Memeluk Diri Sendiri dalam Sunyi Illa Ruhi Fil Jasadi, Ketika Jiwa Membutuhkan Allah

Foto: Aktivis Bogor, Hero Akbar

Kolom oleh: Hero Akbar /Moses

 

Ada masa ketika seseorang tidak lagi membutuhkan banyak nasihat, tidak pula mengharapkan dunia memahami seluruh luka yang disimpannya. Ia hanya ingin diam, memeluk tubuhnya sendiri, mengatur napas, lalu berbisik lirih kepada dirinya: Illa ruhi fil jasadi.

 

Sebuah ungkapan yang dapat dimaknai secara puitis sebagai percakapan batin antara jiwa dan raga, tentang seseorang yang sedang berusaha bertahan ketika dunia terasa begitu melelahkan. Namun, dalam pencarian makna spiritual, kita perlu memahami bahwa ungkapan tersebut bukanlah formula doa yang memiliki makna baku dalam ajaran Islam. Maknanya perlu direnungkan dengan hati-hati, bukan sekadar diucapkan tanpa memahami maksudnya.

 

Ada luka yang tidak terlihat oleh mata. Ada kelelahan yang tidak dapat dijelaskan melalui kata-kata. Ada pula kesedihan yang tetap tersembunyi di balik senyum, seolah-olah seseorang harus selalu tampak kuat meskipun batinnya sedang berjuang mengumpulkan sisa-sisa ketegaran.

 

Pada saat seperti itulah, memeluk diri sendiri bukan berarti menyerah kepada keadaan. Ia dapat menjadi bentuk penerimaan bahwa kita juga manusia, memiliki batas, membutuhkan ketenangan, dan berhak beristirahat dari tuntutan dunia yang tidak pernah berhenti.

 

Dalam Islam, manusia tidak diperintahkan untuk berpura-pura kuat sepanjang waktu. Kesedihan bukanlah tanda lemahnya iman. Bahkan, Al-Qur’an mengabadikan kesedihan Nabi Ya’qub ketika kehilangan putranya, Nabi Yusuf. Dalam Surah Yusuf ayat 86, Nabi Ya’qub berkata bahwa ia mengadukan kesusahan dan kesedihannya hanya kepada Allah.

 

Pesan spiritualnya begitu dalam: tidak semua luka harus dijelaskan kepada manusia, tetapi setiap kesedihan dapat menjadi jalan untuk kembali mendekat kepada Allah.

 

Ketika tidak ada bahu yang terasa cukup lapang untuk bersandar, masih ada ruang untuk bersujud. Ketika tidak ada telinga yang bersedia mendengarkan, masih ada doa yang dapat dipanjatkan. Dan ketika lisan tidak lagi sanggup menyusun kalimat, air mata pun dapat menjadi bagian dari kejujuran seorang hamba di hadapan Tuhannya.

 

Namun, mendekat kepada Allah bukan berarti kita harus menanggung semuanya sendirian. Meminta pertolongan, bercerita kepada orang yang dipercaya, dan mencari bantuan ketika beban terasa terlalu berat bukanlah bentuk kegagalan spiritual. Ikhtiar juga merupakan bagian dari perjalanan seorang hamba.

 

Barangkali, yang paling dibutuhkan seseorang pada hari-hari tertentu bukanlah jawaban atas seluruh persoalan hidupnya. Ia hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak, memeluk dirinya sendiri, dan mengingat bahwa keberadaannya tetap berharga, bahkan ketika ia merasa tidak mampu melakukan apa-apa.

 

Sebab, manusia bukan mesin yang harus terus bekerja. Hati bukan batu yang tidak boleh retak. Dan iman bukan tuntutan agar seseorang tidak pernah menangis.

 

Ada kalanya kita harus menerima bahwa hari ini kita sedang tidak baik-baik saja. Tidak perlu menyangkalnya, tidak perlu pula merasa berdosa hanya karena hati sedang diliputi kesedihan. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kesedihan membuat kita kehilangan harapan terhadap rahmat Allah.

 

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53 agar hamba-hamba-Nya tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ayat ini menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun seseorang merasa tersesat dalam gelapnya kehidupan, pintu harapan tidak semestinya ditutup oleh keputusasaan.

 

Maka, jika hari ini satu-satunya hal yang mampu dilakukan adalah memeluk tubuh sendiri, lakukanlah dengan penuh kasih. Tarik napas perlahan. Berikan ruang bagi hati untuk beristirahat. Lalu, jika mampu, berdoalah:

 

Ya Allah, ketika aku tidak mampu menjelaskan apa yang kurasakan, Engkau Maha Mengetahui isi hatiku. Ketika aku merasa lemah, kuatkanlah aku. Ketika aku kehilangan arah, tuntunlah langkahku. Dan ketika aku merasa sendirian, ingatkanlah aku bahwa rahmat-Mu tidak pernah jauh.

 

Pada akhirnya, perjalanan spiritual bukan semata-mata tentang seberapa kuat seseorang terlihat di hadapan dunia, melainkan tentang bagaimana ia tetap berusaha menemukan jalan pulang kepada Allah di tengah segala keterbatasannya.

 

Sebab, terkadang pelukan yang paling dibutuhkan bukan hanya pelukan dari orang lain, melainkan keberanian untuk menerima diri sendiri, merawat jiwa yang terluka, dan kembali berharap kepada Allah.

 

Dan jika hari ini dunia terasa terlalu bising, tidak mengapa mengambil jeda. Peluklah dirimu dengan kasih, bukan dengan kebencian. Jangan hukum dirimu hanya karena sedang lelah.

 

Semoga esok, hati yang hari ini terasa berat kembali menemukan ketenangannya. Bukan karena seluruh masalah telah selesai, melainkan karena kita belajar menjalaninya dengan iman, ikhtiar, dan harapan kepada Allah.

 

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” — QS. Al-Insyirah: 6.

 

*)- Pemimpin redaksi kupasmerdeka.com

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.