Peringati Hari Budaya Nasional, Kuncen Makam Nyai Putri Rambut Cisadane Ajak Masyarakat Rawat Toleransi

Keterangan foto: Tokoh adat dan kuncen makam keramat Nyai Putri Rambut Cisadane, Ustadz Jaja Mad Husein dan Budayawan Depok, Romo Suling.(Dok.KM)

BOGOR (KM) – Momentum peringatan Hari Budaya Nasional yang jatuh setiap tanggal 17 Oktober menjadi ajang penting untuk melestarikan warisan leluhur sekaligus menguak tabir sejarah Nusantara. Di perbatasan Kabupaten Bogor dan Tangerang (Banten), gairah penelusuran sejarah ini mewujud dalam keberadaan Makam Keramat Nyai Putri Rambut Cisadane yang kian ramai didatangi peziarah dari berbagai pelosok daerah.

Situs sejarah religi yang terletak di bawah bukit dan berdampingan langsung dengan aliran Sungai Cisadane ini menyimpan cerita besar tentang sisa-sisa peradaban Kerajaan Pajajaran, syiar Islam, hingga potret kerukunan antaretnis masa lampau.

Tokoh budaya setempat sekaligus Kuncen Makam Keramat Nyai Putri Rambut Cisadane, Ustadz Jaja Mad Husein, mengungkapkan bahwa pemeliharaan situs ini didorong oleh rasa cinta mendalam terhadap perkembangan sejarah serta penghormatan kepada para pendiri bangsa.

Jejak Syiar Islam di Hutan Santri Manjang

Dalam keterangannya di lokasi makam keramat pada Sabtu, 17 Oktober 2026, Ustadz Jaja memaparkan bahwa kawasan sekitar makam tersebut dikenal secara turun-temurun dengan nama Hutan Santri Manjang.

Penggunaan nama “Santri” menjadi indikator kuat bahwa ajaran Islam telah masuk dan berakar di wilayah perbatasan tersebut sejak ratusan tahun lalu.

“Ajaran Islam di wilayah ini kemungkinan besar disyiarkan oleh Mbah Lurah, Ibu Lurah, beserta putrinya hingga mencapai kawasan pesisir Cisadane yang menghubungkan ke Serpong, Tangerang,” ujar Ustadz Jaja Mad Husein.

Jalur syiar kuno ini disinyalir bertautan dengan keberadaan Makam Keramat Tajug Serpong, tempat persemayaman Syekh Tubagus Atief Muhammad Maulana bin Sultan Agung Tirtayasa, yang dikenal sebagai salah satu panglima perang legendaris Kesultanan Banten.

(Dok:KM)

Simbol Toleransi Umat Beragama

Selain nilai religius Islam, momentum Hari Budaya Nasional ini juga menjadi pengingat akan kuatnya tali persaudaraan antaretnis di masa lalu. Kehadiran nama-nama daerah di sekitar lokasi makam seperti Cisawang, Cipulo, Cimangir, Cikoleang, Cidulang, dan Cikedokan memperkuat indikasi adanya jejak pemukiman masyarakat Tionghoa yang telah lama menetap dan hidup berdampingan dengan warga lokal.

Sebagai kuncen dan tokoh adat, Ustadz Jaja menegaskan bahwa nama-nama tersebut menjadi bukti autentik bahwa toleransi umat beragama sudah lama tercipta di wilayah kalurahan dan sekitarnya.

Kehidupan yang rukun, saling menghormati, dan berdampingan antarpemeluk agama yang berbeda menjadi fondasi budaya yang diwariskan oleh para leluhur setempat.

Akulturasi Tradisi Sunda Wiwitan dan Nilai Tauhid

Berdasarkan garis silsilah lisan dari sesepuh pendahulu Kampung Kalurahan, almarhum Mualim Abah Suhaca, Nyai Putri Rambut Cisadane merupakan putri dari pasangan Mbah Lurah dan Ibu Lurah Kalurahan.

Mereka dihormati sebagai kasuhunan karuhun (leluhur) masyarakat Sunda Wiwitan.

Hingga saat ini, pengaruh adat Sunda kuno masih kental mewarnai prosesi ziarah. Sebelum melangsungkan pembacaan tahlil, tahmid, dan zikir secara Islami, para peziarah umumnya tetap menjalankan tradisi turun-temurun dengan menyediakan susuguhan (sesaji) berupa kopi pahit, kopi manis, sirih, pinang, kemenyan, dan nasi tumpeng.

Ustadz Jaja Mad Husein meluruskan pandangan keliru mengenai tradisi ini. Dari sudut pandang filosofi kebudayaan lokal, tradisi susuguhan tersebut sejatinya tidak bertentangan dengan nilai tauhid, melainkan wujud simbolis adat sebagai ekspresi rasa syukur makhluk kepada Allah SWT atas segala berkah kehidupan dan kelestarian alam.

Edukasi Sejarah: Menepis Mistis, Merawat Warisan Takbenda

Menanggapi keberadaan situs-situs religi bersejarah tersebut, budayawan asal Kota Depok yang akrab disapa Romo Suling turut memberikan pandangan edukatifnya.

Pendiri Padepokan Romo Sepuh Center ini menegaskan bahwa perspektif publik terhadap makam-makam keramat di tanah air harus mulai bertransformasi ke arah yang lebih ilmiah dan substantif.

“Keberadaan makam-makam keramat jangan melulu dipandang secara sempit dari sudut mistis atau klenik saja. Kita harus melihatnya lebih mendalam sebagai sebuah artefak sejarah dan entitas Warisan Budaya Takbenda (WBTb),” ujar Romo Suling saat memberikan tanggapan budaya (17/10/2026).

Menurut Romo Suling, situs-situs seperti Makam Nyai Putri Rambut Cisadane sejatinya merupakan ‘buku sejarah terbuka’ yang merekam rekam jejak, kearifan lokal, serta bentang peradaban Nusantara.

“Di dalamnya terdapat ruang edukasi mengenai keteladanan, strategi sosial masa lalu, hingga nilai-nilai luhur para pendahulu dalam menjaga harmoni alam dan manusia. Inilah esensi kebudayaan yang sejati, yang wajib kita wariskan kepada generasi muda sebagai benteng identitas bangsa,” pungkas budayawan Depok tersebut.

Reporter: Drajat

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.