh masyarakat, hingga setiap individu.
Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu menyediakan pangan bagi rakyatnya, tetapi juga bangsa yang memiliki pemimpin jujur, hukum yang adil, masyarakat yang beradab, serta pejabat yang memahami arti amanah.
Sudah saatnya pembangunan tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, proyek infrastruktur, dan program bantuan. Pembangunan karakter, kejujuran, tanggung jawab, serta keberpihakan kepada rakyat harus menjadi fondasi utama.
Sebab, perut rakyat memang harus diberi makan, tetapi nurani para pemegang kekuasaan juga harus diberi kehidupan.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi membutuhkan lebih banyak manusia yang berintegritas. Tidak kekurangan orang berkuasa, tetapi membutuhkan pemimpin yang memiliki rasa malu ketika mengkhianati amanah rakyat.
Jika krisis pangan dapat diatasi melalui kebijakan dan produksi, krisis moral hanya bisa diperbaiki melalui kesadaran, keteladanan, penegakan hukum, dan keberanian untuk kembali kepada nilai-nilai kebenaran.
Sebab, kehancuran sebuah bangsa tidak selalu dimulai ketika rakyat kehilangan makanan, tetapi bisa dimulai ketika para pemimpinnya kehilangan hati nurani.
*)- Pendiri media kupas merdeka
Leave a comment