Pancasila Sakti Bukan Karena Diucapkan, Tapi Karena Rakyat Bersatu

Oleh: Taufik H Nasution, SH, MH, MH.Kes.*)

(KM) – Ada bangsa yang runtuh bukan karena diserang musuh dari luar, tetapi karena rakyatnya berhasil dibuat saling membenci dari dalam.

Ada negara yang kehilangan kekuatannya bukan karena miskin sumber daya, tetapi karena keadilan kehilangan tempat, kejujuran kehilangan harga, dan persaudaraan digadaikan demi kepentingan segelintir orang.

Di titik itulah kita perlu kembali bertanya:

Apa sebenarnya yang membuat Pancasila sakti?

Apakah karena lima silanya dihafalkan?

Apakah karena setiap tahun dibacakan dalam upacara?

Ataukah karena Pancasila hidup dalam jiwa rakyat yang berbeda-beda tetapi tetap memilih untuk bersatu?

Jawabannya ada pada kehidupan itu sendiri.

Pancasila tidak akan menjadi sakti hanya karena dicetak di atas kertas. Ia menjadi kuat ketika nilai ketuhanan melahirkan akhlak, kemanusiaan melahirkan kepedulian, persatuan melahirkan persaudaraan, kerakyatan melahirkan kebijaksanaan, dan keadilan sosial benar-benar dirasakan oleh rakyat.

Kalau nilai itu hanya menjadi hafalan, Pancasila kehilangan ruhnya.

Dalam pandangan agama, persaudaraan bukan sekadar urusan sosial. Ia adalah amanah.

Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Pesannya sederhana tetapi dalam: jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk menghancurkan persaudaraan.

Indonesia bahkan memiliki tantangan yang lebih luas. Kita tidak hanya berbeda dalam agama, tetapi juga suku, budaya, bahasa, daerah, pilihan politik dan kepentingan sosial.

Namun perbedaan itu tidak harus menjadi sumber permusuhan.

Perbedaan adalah kenyataan. Persatuan adalah pilihan.

Dan pilihan untuk bersatu itulah yang membuat Indonesia tetap berdiri.

Jangan sampai kita rajin berbicara tentang Pancasila tetapi malas menjalankan akhlaknya.

Jangan sampai seseorang begitu lantang mengucapkan persatuan, tetapi gemar menyebarkan kebencian.

Jangan sampai atas nama bangsa kita merendahkan manusia lain.

Jangan sampai atas nama agama kita menghina sesama.

Dan jangan sampai atas nama kekuasaan kita lupa bahwa jabatan hanyalah sementara.

Sebab manusia boleh memiliki jabatan, tetapi tidak pernah memiliki kehidupan untuk selamanya.

Kekuasaan ada batasnya. Kekayaan ada batasnya. Jabatan ada batasnya. Bahkan umur pun ada batasnya. Yang akan ditinggalkan hanyalah jejak amal dan perbuatan.

Karena itu, Pancasila seharusnya tidak hanya menjadi urusan negara. Ia harus menjadi cermin moral bagi siapa pun yang hidup di negeri ini.

Pejabat harus memahami bahwa kekuasaan adalah amanah.

Rakyat harus memahami bahwa kebebasan juga amanah.

Penegak hukum harus memahami bahwa hukum bukan alat untuk menakut-nakuti rakyat.

Orang kaya harus memahami bahwa kekayaan bukan alasan untuk merendahkan yang miskin.

Orang kuat harus memahami bahwa kekuatan bukan izin untuk menindas yang lemah.

Dan siapa pun yang memiliki pengaruh harus memahami bahwa setiap kata dapat menjadi jembatan persaudaraan atau justru menjadi api perpecahan.

Di situlah Pancasila diuji.

Bukan ketika semua orang sedang sepakat.

Tetapi ketika kita berbeda dan masih mampu menghormati.

Bukan ketika keadaan sedang tenang.

Tetapi ketika provokasi datang dan kita memilih menahan diri.

Bukan ketika kepentingan kita terpenuhi.

Tetapi ketika kepentingan bersama menuntut kita mengalah.

Maka jangan hanya bertanya, “Apakah Pancasila masih sakti?”

Pertanyaan yang lebih jujur adalah:

“Apakah kita masih menjalankan nilai-nilai Pancasila?”

Sebab jangan-jangan yang melemah bukan Pancasilanya.

Yang melemah adalah persaudaraan kita.

Yang retak bukan dasar negaranya.

Yang retak adalah kepercayaan kita kepada sesama.

Yang hilang bukan nilai ketuhanannya.

Yang hilang adalah akhlak manusia ketika memegang kekuasaan.

Dan yang paling berbahaya bukan perbedaan.

Yang paling berbahaya adalah ketika perbedaan dipelihara menjadi kebencian.

Maka, jika ingin membuktikan Pancasila benar-benar sakti, jangan berhenti pada seremoni.

Buktikan dengan keadilan.

Buktikan dengan kejujuran.

Buktikan dengan kepedulian.

Buktikan dengan keberanian membela yang benar tanpa membenci yang berbeda.

Buktikan dengan persatuan yang tidak palsu.

Sebab Indonesia tidak membutuhkan rakyat yang selalu berkata sama.

Indonesia membutuhkan rakyat yang berbeda tetapi tidak bermusuhan; kritis tetapi tidak menghina; religius tetapi tidak merasa paling suci; berkuasa tetapi tidak sewenang-wenang; dan bebas tetapi tetap bertanggung jawab.

Pada akhirnya, Pancasila bukan sekadar lima sila.

Ia adalah pertanyaan moral kepada setiap anak bangsa:

Ketika memiliki kekuasaan, apakah engkau akan adil?
Ketika memiliki perbedaan, apakah engkau akan menghormati?
Ketika melihat yang lemah, apakah engkau akan menolong?
Ketika memiliki kesempatan untuk menyakiti, apakah engkau mampu menahan diri?

Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak memiliki perbedaan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengubah perbedaan menjadi persaudaraan.

Dan mungkin di situlah letak kesaktian Pancasila yang sebenarnya:

Bukan karena rakyatnya sama.
Bukan karena rakyatnya selalu sepakat.
Tetapi karena rakyat yang berbeda-beda masih memilih untuk berdiri bersama.

Pancasila sakti ketika rakyat bersatu.
Dan persatuan akan sakti ketika akhlak menjadi fondasinya.

*) Penasehat hukum media Kupas Merdeka

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.