Sofyan Masih Lemas Usai Pulang Dari RS, Dokumen Medis Dinyatakan Kurang Giji, Bagaimana Pantauannya Selama Rehabilitasi?

JAKARTA (KM) —Sofyan Manaf akhirnya kembali ke rumah setelah menjalani perawatan medis. Namun perjuangannya belum selesai. Keluarga menyebut Sofyan masih lemas dan harus kembali menjalani kontrol pada 7 Oktober 2026.

 

“Assalamualaikum Pak, Sofyan sudah pulang dari RS, kembali kontrol tanggal 7 Oktober,” demikian keterangan keluarga melalui WhatsApp kepada Redaksi Kupas Merdeka, Selasa (30/9/2026). Beberapa menit kemudian keluarga menambahkan, “Cuma masih lemes, Pak.”

 

Berdasarkan dokumen medis yang diperoleh redaksi, Sofyan tercatat pulang dari RSUD Johar Baru pada 30 September 2026. Surat rencana kontrol menjadwalkannya menjalani pemeriksaan lanjutan ke dokter spesialis penyakit dalam pada 7 Oktober 2026.

 

Dokumen medis yang diperoleh redaksi mencatat sejumlah kondisi yang membutuhkan perhatian. Dalam resume medis tercantum antara lain muscle wasting and atrophy, feeding difficulties and mismanagement, anorexia, hypokalaemia, anaemia, serta abses/furunkel pada kulit. Hasil pemeriksaan radiologi juga mencantumkan kesimpulan “suggestive TB paru aktif”.

 

Sementara itu, Surat Rencana Kontrol RSUD Johar Baru mencantumkan diagnosis awal “A15 – Respiratory tuberculosis, bacteriologically and histologically confirmed”. Catatan obat pasien pulang juga menunjukkan Sofyan dibekali sejumlah obat dengan rekomendasi agar diminum secara teratur dan tepat waktu.

 

Temuan medis tersebut menjadi penting karena menurut keterangan keluarga, sebelum mendapatkan pertolongan medis Sofyan telah menjalani rehabilitasi sekitar empat bulan di fasilitas yang dikaitkan dengan Yayasan Kelima Mandiri. Keluarga mengaku menerima Sofyan kembali dalam kondisi sakit dan lemah hingga kemudian membawanya mendapatkan pelayanan kesehatan.

 

Kondisi itu memunculkan pertanyaan yang perlu dijelaskan secara terbuka: bagaimana pemantauan kesehatan Sofyan selama menjalani rehabilitasi? Apakah ketika mengeluhkan sakit ia pernah diperiksa dokter? Apakah terdapat rekam medis selama berada di fasilitas tersebut, dan kapan pengelola mengetahui bahwa kondisi Sofyan membutuhkan pemeriksaan atau rujukan medis?

 

Redaksi menegaskan, berbagai diagnosis dan temuan medis tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa penyakit Sofyan disebabkan oleh Yayasan Kelima Mandiri ataupun masa rehabilitasi. Belum dapat disimpulkan adanya hubungan sebab-akibat tanpa keterangan medis yang secara khusus membuktikannya.

 

Namun, kondisi Sofyan setelah kembali kepada keluarga tetap menempatkan aspek pemantauan dan pelayanan kesehatan selama rehabilitasi sebagai persoalan yang penting untuk diklarifikasi.

 

Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab kepada Yayasan Kelima Mandiri serta pihak terkait untuk menjelaskan pelayanan kesehatan, pemeriksaan medis, penanganan ketika Sofyan sakit, hingga mekanisme rujukan yang diberikan selama ia menjalani rehabilitasi.

 

Rehabilitasi tidak hanya berbicara tentang menghentikan penyalahgunaan zat. Pemulihan juga harus menempatkan kesehatan, keselamatan, dan martabat manusia sebagai perhatian utama. Ketika seorang residen jatuh sakit, pertolongan medis bukan persoalan tambahan—melainkan bagian penting dari proses pemulihan itu sendiri.

 

Reporter: Gats

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.