Hidup Saling Caci, Saling Cerca, Saling Menghina. Kemana Hilangnya Adab dalam Bermasyarakat dan Berpolitik?

Kolom oleh . Hero Akbar /Moses

 

Hidup bermasyarakat seharusnya menjadi ruang untuk saling menghargai, menguatkan, dan membangun kebersamaan. Namun, ketika perbedaan pendapat berubah menjadi saling caci, saling cerca, dan saling menghina, kita patut bertanya: masihkah akal sehat dan adab menjadi landasan dalam kehidupan bersama?

 

Perbedaan adalah keniscayaan. Setiap orang memiliki pemikiran, kepentingan, keyakinan, dan pilihan yang tidak selalu sama. Perbedaan bukan alasan untuk saling menjatuhkan, melainkan kesempatan untuk belajar memahami sudut pandang orang lain.

 

Dalam kehidupan bermasyarakat, lisan seharusnya menjadi jembatan persaudaraan, bukan senjata untuk melukai kehormatan sesama. Kritik boleh disampaikan, ketidaksetujuan boleh diungkapkan, tetapi semuanya harus tetap berpijak pada etika, fakta, dan rasa hormat terhadap martabat manusia.

 

Hal yang sama berlaku dalam dunia politik. Politik sejatinya merupakan jalan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan panggung untuk memelihara kebencian. Perbedaan pilihan politik tidak seharusnya memutus tali silaturahmi, merusak persaudaraan, apalagi menjadikan seseorang musuh hanya karena berbeda dukungan.

 

Politik yang sehat membutuhkan kritik yang tajam, tetapi bukan hinaan yang kejam. Demokrasi membutuhkan keberanian menyampaikan kebenaran, tetapi juga kedewasaan untuk mendengarkan pendapat yang berbeda.

 

Sayangnya, ketika fanatisme mengalahkan nalar, seseorang sering kali lebih sibuk membela kelompoknya daripada mempertimbangkan kebenaran. Kesalahan pihak sendiri ditutupi, sementara kekurangan pihak lain diumbar. Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi arena permusuhan dan media sosial menjadi tempat mempertontonkan kemarahan.

 

Media Sosial: Ruang Berbagi, Bukan Arena Menghakimi

 

Media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. Setiap orang memiliki kesempatan menyampaikan pendapat, mengkritik kebijakan, mengawasi pemerintah, dan menyuarakan aspirasi. Namun, kebebasan tersebut harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab.

 

Jempol yang bergerak cepat tanpa pertimbangan dapat melukai orang lain, menyebarkan fitnah, bahkan memperkeruh hubungan sosial. Sebuah unggahan yang dibuat karena emosi bisa tersebar luas, meninggalkan jejak digital, dan menimbulkan dampak yang tidak mudah diperbaiki.

 

Karena itu, diperlukan langkah konkret untuk membangun budaya bermedia sosial yang sehat.

 

Pertama, berhenti sejenak sebelum berkomentar. Jangan langsung membalas unggahan yang memancing emosi. Baca kembali tulisan sendiri dan tanyakan: apakah komentar ini memberikan manfaat, menyampaikan fakta, atau sekadar melampiaskan kemarahan?

 

Kedua, verifikasi informasi sebelum membagikannya. Periksa sumber, tanggal, konteks, dan keaslian foto atau video. Jangan ikut menyebarkan tuduhan yang belum terbukti hanya karena sesuai dengan kepentingan atau pilihan politik kita.

 

Ketiga, kritik gagasan dan kebijakan, bukan martabat pribadi. Jika tidak setuju dengan seorang pejabat, sampaikan letak kesalahan kebijakannya beserta data dan argumentasi. Hindari penghinaan fisik, keluarga, kehidupan pribadi, maupun serangan yang tidak berkaitan dengan persoalan.

 

Keempat, hentikan kebiasaan memperpanjang pertengkaran digital. Jika diskusi berubah menjadi makian, pilih untuk tidak melanjutkannya. Gunakan fitur blokir, bisukan, atau laporkan apabila terdapat pelecehan, ancaman, maupun konten yang melanggar aturan platform. Mengakhiri perdebatan yang tidak sehat bukan berarti kalah, melainkan bentuk pengendalian diri.

 

Kelima, berani mengoreksi dan meminta maaf. Jika terlanjur menyebarkan informasi keliru atau menulis komentar yang menghina, hapus atau koreksi unggahan tersebut secara terbuka. Jangan mempertahankan kesalahan hanya demi menjaga gengsi.

 

Keenam, jadikan media sosial sebagai ruang edukasi dan pengawasan publik. Bagikan informasi yang bermanfaat, dukung diskusi berbasis data, hargai perbedaan pendapat, dan gunakan platform digital untuk mengawasi pelayanan publik serta kebijakan pemerintah secara kritis dan bertanggung jawab.

 

Keluarga, sekolah, komunitas, organisasi masyarakat, partai politik, dan pengelola media juga memiliki peran penting. Pendidikan etika digital perlu dibiasakan, bukan sekadar disampaikan ketika konflik sudah terjadi. Tokoh masyarakat dan elite politik harus memberi teladan dengan menghindari provokasi serta tidak memanfaatkan kebencian untuk menggalang dukungan.

 

Demokrasi Membutuhkan Kedewasaan

 

Kita perlu menyadari bahwa membela pilihan bukan berarti membenarkan segala tindakan, dan mengkritik lawan bukan berarti kehilangan kewajiban untuk menghormatinya. Kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa keras seseorang berteriak, melainkan oleh fakta, argumentasi, dan tanggung jawab atas perkataannya.

 

Masyarakat yang dewasa bukanlah masyarakat tanpa perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Begitu pula pemimpin yang bijaksana bukanlah mereka yang hanya dikelilingi oleh orang-orang yang sepemikiran, melainkan mereka yang bersedia mendengar kritik dan menghargai suara yang berbeda.

 

Karena itu, mari kita mulai dari diri sendiri. Berpikir sebelum berbicara, memeriksa sebelum menyebarkan informasi, mengkritik tanpa merendahkan, serta mengakui kesalahan tanpa merasa kehilangan harga diri.

 

Jangan sampai kita begitu bersemangat memenangkan perdebatan, tetapi kehilangan persaudaraan. Jangan sampai kita merasa paling benar, tetapi lupa memperbaiki diri. Sebab, kemenangan dalam pertengkaran tidak selalu berarti kemenangan dalam kebijaksanaan.

 

Penutup: Pulihkan Adab, Rawat Persaudaraan

 

Pada akhirnya, kehidupan bermasyarakat dan berpolitik bukan tentang siapa yang paling keras mencaci, paling tajam menghina, atau paling lihai menjatuhkan lawan. Kehidupan yang bermartabat adalah tentang siapa yang mampu menjaga akal sehat, menjunjung etika, dan tetap menghormati sesama di tengah perbedaan.

 

Mari bangun budaya kritik yang mendidik, politik yang beradab, dan masyarakat yang saling menghargai. Awasi kekuasaan tanpa kebencian, perjuangkan kebenaran tanpa fitnah, dan bela prinsip tanpa merendahkan manusia.

 

Mulailah dari tindakan sederhana: jangan sebarkan sebelum memeriksa, jangan komentari saat dikuasai emosi, jangan menghina hanya karena berbeda, dan jangan diam ketika ruang publik dipenuhi kebencian. Gantikan caci maki dengan argumentasi, provokasi dengan edukasi, serta permusuhan dengan dialog yang bermartabat.

 

Sebab, kita boleh berbeda pilihan, berbeda pandangan, bahkan berbeda jalan perjuangan. Namun, jangan biarkan perbedaan merampas kemanusiaan kita.

 

Berbeda bukan berarti bermusuhan. Mengkritik bukan berarti membenci. Dan menjadi lawan dalam politik tidak pernah menghapus kewajiban untuk tetap menjadi saudara dalam kehidupan.

 

*)- Pendiri media kupas merdeka

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.