Alhamdulillah Kita Masih Hidup, Tapi Para Pejabat Jangan Lupa untuk Apa Mereka Dihidupkan
Kolom oleh: Hero Akbar //Moses
Setiap pagi, seorang Muslim dianjurkan membaca:
“Alhamdulillahil-ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin-nusyur.”
Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kami akan kembali.
Kalimat ini pendek. Tetapi bagi mereka yang memegang kekuasaan, maknanya seharusnya menjadi tamparan keras bagi hati dan kesadaran.
Sebab seorang pejabat bukan hanya manusia yang diberi kursi.
Ia diberi amanah.
Dan amanah bukan sekadar kata yang indah ketika kampanye, pelantikan, atau pidato.
Amanah adalah sesuatu yang kelak akan ditanyakan.
Masih diberi hidup, tetapi apakah digunakan untuk melayani?
Setiap pagi pejabat bangun dari tidurnya.
Ia masih bernapas.
Masih diberi kesehatan.
Masih diberi keluarga.
Masih diberi jabatan.
Masih diberi kewenangan untuk mengambil keputusan yang bisa menentukan nasib banyak orang.
Maka semestinya kalimat Alhamdulillah tidak berhenti di bibir.
Sebab kalau seorang pejabat mengucapkan syukur kepada Allah, tetapi pada saat yang sama menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri, kelompok, keluarga, atau lingkarannya sendiri, maka ada sesuatu yang harus dipertanyakan dari makna syukurnya.
Apa yang sebenarnya disyukuri?
Jabatannya?
Fasilitasnya?
Kekuasaannya?
Atau kesempatan untuk berbuat baik kepada masyarakat?
Di sinilah persoalannya.
Kita sering melihat jabatan diperlakukan seperti hak milik pribadi, padahal jabatan hanyalah titipan yang memiliki batas waktu.
Hari ini seseorang dipanggil “Yang Terhormat”.
Besok bisa saja tidak ada lagi yang memanggilnya demikian.
Hari ini dikawal.
Besok mungkin berjalan sendiri.
Hari ini duduk di kursi empuk.
Besok kursi itu ditempati orang lain.
Tetapi ada satu tempat yang tidak mengenal pergantian pejabat:
pengadilan Allah SWT.
Jangan merasa rakyat bodoh
Yang lebih berbahaya adalah ketika kekuasaan membuat seorang pejabat merasa dirinya lebih tinggi daripada rakyat.
Rakyat dianggap hanya angka dalam statistik.
Kemiskinan menjadi tabel.
Pengangguran menjadi data.
Keluhan masyarakat menjadi suara bising yang mengganggu kenyamanan kekuasaan.
Padahal di balik angka itu ada manusia.
Ada ibu yang bingung membayar kebutuhan rumah tangga.
Ada ayah yang kehilangan pekerjaan.
Ada anak yang menunggu pendidikan yang layak.
Ada masyarakat yang antre mendapatkan pelayanan.
Ada warga yang haknya mungkin tertunda hanya karena sistem yang buruk atau keputusan yang tidak berpihak.
Mereka bukan angka. Mereka manusia.
Dan setiap air mata rakyat yang lahir akibat ketidakadilan, jangan dianggap tidak ada nilainya di hadapan Allah.
Jabatan bisa membuat manusia lupa mati
Ironisnya, manusia sering mengejar jabatan seolah-olah akan hidup selamanya.
Saling sikut.
Saling menjatuhkan.
Membangun citra.
Mengumpulkan pengaruh.
Memelihara kelompok.
Memikirkan bagaimana tetap berkuasa.
Tetapi lupa satu hal:
jabatan tidak ikut masuk ke liang kubur.
Lambang jabatan tidak ikut dikuburkan.
Mobil dinas tidak ikut menemani.
Pengawal tidak ikut masuk.
Popularitas berhenti.
Kekuasaan berhenti.
Yang tersisa hanyalah manusia dengan amalnya.
Karena itu, kalimat “wa ilaihin-nusyur” — kepada-Nya kita akan kembali seharusnya menjadi alarm paling keras bagi setiap pejabat.
Jangan hanya takut kepada hukum negara
Pejabat memang wajib takut kepada hukum.
Tetapi seorang Muslim seharusnya memiliki ketakutan yang lebih tinggi:
takut kepada Allah.
Sebab hukum manusia memiliki keterbatasan.
Ada perkara yang tidak terbongkar.
Ada perbuatan yang tidak tertangkap kamera.
Ada transaksi yang tidak diketahui publik.
Ada keputusan yang mungkin tidak pernah masuk berita.
Ada permainan kekuasaan yang mungkin luput dari penegak hukum.
Tetapi tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah.
Kalau hukum dunia tidak menemukan bukti, bukan berarti Allah tidak mengetahui.
Kalau manusia tidak melihat, bukan berarti Allah tidak melihat.
Kalau jabatan membuat seseorang merasa aman dari kritik dan pertanggungjawaban, ingatlah:
kematian tidak membutuhkan surat izin dari pejabat.
Pejabat yang baik tidak takut dikritik
Kritik bukan musuh pemerintahan.
Kritik adalah cermin.
Pejabat yang benar-benar bekerja untuk rakyat seharusnya tidak alergi terhadap kritik.
Yang harus ditakuti bukan kritik.
Yang harus ditakuti adalah ketika kritik benar tetapi sengaja diabaikan.
Sebab pers menjadi penting ketika kekuasaan mulai terlalu nyaman dengan pujian.
Masyarakat menjadi penting ketika kebijakan mulai jauh dari kenyataan.
Dan kritik menjadi penting ketika tidak ada lagi yang berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah.
Jangan gunakan kekuasaan untuk membungkam suara yang tidak disukai.
Gunakan kekuasaan untuk memperbaiki sesuatu yang memang perlu diperbaiki.
Alhamdulillah bukan tiket untuk merasa suci
Ada pejabat yang rajin berbicara tentang agama.
Rajin mengucapkan syukur.
Rajin hadir dalam kegiatan keagamaan.
Itu semua baik.
Tetapi ukuran kesalehan seorang pemimpin tidak berhenti pada simbol.
Kesalehan harus terlihat dalam keadilan.
Kalau rakyat kecil dipersulit sementara orang dekat dipermudah, ada masalah.
Kalau pelayanan publik buruk tetapi pejabat hidup nyaman, ada masalah.
Kalau anggaran publik diperlakukan seperti ruang untuk kepentingan kelompok, ada masalah.
Kalau kritik rakyat dianggap ancaman, ada masalah.
Kalau jabatan lebih dicintai daripada amanah, ada masalah.
Sebab agama bukan hanya tentang bagaimana seseorang berbicara kepada Allah.
Agama juga tentang bagaimana ia memperlakukan manusia yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Wahai para pejabat, nikmatilah jabatan secukupnya
Tidak ada larangan menikmati fasilitas yang memang menjadi hak sesuai aturan.
Tetapi jangan sampai fasilitas membuat hati kehilangan rasa malu.
Jangan sampai kursi kekuasaan membuat telinga tuli terhadap jeritan rakyat.
Jangan sampai tanda tangan seorang pejabat menjadi lebih mahal daripada penderitaan masyarakat.
Jangan sampai kepentingan segelintir orang mengalahkan kepentingan jutaan manusia.
Dan jangan sampai ketika mengucapkan:
“Alhamdulillahil-ladzi ahyana…”
kita lupa bahwa kalimat itu segera ditutup dengan:
“wa ilaihin-nusyur.”
Kepada-Nya kita akan kembali.
Itulah kalimat yang sering dilupakan oleh manusia ketika sedang berada di puncak kekuasaan.
Hari ini kita hidup.
Besok belum tentu.
Hari ini kita berkuasa.
Besok belum tentu.
Hari ini kita dipuji.
Besok belum tentu.
Tetapi satu hal pasti:
kita akan kembali kepada Allah.
Maka sebelum rakyat menilai, tanyakan kepada diri sendiri.
Sebelum KPK, polisi, jaksa, auditor, media, atau lembaga pengawas bertanya, tanyakan kepada hati sendiri.
Sebelum mempertanggungjawabkan jabatan di hadapan manusia, persiapkan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Karena pada akhirnya, bukan berapa lama seseorang duduk di kursi kekuasaan yang akan menjadi ukuran.
Tetapi berapa banyak kebaikan yang lahir dari kekuasaan itu.
Dan bukan seberapa megah seorang pejabat dikenang.
Melainkan seberapa sedikit rakyat yang dizaliminya dan seberapa banyak manusia yang merasakan manfaat dari amanahnya.
Alhamdulillah kita masih hidup.
Pertanyaannya sekarang:
Untuk apa Allah masih memberi kita hidup?
Bagi pejabat, jawabannya seharusnya sederhana:
bukan untuk menikmati kekuasaan, tetapi untuk menunaikan amanah sebelum akhirnya kembali kepada-Nya.
*) Pendiri Media Kupas Merdeka
Leave a comment