Limbah IPAL SPPG Pangauban Dikeluhkan Warga, Diduga Jadi Penyebab Air Sumur Keruh dan Berbau
BANDUNG BARAT (KM) – Limbah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Azura Berkah Rezeki di Desa Pangauban, RT 02 RW 08, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memicu keresahan warga. Pasalnya, air sumur yang sebelumnya layak digunakan kini dikeluhkan keruh dan berbau.
Keluhan disampaikan warga yang meminta identitasnya dirahasiakan saat diwawancarai awak media pada Rabu, 7 Oktober 2026. Menurutnya, perubahan kualitas air semakin terasa sejak operasional SPPG berlangsung.
“Sumur jadi keruh dan berbau. Sebelum ada MBG, air masih bisa dipakai meski musim kemarau,” ungkapnya.
Perizinan dan Dokumen Lingkungan Dipertanyakan
Warga mempertanyakan kelengkapan perizinan dan persyaratan lingkungan SPPG, meliputi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), perizinan lokasi, izin pengambilan air, serta dokumen lingkungan seperti AMDAL. Warga menegaskan tidak pernah memberikan persetujuan sejak awal pendirian.
“Tidak ada izin dari tetangga. Tidak ada sama sekali,” tegasnya.

Keterangan foto: Air limbah yang meluap ke perkampungan dan menyebabkan air sumur warga jadi keruh dan berbau diduga bersumber dari SPPG Pangauban.(Dok:KM)
Menurut warga, keberadaan SPPG menimbulkan perbedaan sikap. Mereka yang bekerja di SPPG cenderung mendukung, sedangkan warga yang tidak bekerja disebut tidak memberikan dukungan serupa.
Janji Perbaikan Dinilai Tak Direalisasikan
Warga mengaku tidak pernah dilibatkan dalam komunikasi yang memadai sejak SPPG atas nama Pak Hendrik berdiri sekitar satu tahun lalu. Keluhan telah disampaikan ke RT dan RW, namun belum ada respons yang dirasakan dari pihak kewilayahan maupun pemerintah desa/kelurahan dan kecamatan.
Warga juga mendatangi dapur SPPG untuk klarifikasi. Disebutkan ada kesepakatan perbaikan, namun setelah menunggu sekitar satu bulan, perbaikan tersebut diklaim belum terealisasi.
“Kami datang ke dapur untuk klarifikasi. Ada kesepakatan akan diperbaiki, tapi kami menunggu satu bulan tidak ada realisasi,” katanya.
Dampak Musim Kemarau dan Sorotan Transparansi
Dampak pencemaran dirasakan semakin berat saat musim kemarau. Warga menyebut limbah menyebar ke sumur dan meluap ke permukiman.
“Air hujan tidak ada, jadi limbah menyebar ke sumur dan meluap ke permukiman rumah warga. Tidak bisa dipakai mandi atau minum,” jelasnya.
Warga membantah anggapan bahwa masyarakat dapat meminta air kepada SPPG.
“Tidak ada warga yang pernah mengambil. Tidak terbukti,” pungkasnya.
Warga juga menyoroti keterbukaan informasi lowongan kerja. Menurut mereka, informasi tersebut dinilai belum terbuka bagi warga RW 08, baik yang tinggal dekat maupun jauh dari lokasi.
Reporter: Gin
Editor: Drajat
Leave a comment